Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia Dorong Rumput Laut Jadi Komoditas Unggulan Dunia dalam Forum PBB di Prancis
Oleh : Redaksi
Selasa | 17-06-2025 | 14:28 WIB
delegasi-RI1.jpg Honda-Batam
Delegasi Indonesia mendorong rumput laut sebagai komoditas unggulan dunia pada The Third United Nations Ocean Conference/UNOC) yang digelar pada 9-13 Juni 2025 di Nice, Prancis. (Foto: KKP)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memanfaatkan momentum Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-3 (The Third United Nations Ocean Conference/UNOC) yang digelar pada 9-13 Juni 2025 di Nice, Prancis, untuk memperkuat posisi rumput laut sebagai komoditas unggulan nasional di tingkat global.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, menyampaikan Indonesia saat ini menyumbang sekitar 38% dari total pasokan rumput laut dunia. Ia menekankan bahwa potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, terutama karena sebagian besar budidaya masih dilakukan oleh pembudidaya skala kecil dengan metode tradisional.

"Rumput laut Indonesia merupakan produk unggulan yang sangat potensial, namun sebagian besar pembudidayanya masih mengandalkan teknik konvensional. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk dikembangkan," ujar Tb Haeru Rahayu, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (15/6/2025).

Dalam rangkaian forum UNOC, Indonesia turut ambil bagian dalam sesi diskusi bertajuk 'Advancing Blue Industry for Sustainable Development' yang digelar oleh United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

Selain itu, Indonesia menjajaki kerja sama internasional melalui pertemuan bilateral dengan UN Task Force on Seaweed (UNTFS), yang fokus pada pengembangan komoditas rumput laut secara berkelanjutan.

Tb Haeru menambahkan bahwa rumput laut memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi biru Indonesia. "Rumput laut tidak hanya menopang penghidupan masyarakat pesisir, tetapi juga berfungsi sebagai solusi ketahanan pangan, mitigasi perubahan iklim, dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan," jelasnya.

Menurut proyeksi Future Market Insights, nilai pasar global rumput laut diperkirakan mencapai USD 9,4 miliar pada 2025, dan melonjak menjadi USD 23,9 miliar pada 2035, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 9,8 persen.

Meski demikian, dari total potensi lahan budidaya rumput laut di Indonesia, baru sekitar 11,65% yang dimanfaatkan. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, KKP telah menerapkan sejumlah strategi, antara lain pembangunan modeling budidaya di daerah seperti Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Rote Ndao (NTT), dan Maluku Tenggara. Di samping itu, revitalisasi kampung budidaya serta pengembangan bibit unggul melalui kultur jaringan juga menjadi prioritas.

"Pada 2024, produksi rumput laut Indonesia tercatat sebesar 10,80 juta ton, naik 10,82% dari tahun sebelumnya. Produksi ini didominasi oleh jenis Kappaphycus alvarezii, disusul Gracilaria spp. dan Eucheuma spinosum," kata Tebe, sapaan akrab Tb Haeru.

Guna mendukung ekspor dan ketahanan pangan nasional, KKP menetapkan empat pilar utama strategi pengembangan rumput laut, yaitu penguatan modeling budidaya, revitalisasi sentra produksi, pengembangan laboratorium kultur jaringan, serta peningkatan produksi jenis cottonii di wilayah Indonesia timur.

Peluang Kolaborasi Internasional

Selain strategi nasional, Indonesia juga melihat pentingnya kerja sama global dalam mengembangkan jenis rumput laut baru. Kerja sama dengan UNTFS dinilai strategis untuk menjajaki inovasi produk dan membentuk Southeast Asia Seaweed Innovation Hub --pusat inovasi rumput laut Asia Tenggara yang dapat menjadi wadah pertukaran pengetahuan, pelatihan, hingga pelaksanaan proyek percontohan.

"Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin pengembangan rumput laut baru, tidak hanya dari sisi biodiversitas, tetapi juga luasnya garis pantai. Melalui forum internasional ini, kita dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama rumput laut dunia," ujar Tebe.

Lebih jauh, Indonesia juga siap berkontribusi dalam penyusunan standar global untuk komoditas rumput laut. "Kami mendorong adopsi Pedoman UNTFS tentang praktik budidaya berkelanjutan, termasuk aspek biosekuriti dan jaminan mutu, guna mendukung daya saing ekspor kita," tambahnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya juga menegaskan bahwa pengembangan rumput laut adalah agenda masa depan yang penting. "Rumput laut bukan hanya sumber pangan alternatif dan bahan baku industri biofarmasi serta kosmetik. Komoditas ini bahkan berpotensi menggantikan plastik dan menjadi penyerap karbon alami," tegasnya.

Keikutsertaan Indonesia dalam UNOC ke-3 ini menegaskan keseriusan pemerintah dalam mendorong transformasi ekonomi biru dan menjadikan rumput laut sebagai bagian dari solusi global atas tantangan iklim dan pangan.

Editor: Gokli


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php54/root/usr/lib64/php/modules/xsl.so' - /lib64/libxslt.so.1: symbol xmlGenericErrorContext, version LIBXML2_2.4.30 not defined in file libxml2.so.2 with link time reference

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: