Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

YAICI Dorong SOP Pemulihan Gizi Anak Pasca Bencana untuk Cegah Malnutrisi dan Stunting
Oleh : Redaksi
Rabu | 10-06-2026 | 10:48 WIB
pemulihan-gizi-anak.jpg Honda-Batam
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, YAICI telah menyalurkan bantuan sekaligus melakukan edukasi kepada 375 keluarga di sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama sejumlah mitra mendorong penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pemulihan gizi anak pasca bencana sebagai langkah strategis untuk mencegah malnutrisi dan stunting di wilayah terdampak.

Upaya tersebut dilatarbelakangi masih tingginya risiko gangguan gizi pada balita selama masa pemulihan pasca bencana, ketika akses terhadap pangan bergizi dan layanan kesehatan mulai terbatas seiring berkurangnya bantuan kemanusiaan.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, YAICI telah menyalurkan bantuan sekaligus melakukan edukasi kepada 375 keluarga di sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program tersebut menjangkau daerah-daerah yang relatif terisolasi, seperti Desa Batang Ara, Pematang Durian, dan Desa Serba.

Dalam laporan publik pelaksanaan program yang disampaikan pada Selasa (9/6/2026), Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistria, mengungkapkan berbagai temuan di lapangan yang menunjukkan pentingnya intervensi gizi bagi kelompok rentan, khususnya anak-anak.

Menurutnya, keterbatasan akses bantuan di beberapa wilayah membuat sejumlah anak bawah tiga tahun terpaksa mengonsumsi air tajin sebagai pengganti susu. Selain itu, banyak anak mengalami trauma psikologis setelah bencana yang berdampak pada pola makan dan kondisi kesehatan mereka.

"Anak-anak merupakan kelompok paling rentan, tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi juga pada masa pemulihan ketika bantuan mulai berkurang," ujar Satria.

Melalui program tersebut, YAICI bersama para mitra menerapkan pendekatan pemulihan yang komprehensif. Kegiatan yang dilakukan meliputi trauma healing, distribusi mainan untuk mendukung pemulihan psikososial anak, diskusi kelompok bersama ibu-ibu, hingga edukasi literasi gizi keluarga.

Program kemanusiaan ini turut diperkuat oleh keterlibatan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah melalui jaringan kader di berbagai daerah terdampak bencana. Para kader melakukan pendataan secara langsung dari rumah ke rumah, posko pengungsian, hingga hunian sementara guna mengidentifikasi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang membutuhkan intervensi gizi.

Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa, menjelaskan bahwa edukasi gizi dilakukan secara intensif di berbagai lokasi, termasuk mushala, sekolah, dan area perkebunan sawit yang minim fasilitas.

Dalam kegiatan tersebut, para kader memperkenalkan konsep gizi seimbang melalui program “Isi Piringku”, membagikan pangan lokal bernutrisi seperti telur rebus dan bubur kacang hijau, serta mengajarkan cara menyiapkan susu pertumbuhan yang tepat bagi anak.

"Edukasi ini penting untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula yang masih banyak dikonsumsi anak-anak di pengungsian," katanya.

Sementara itu, perwakilan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah, Rahmawati Husein, menilai keberhasilan pemulihan gizi anak sangat bergantung pada penanganan sejak masa tanggap darurat. Ia menekankan perlunya SOP yang jelas terkait penyediaan pangan darurat serta pengelolaan data kelompok rentan sejak awal bencana.

Rahmawati juga mendorong pemanfaatan pangan lokal dan pelibatan perempuan dalam pengelolaan dapur balita sehat agar program pemulihan gizi dapat berjalan secara berkelanjutan. Selain itu, pengembangan kebun pangan darurat di sekitar hunian sementara dinilai dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan makanan bergizi secara mandiri.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan. Menurutnya, fase pemulihan pasca bencana merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan perhatian khusus karena sering kali dihadapkan pada berkurangnya jumlah relawan dan melemahnya koordinasi antarlembaga.

Ia mengakui bahwa pada masa tanggap darurat, fokus bantuan kemanusiaan umumnya masih berkisar pada distribusi logistik dasar sehingga kebutuhan gizi spesifik bagi kelompok rentan belum sepenuhnya terpenuhi. "Karena itu, kami mengapresiasi langkah YAICI yang secara konsisten mengingatkan pentingnya integrasi aspek gizi dalam penanganan bencana," ujarnya.

MDMC juga mendorong penyusunan SOP lintas lembaga serta standarisasi dapur umum yang mampu memenuhi kebutuhan gizi kelompok berbeda, seperti balita, lansia, dan orang dewasa.

Di sisi lain, proses pemulihan masyarakat terdampak bencana semakin menantang akibat kerusakan lahan perkebunan kelapa sawit yang menjadi sumber penghidupan utama warga. Kondisi tersebut menyebabkan pemulihan ekonomi berjalan lambat dan berdampak pada kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi.

Sebagai tindak lanjut, YAICI bersama para mitra telah merangkum seluruh hasil riset dan pembelajaran lapangan dari tiga wilayah terdampak bencana untuk disampaikan kepada kementerian dan lembaga pemerintah sebagai rekomendasi kebijakan nasional.

Satria menegaskan bahwa pemenuhan pangan bergizi dan akses air bersih merupakan hak dasar setiap anak yang harus dijamin negara. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah segera menyusun regulasi yang mengatur pemulihan gizi anak pasca bencana secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.

"Sudah saatnya Indonesia memiliki SOP pemulihan gizi anak pasca bencana yang baku agar hak tumbuh kembang anak tetap terlindungi meskipun berada dalam situasi darurat," pungkasnya.

Editor: Gokli