Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Jadikan KAA Momentum Wujudkan Perdamaian Dunia

21-04-2015 | 10:10 WIB

Oleh: Adiansyah*

KILAS Balik Konferensi Asia Afrika (KAA) menuju perdamaian dunia. Sebelum perang dunia II, negara-negara dunia ketiga yang berada di kawasan benua Asia dan Afrika umumnya adalah daerah jajahan. Namun setelah berakhirnya perang dunia II pada Agustus 1945, negara-negara dunia ketiga menjadi bangkit dan semakin meningkatkan perjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan timbulnya konflik dan pergolakan di berbagai tempat seperti konflik di Semenanjung Korea, Vietnam, Palestina, Yaman, Daratan China, Afrika, Indonesia dan lainnya.

Harapan Rakyat dan Gelombang Aksi Demo

15-04-2015 | 11:11 WIB

Oleh: Bahrul, SE*

PERALIHAN kepemimpinan nasional dari Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi)  pada 20 Oktober 2014 lalu, membuka gerbang harapan  seluruh masyarakat Indonesia untuk Indonesia yang lebih baik. Masyarakat berharap Presiden Jokowi dapat memberikan perubahan yang lebih baik, dalam segala  bidang, terutama masalah ekonomi bagi rakyat agar pemerintah dapat meningkatkannya.

Negara Melawan Narkoba

14-04-2015 | 10:10 WIB

Oleh: Adiansyah*

BELUM dilakukannya eksekusi terhadap 10 terpidana mati narkoba gelombang kedua oleh pemerintah, menjadi perhatian dan pertanyaan dari masyarakat luas. Apakah karena ada kepentingan politik atau  karena adanya intervensi asing yang mengakibatkan pemerintahan Jokowi "enggan secepatnya" mengeksekusi.  Alasan menunggu  putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) untuk terpidana mati Mary Jane Viesta Veloso (Philipina) Martin Anderson (Ghana) dan Serge Arezki Atlaoui dari Perancis merupakan sikap bijak pemerintah dalam mewujudkan hak mereka meminta keadilan.   Namun demikian, kalau menunggu PK diputuskan maka akan "memakan" waktu yang cukup lama, sementara publik menunggu pemerintah menetapkan jadwal yang pasti.

Pancasila Sebagai Paradigma Reformasi

10-04-2015 | 10:48 WIB

Oleh: Herni Susanti

PERAN Pancasila dalam era reformasi harus nampak sebagai paradigm ketatanegaraan, artinya Pancasila menjadi kerangka pikir atau pola pikir bangsa Indonesia, khususnya sebagai Dasar Negara. Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini berarti bahwa setiap gerak langkah bangsa dan negara Indonesia haru selalu dilandasi oleh sila-sila yang terdapat dalam Pancasila. Sebagai negara hukum setiap perbuatan, baik dari warga masyarakat, maupun dari pejabat-pejabat dan jabatan-jabatan harus berdasarkan hukum yang jelas. Jadi hukum yang dibentuk tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Kompetensi Menjadi Pengasuh Anak

07-04-2015 | 12:10 WIB

Oleh: Oom Komalasari
 
BAGAIMANA mencetak generasi penerus yang mampu berkompetisi dan terhindar dari gerakan kejahatan. Apalagi, saat ini sedang marak anak remaja berbuat kriminal, membegal, menantang bahaya kebut-kebutan di jalan.
 

Memaknai Fungsi Organisasi Pemuda

06-04-2015 | 11:05 WIB

Oleh Her Itnasus
 
SEJARAH kepemudaan tidak cukup dengan menghapalkan berdirinya organisasi Budi Oetomo, Taman Siswa dan Sumpah Pemuda. Namun, harus juga paham sejarah berdirinya KNPI sebagai wadah tunggal untuk berhimpunnya pemuda NKRI. Kita boleh bangga dengan apa yang disumbangkan oleh kaum muda pada masanya masing-masing. Mereka adalah pahlawan dan harus diakui, karena pemuda yang besar adalah pemuda yang pintar bercermin dari sejarah pendahulunya. Kaum muda memiliki karakter yakni sebagai pelapis generasi pewaris dan pelanjut kelangsungan hidup masyarakat.

Perang Modern Melawan Narkoba

03-04-2015 | 11:31 WIB

Oleh Herni Susanti

BNN (Badan Narkotika Nasional) telah mencatat, bahwa Batam adalah salah satu pintu masuk terbesar narkoba ke Indonesia. Karena banyaknya akses masuk narkoba dari luar negeri ke Pulau Batam. Maka, untuk menghadapi peredaran narkoba yang semakin massif itu, pemerintahan Indonesia telah memberikan suatu gerakan yang serius dalam memberantas peredaran narkoba. 

Membaca Pola Propaganda ISIS

02-04-2015 | 10:47 WIB

Oleh: Miswatun Sundari*

SEBANYAK 16 warga Indonesia dinyatakan hilang di Istanbul, Turki saat melakukan tour. Rombongan yang menggunakan jasa biro perjalanan ini berangkat dari Jakarta pada 24 Februari 2015. 16 WNI tersebut berjanji kembali bergabung pada 26 Februari 2015 di Kota Pamukkale, Turki. Namun, hingga tanggal yang dijanjikan, tidak kunjung datang.