Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Hantavirus Berbeda dengan Covid-19, Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Oleh : Redaksi
Sabtu | 13-06-2026 | 14:28 WIB
Minsarnawati.jpg Honda-Batam
Spesialis Ahli Epidemiologi sekaligus Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minsarnawati. (Kemenag)

BATAMTODAY.COM, Ciputat - Kemunculan Hantavirus yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Sebagian warga bahkan mempertanyakan kemungkinan virus tersebut berkembang menjadi pandemi seperti COVID-19.

Menanggapi hal itu, Spesialis Ahli Epidemiologi sekaligus Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minsarnawati, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa perlu merasa panik.

Menurutnya, karakteristik penularan Hantavirus berbeda secara mendasar dengan COVID-19 sehingga peluang penyebarannya secara luas jauh lebih kecil. "Hantavirus tidak menular langsung dari manusia ke manusia seperti COVID-19. Penularannya terjadi melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut yang terinfeksi," kata Minsarnawati di Ciputat, Sabtu (13/6/2026).

Ia menjelaskan, Hantavirus umumnya menular ketika seseorang terpapar urin, air liur, kotoran, atau debu yang telah terkontaminasi oleh tikus maupun hewan pengerat lainnya. Karena berasal dari hewan dan menular ke manusia, penyakit ini masuk dalam kategori zoonosis.

Berbeda dengan virus Corona yang dapat menyebar melalui percikan saluran pernapasan antarindividu, penularan Hantavirus masih bergantung pada keberadaan hewan pembawa virus tersebut.

Menurut Minsarnawati, kekhawatiran masyarakat terhadap munculnya virus baru tidak terlepas dari pengalaman panjang menghadapi pandemi COVID-19. Trauma akibat pandemi membuat berbagai informasi mengenai penyakit menular baru kerap memicu kecemasan berlebihan.

Padahal, setiap virus memiliki karakteristik penularan, tingkat risiko, dan dampak kesehatan yang berbeda.

Data Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus Hantavirus telah ditemukan di berbagai wilayah dunia, termasuk Amerika, Asia, Eropa, dan Afrika. Indonesia sendiri pernah melaporkan kasus Hantavirus, namun jenis yang ditemukan berbeda dengan varian yang memiliki tingkat kematian tinggi di kawasan Amerika.

Secara klinis, Hantavirus terbagi menjadi dua kelompok utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu jenis yang menyerang ginjal dan banyak ditemukan di Asia serta Eropa. Jenis inilah yang pernah terdeteksi di Indonesia.

Sementara itu, kelompok kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan lebih banyak ditemukan di wilayah Amerika. Dibandingkan HFRS, HPS diketahui memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi.

Minsarnawati juga menyinggung pemberitaan mengenai seorang warga negara Indonesia yang sempat berada dalam satu kapal pesiar bersama penumpang yang terkonfirmasi Hantavirus. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa warga Indonesia tersebut tidak terinfeksi.

Ia menambahkan, tingkat kerentanan seseorang terhadap infeksi tidak hanya ditentukan oleh paparan virus, tetapi juga kondisi daya tahan tubuh. Dalam epidemiologi, kondisi tersebut dikenal sebagai susceptible host atau kerentanan individu terhadap penyakit.

Menurutnya, seseorang yang terpapar sumber infeksi belum tentu langsung sakit karena sistem imun setiap individu berbeda. Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar Hantavirus antara lain petugas kebersihan, pengelola sampah, petani, serta petugas laboratorium hewan yang sering berinteraksi dengan hewan pengerat atau lingkungan yang berpotensi terkontaminasi.

Karena itu, langkah pencegahan menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko penularan. Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area yang kotor, serta menyimpan makanan dengan baik agar tidak mengundang tikus masuk ke dalam rumah.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga dianjurkan meningkatkan daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, mencukupi waktu istirahat, dan menghindari kebiasaan begadang.

Apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, lemas, mual, diare, atau memiliki riwayat kontak dengan tikus maupun area yang berpotensi terkontaminasi, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Minsarnawati menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap penyakit menular tetap penting di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial. Namun, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh spekulasi yang belum terverifikasi. "Menjaga kebersihan diri dan lingkungan tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif dalam menghadapi berbagai ancaman penyakit menular," ujarnya.

Editor: Gokli