Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Catatan Sarasehan Internasional Sempena 100 Tahun Ponpes Gontor
Oleh : Redaksi
Minggu | 21-06-2026 | 14:08 WIB
Sarehan_100_Tahun_Gontor.jpg Honda-Batam
Suasana Sarasehan 100 Tahun Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh Ustadz Maulana)

DI TENGAH hiruk-pikuk perhelatan skala nasional dan internasional yang biasanya dihiasi deretan papan bunga dari para simpatisan, suasana Sarasehan Nasional Kiai Pesantren Ashriyah dan Muballigh Alumni Gontor di Pondok Modern Darussalam Gontor justru terasa sangat berbeda. Keheningan dekorasi itu justru menjadi "suara" paling nyaring yang menyapa seluruh peserta, termasuk saya yang hadir sebagai santri alumni Pesantren Al-Amien Prenduan—yang notabene adalah "cucu" Gontor.

Sejak memasuki area pondok, saya dan para peserta lain disambut oleh pemandangan yang janggal namun menyejukkan. Tidak ada satu pun rangkaian papan bunga berukuran raksasa dari para menteri, gubernur, atau tokoh nasional yang biasanya memenuhi halaman acara serupa.

Sebagai anak Al-Amien Prenduan, saya memang sudah akrab dengan budaya kesederhanaan yang diajarkan oleh para pendiri. Namun, menyaksikan langsung acara sebesar ini, yang dihadiri pejabat setingkat Wakil Menteri Agama, Wakil Ketua MPR, dan tokoh senior lintas generasi, benar-benar tanpa satupun papan bunga, sungguh menggetarkan hati.

Seorang panitia yang sempat saya temui di sela-sela registrasi, dengan senyum tipis, berkata, "Ini bukan kelalaian, mas. Ini perintah. Kami sengaja tidak menerima dan tidak memasang papan bunga. Pesan Pimpinan Gontor tegas: kita merayakan ilmu dan silaturahim, bukan merayakan nama besar dan jabatan."

Fenomena ini menjadi pengingat konkret atas nasihat yang disampaikan langsung oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, pada sesi pembukaan, Sabtu (20/6/2026). Dengan lantang, beliau mengingatkan seluruh kiai dan alumni agar tidak takalluf, memaksakan hal-hal yang tidak penting hanya demi gengsi.

"Kiai harus ikhlas apa adanya. Jangan terlalu takalluf. Takalluf adalah memaksakan yang tidak penting. Kiai harus Lillah, karena Lillah itu tinggi," tegas beliau.

Dalam kesempatan yang sama, beliau juga mengisahkan transformasi Gontor dari kawasan yang dikenal dengan citra negatif menjadi pusat pendidikan pesantren modern di Indonesia, seraya menegaskan bahwa peringatan seabad Gontor bukanlah perayaan, melainkan peringatan agar tidak lupa terhadap nikmat Allah dan terus menjaga amanah.

Kendati mengusung kesederhanaan dalam bentuk fisik, acara yang berlangsung Jumat-Minggu (19-22/6) ini tetap memiliki bobot materi yang sangat berat. Dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Agama RI, Dr. K.H. Romo R. Muhammad Syafi'i, S.H., M.Hum., dan Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, M.A., acara ini juga dihadiri oleh tokoh senior seperti Abu Bakar Ba'asyir.

Dalam sambutannya, Wamenag menegaskan bahwa Gontor tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga dakwah dan pemberdayaan.

"Sudah banyak alumni Gontor yang berdaya. Ke depan kita berharap Gontor bisa membangun peradaban Indonesia dan dunia. Gontor tidak hanya untuk Indonesia tetapi sudah harus mendunia," ujarnya.

Senada, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyebut pesantren dan negara memiliki hubungan yang tidak terpisahkan, dan mengapresiasi Gontor yang terus tumbuh menjawab tantangan zaman.

Memasuki sesi inti bertajuk "Membedah Peta Jalan Pesantren untuk Masa Depan Bangsa", Dr. K.H. Zulkifli Muhadli, S.H., M.M., selaku Ketua Umum FPAG, memaparkan tiga potensi besar Pesantren Ashriyah di abad kedua.

Pertama, pendidikan holistik dan berimbang yang telah mempraktikkan apa yang dicari-cari dunia pendidikan modern.

Kedua, modal awal berdirinya perguruan tinggi pesantren yang terbukti dengan lahirnya 32 perguruan tinggi dari ekosistem Gontor. Ketiga, kemampuannya melahirkan tiga pilar peradaban sekaligus, yaitu Ulul Amri (pemimpin), Ulul Albab (cendekiawan), dan Ulul Amwal (wiraswastawan). "Apa yang dicari-cari dunia pendidikan modern, telah dipraktikkan pesantren berabad-abad," tegas Zulkifli.

Sesi ini juga menghadirkan pembicara lain seperti K.H. Mahfudz Hudlori, Dr. Ahmad Suharto, dan Dr. Anang Rikza Masyhadi yang membahas dampak pendidikan, nilai-nilai pondok bersistem modern, serta regulasi terkait pesantren ashriyah. Puncak dari sesi Sabtu adalah penayangan video testimoni para pimpinan pesantren dan deklarasi Asosiasi Pesantren Ashriyah.

Memasuki hari Minggu (21/6/2026), rangkaian acara akan difokuskan pada Sosialisasi dan Deklarasi Konsorsium Perguruan Tinggi Pesantren yang diinisiasi oleh Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. Sesi ini akan diisi oleh para rektor dari UNIDA Gontor, Universitas Cordova, UNIA Prenduan, Universitas Darunnajah, dan lainnya, serta diskusi tentang "Universitas Berbasis Wakaf: Pengelolaan dan Pengembangan Institusi" yang menegaskan bahwa sumber pembiayaan peradaban ini harus bersifat abadi.

Esok harinya, Senin (22/6/2026), acara akan ditutup dengan penyerahan Piagam Silsilah Nasab Trimurti dan pesan nasihat dari para kiai sepuh, mengokohkan bahwa gerakan ini berakar pada sanad spiritual dan keikhlasan.

"Hari ini orang tua sudah sangat sulit mengendalikan miliu anak. Untung ada pesantren," pesan K.H. Hasan Abdullah Sahal mengingatkan. "Pesantren harus firru ilallah—kesemuanya harus kembali pada Allah, sandarannya hanya untuk Allah, tujuannya adalah Allah dan akan kembali pada Allah."

Sebagai alumni Al-Amien Prenduan yang merasakan langsung atmosfer pertemuan bersejarah ini, saya pulang dengan satu pelajaran berharga: Peradaban besar tidak dibangun dari papan bunga dan gengsi, melainkan dari keikhlasan, kesederhanaan, dan tekad untuk kembali kepada Allah.

Peringatan 100 tahun Gontor yang sejati bukanlah tentang gemerlap panggung, tetapi tentang bagaimana warisan Trimurti tetap hidup dalam setiap langkah santri dan kiai—di mana pun mereka berada.*

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan dan peserta Sarasehan Nasional Kiai Pesantren Ashriyah dan Muballigh Alumni Gontor Ponorogo.


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php54/root/usr/lib64/php/modules/xsl.so' - /lib64/libxslt.so.1: symbol xmlGenericErrorContext, version LIBXML2_2.4.30 not defined in file libxml2.so.2 with link time reference

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: