Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

IKI Juni 2025 Capai 51,84, Sektor Industri Nasional Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global
Oleh : Redaksi
Rabu | 02-07-2025 | 11:28 WIB
Jubir-Kemenperin5.jpg Honda-Batam
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif. (Foto: Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Indonesia pada Juni 2025 tercatat sebesar 51,84, masih menunjukkan fase ekspansi meskipun mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya (Mei 2025: 52,11) dan periode yang sama tahun lalu (Juni 2024: 52,50). Angka ini menjadi indikasi ketahanan sektor manufaktur nasional di tengah ketidakpastian global dan tekanan di pasar domestik.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan penurunan IKI kali ini dipengaruhi oleh melemahnya variabel produksi yang turun ke 46,64, meski di sisi lain variabel pesanan naik cukup signifikan ke angka 54,21.

"Hal ini mencerminkan kehati-hatian pelaku industri dalam merespons peningkatan permintaan dengan mengandalkan stok yang sudah tersedia," ujar Febri dalam keterangan resminya, Senin (30/6/2025).

Febri menambahkan, meski terdapat perlambatan, 18 dari 23 subsektor manufaktur masih berada di zona ekspansi, dan subsektor tersebut menyumbang 92,2 persen terhadap PDB industri nonmigas pada triwulan I-2025. "Jadi, industri manufaktur kita tetap ekspansif karena sektor-sektor utama penopang PDB masih tumbuh," jelasnya.

Tiga subsektor dengan kinerja IKI terbaik di Juni 2025 adalah Industri Alat Angkutan Lainnya (KBLI 30), Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12), dan Industri Bahan Kimia serta Barang dari Bahan Kimia (KBLI 20). Namun demikian, meski subsektor tembakau masih berada dalam fase ekspansi, variabel produksinya mengalami kontraksi.

"Kontraksi produksi tembakau dipengaruhi oleh kebijakan cukai yang tinggi, maraknya rokok ilegal, wacana penerapan plain packaging, serta kekhawatiran dampak konflik di Timur Tengah terhadap logistik," ungkap Febri.

Lima Subsektor Mengalami Kontraksi

Febri mengungkapkan bahwa lima subsektor mengalami tekanan pada bulan Juni, yaitu:

  • Industri Kulit, Barang dari Kulit, dan Alas Kaki (KBLI 15)
  • Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik (KBLI 26)
  • Industri Peralatan Listrik (KBLI 27)
  • Industri Mesin dan Perlengkapan YTDL (KBLI 28)
  • Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan (KBLI 33)

"Subsektor alas kaki mengalami kontraksi karena permintaan ekspor turun tajam, dari USD 809,14 juta (Maret) menjadi USD 634,88 juta (April) atau turun 21,54%. Penurunan juga terjadi di pasar utama seperti Amerika Serikat," tutur Febri.

Meski begitu, subsektor alas kaki mencatatkan lonjakan investasi dari Rp 2,29 triliun menjadi Rp 7,03 triliun di triwulan I-2025, dengan utilisasi produksi masih tergolong tinggi.

Sementara itu, subsektor peralatan listrik, komputer, dan mesin juga tertekan oleh melambatnya permintaan dalam dan luar negeri, penumpukan stok, serta gangguan logistik global.

Febri juga menyoroti dampak relaksasi impor produk jadi yang turut menekan utilisasi industri dalam negeri. Beberapa industri bahkan menghadapi penutupan dan potensi PHK, terutama pada delapan kelompok industri utama seperti elektronik, alas kaki, kosmetik, dan pakaian jadi.

"Kami mendukung kebijakan pengendalian dan pembatasan impor, termasuk revisi Permendag, agar pesanan terhadap produk dalam negeri meningkat. Ini langkah penting menjaga ketahanan industri nasional," tegas Febri.

Ia menyebutkan kontraksi pesanan pada industri tekstil dan pakaian jadi di Juni 2025 memperkuat argumen tersebut. "Relaksasi impor sebelumnya terbukti menekan permintaan domestik. Revisi kebijakan ini diharapkan menjadi stimulus bagi kebangkitan subsektor tersebut," ujarnya.

Febri menyampaikan IKI untuk sektor industri berorientasi ekspor turun ke 52,19, dan untuk sektor domestik ke 51,32. Penurunan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok global dan harga energi, termasuk gas industri.

"Lonjakan harga gas dan biaya logistik akibat konflik Iran-Israel menjadi perhatian serius karena sebagian besar industri kita sangat tergantung pada energi," imbuhnya.

Kendati demikian, mayoritas pelaku industri tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek usaha enam bulan ke depan, dengan tingkat keyakinan mencapai 65,8 persen, meski lebih rendah dibanding November 2024 (73,4 persen). "Sebanyak 32,1 persen pelaku menyatakan kondisi usaha membaik pada Juni, naik dari 28,9 persen di bulan sebelumnya. Hanya 22,8 persen yang melaporkan penurunan, lebih rendah dibanding Mei (25,7 persen)," jelas Febri.

Secara keseluruhan, meskipun menghadapi tantangan eksternal dan tekanan kebijakan domestik, sektor industri Indonesia masih menunjukkan daya tahan. Langkah korektif pemerintah melalui pengendalian impor dan dorongan terhadap belanja infrastruktur dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan ekspansi industri nasional.

Editor: Gokli