Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

ESAI AKHIR ZAMAN MUCHID ALBINTANI

Hidayah Akhir Zaman
Oleh : DR Muchid Albintani
Selasa | 01-12-2020 | 14:04 WIB
A-HANG-MUCHID9.png Honda-Batam
DR Muchid Albintani. (Foto: Ist)

Oleh DR Muchid Albintani

BENARKAH prasa Ramatan Lil Alamin terdapat paradoks dengan realitas akhir zaman? Realitas berpancang kecirian pendekatan nubuwah (eskatologi) dengan hikmah keberadaan Islam sebagai “pedoman hidup” yang menjadi berkah bagi seluruh alam. Inilah esensi Rahmatan Lil Alamin.

Pada konteks keberkahan (rahmat) dimulai sehingga ke akhir zaman. Pada hubungan ini pula esai akhir zaman berupaya mengungkai-ringkas ihwal hubungan Rahmatan Lil Alamin dengan akhir zaman.

Hubungan berpijak pada berita perkembangan terbaru di Inggris yang disinyalir hampir 50 persen lebih penduduknya menuju ke arah agnotis-ateis (agnotis, dimaknai orang yang percaya tuhan, namun tidak mengakui syariatnya), sementara (ateis, orang yang tidak mempercayai keberadaan tuhan).

Temuan fundamentalnya berkisar pada bahwa pembelahan yang tidak dualistik lagi antara komunisme dan kapitalisme. Ini disebabkan keduanya berpusat pada ateisme (paham yang meniadakan, tidak mengakui keberadaan tuhan).

Konteks perubahan cara berpikir dalam memahami misi Qurani yang semula manusia imparsial (komprehensif) menjadi parsial. Contoh sederhana tafsir kafir dan beriman menjadi titik tolak asimetris (antiseden) antara rahmat (keberkahan) dengan akhir zaman.

Tesisnya adalah: "Semakin Rahmatan Lil Alamin, maka semakin jauh (belum akan berakhir zaman) kiamat. Begitu pula sebaliknya, semakin tidak berkah (Rahmat), maka semakin dekat dengan akhir (berakhirnya zaman)".

BACA JUGA: Revolusi Akhlaq vs 'Operasi Gatot'

Realitas berkembang pesatnya kebudayaan materialistik yang memproduksi paham ateis-agnotis-syirik, akan berhadap-hadapan (vis a vis) dengan kebudayaan tauhid-monoteis.
Oleh karena itu, terlupakan, terbiarkan dan kealfaan terhadap "kebenaran Rahmatan Lil Alamin" menurut hemat penulis, dilatari oleh cara berpikir yang bersumber minimal dari tiga hal utama.

Pertama, cara pandang internal muslim. Pemahaman muslim (orang Islam) yang menganggap bahwa Alquran seolah-olah bukan kitab untuk umat manusia. Cara pandang Alquran hanya milik orang beriman merupakan 'kealfaan yang pertama'. Padahal banyak panggilan Alquran yang ditujukan kepada orang-orang beriman, kafir (musyrik) dan bahkan kaum munafiqin.

Kedua, cara pandang orang kafir. Cara pandang “orang kafir” selama ini yang terkesan sangat subjektif. Bahkan dalam sebuah negara mayoritas berpenduduk muslim (beragama Islam), ketika kata kafir banyak terdapat dalam Alquran justru dihadapkan secara asimetris (berlawanan).

Idealnya ketika Alquran disamakan sebagai kitab umat manusia, bagi manusia yang berpikir tentu yang mengemuka adalah pertanyaan: mengapa Alquran menggunakan kata kafir, bukan non muslim? Mengapa selain kafir, Alquran juga menyebut orang-orang munafiq? Pertanyaan ini mengemuka dalam konteks retoris bagi siapa saja yang menghendaki jawaban.

Uniqnya (untuk tidak mengatakan lucunya), pertanyaan ini justru muncul-mencuat dari internal muslim. Dampaknya tentu saja istilah kafir menjadi menakutkan. Hemat penulis, munculnya ketakutan yang berlebihan oleh karena cara penyampaian (komunikasi) dari si pengklaim pemilik Alquran kepada non muslim yang justru belum menggunakan pendekatan Qurani.

Ketiga, mengintegrasikan sebuah paradoks. Upaya membuktikan atau minimal mengeksprimentasikan tesis sebelumanya (semakin rahmat, maka kiamat semakin jauh) adalah dengan mengintergasikan cara pendang parsial menjadi imparsial (terbelah menjadi menyatu, terintegrasi dan padu). Upaya ini paling arif untuk membuktikan keberkahan tersebut.

Menurut hemat penulis, penyadaran bahwa Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin wajib dimulai dari internal muslim yang adalah bagian dari keberkahan (kerahmatan) tersebut. Ini bersandarkan sumber Qurani jika klasifikasi klas manusia hanya ada dua: orang beriman (muslim) dan orang kafir (non muslim).

Dalam konteks inilah yang tak [belum] banyak disadari jika Alquran adalah kitabnya umat manusia, baik bagi orang yang beriman atau pun kafir. Konteks ke-manusia-an yang dimiliki, hemat penulis amat sangat adil. Keadilan wujud disebabkan menjadi manusia beriman dan atau kafir, bukan disandarkan pada keberadaan warna kulit, kekayaan materi atau yang lainnya.

Manusia beriman atau tidak, bersandarkan pada pengakuan ihwal ke-tauhid-an kepada Allah Swt dan kerasulan Muhammad sebagai rasul-nabi akhir zaman yang diidentifikasi melalui istilah bersyahadat.

Selanjutnya, pada konteks ke-beriman-an atau kafir juga mengalami sirkulasi yang adil. Ini disebabkan, ke-iman-an dan ke-kufur-an bersirkulasi. Manusia yang telah beriman berpotensi menjadi murtad [kafir], sebaliknya manusia yang kafir sangat berpotensi menjadi beriman.

Dalam konteks dinamika sirkulasi inilah munculnya istilah hidayah yang tidak datang dengan sendirinya. Hidayah perlu diusahakan untuk menjemputnya. Dalam konteks akhir zaman untuk menjemput hidayah, kata kafir adalah anugerah bagi non muslim.

Sebaliknya, ujian bagi muslim. Variabel hidayah inilah jawaban pertanyaan sebelumnya jika prasa Ramatan Lil Alamin memiliki hubungan signifikan antara keberkahan dengan akhir zaman. Esensinya keberkahan tidak berbanding lurus dengan akhir zaman (kiamat). Benarkah?

Wallahualam bissawab. *

Muchid Albintani adalah Associate Professor pada Program Studi Magister Ilmu Politik, Program Pascasarjana, FISIP, Universitas Riau, Pekanbaru.