Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kasus Campak Turun 93 Persen, Kemenkes Tetap Waspadai Penularan dan Kematian
Oleh : Redaksi
Selasa | 31-03-2026 | 11:28 WIB
campak-turun.jpg Honda-Batam
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni. (Kemenkes)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) melaporkan penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia. Hingga pekan ke-12 tahun 2026, kasus harian turun 93 persen, dari 2.220 kasus pada awal Januari menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni, menyatakan tren penurunan terjadi secara konsisten di berbagai wilayah yang sebelumnya mengalami lonjakan kasus. "Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami peningkatan kasus pada akhir 2025 hingga awal 2026," ujar Andi dalam jumpa pers daring.

Ia juga menanggapi kekhawatiran publik terkait validitas data selama periode libur Lebaran. Menurutnya, sistem surveilans tetap berjalan optimal melalui metode New All Record (NAR) dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang terintegrasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan dan diverifikasi oleh dinas kesehatan daerah.

"Pengawasan dilakukan secara real-time dan diverifikasi silang, sehingga data tetap akurat meski dalam periode libur," jelasnya.

Meski tren kasus menurun, Kemenkes mencatat 10 kasus kematian akibat campak sepanjang 2026. Salah satu kasus menimpa seorang dokter internsip berinisial AMW (25) di Kabupaten Cianjur yang meninggal dunia pada 26 Maret 2026 akibat komplikasi pada jantung dan otak.

Kasus tersebut diduga bermula saat korban menangani pasien campak pada 8 Maret. Meski mengalami demam sejak 18 Maret, korban tetap bertugas hingga kondisinya memburuk dengan munculnya ruam dan penurunan kesadaran. Ia sempat dirawat di ICU RS Cimacan sebelum akhirnya meninggal dunia. Hasil uji laboratorium di Biofarma mengonfirmasi infeksi campak.

Secara nasional, sekitar 8 persen kasus campak terjadi pada kelompok usia dewasa. Kemenkes menilai faktor penyakit penyerta (komorbid) dan tingginya paparan menjadi pemicu meningkatnya risiko keparahan pada kelompok ini.

Sebagai langkah antisipatif, pemerintah tengah mempercepat analisis uji klinis vaksin untuk memperluas cakupan imunisasi campak pada kelompok dewasa, khususnya tenaga kesehatan. "Menanggapi kasus dokter internsip, kami berkomitmen memberikan vaksinasi campak bagi seluruh peserta program internsip. Kami juga mewajibkan fasilitas kesehatan memastikan ketersediaan alat pelindung diri serta pengaturan beban kerja dan waktu istirahat tenaga kesehatan," tegas Andi.

Ia mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan guna mencegah penularan. "Jika muncul gejala sekecil apa pun, segera melapor, beristirahat, dan tidak memaksakan diri untuk tetap bertugas," ujarnya.

Kemenkes turut mengimbau masyarakat dan tenaga kesehatan yang belum mendapatkan vaksinasi agar segera melengkapi imunisasi sebagai upaya memutus rantai penularan campak di Indonesia.

Editor: Gokli


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php54/root/usr/lib64/php/modules/xsl.so' - /lib64/libxslt.so.1: symbol xmlGenericErrorContext, version LIBXML2_2.4.30 not defined in file libxml2.so.2 with link time reference

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: