PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bisnis Unconventional Energy CBM Masih Prospektif
Oleh : CR-1
Sabtu | 14-09-2019 | 14:28 WIB
energy-cbm.jpg honda-batam
Pertemuan delegasi pelaku usaha dan pejabat provinsi Jincheng Tiongkok dengan jajaran Kementerian ESDM Indonesia di Gedung DEN (Dewan Energi nasional) Jakarta Selatan, 22 Agustus 2019. (Foto: Ist)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Perusahaan pertambangan swasta nasional tetap yakin, bahwa ke depannya unconventional energy terutama Coal Bed Methane (CBM) sebagai bisnis batubara yang ekonomis.

Selain, CBM merupakan energi masa depan menggantikan batubara yang semakin tereksploitasi secara uncontrolable. “Sekarang ini, CBM tidak menarik dibanding block conventional. Tapi kami tidak menyerah dan yakin pengembangan CBM di Indonesia menjadi bisnis prospektif,” Henny dari Sugico dalam rilisnya kepada BATAMTODAY.COM.

Untuk merealisasikan energi masa depan, terutama CBM tentunya butuh kesabaran dan ketekunan. Sugico masih mengeksplorasi beberapa wilayah kerja (WK) pertambangan di Sumatera Selatan.
“Kami berencana mengadopsi teknologi dari berbagai negara yang sudah berhasil mengembangkan CBM. Mungkin, China terutama provinsi Jincheng salah satu (acuan pengembangan dan kerjasama),” kata Henny.

CBM yakni gas yang terperangkap pada batubara, yang sebagian besarnya berupa gas metana. Dalam klasifikasi energi, CBM termasuk unconventional energy (peringkat 3), bersama-sama dengan tight sand gas, devonian shale gas, dan gas hydrate. High quality gas (peringkat 1) dan low quality gas (peringkat 2) dianggap sebagai conventional gas. “(eksplorasi CBM) memang harus murah. China berhasil karena cost murah. Terbukti, mereka mempunya block CBM yang sustainable, sukses dibanding negara lain,” tegas Henny.

Sementara itu, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) menilai bahwa unconventional energy termasuk CBM tetap menjadi prioritas pengembangan energi alternatif ke depannya. “CBM juga ramah lingkungan. Pak Jokowi (Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo) akan mengaktifkan terus unconventional energy termasuk CBM,” Panca Wahyudi dari Lemigas mengatakan kepada Redaksi.

Data tahun 2016 menyebutkan, tercatat ada 54 WK pertambangan dengan status kontrak berjalan. Dari 54 WK tersebut, hanya satu yang sudah mencapai tahap Plan of Development (PoD), yakni NuEnergy. “(operasional) Sugico berhenti. Sebelumnya, Sugico sudah sampai proses dewatering sumur. Permasalahan di lapangan, tidak ada contractor service dealing yang paham mengenai CBM. Artinya, biaya operasional harus murah, ekonomis,” tegas Panca.

Kendatipun demikian, upaya pengeboran sumur yang dilakukan Sugico sudah sangat luar biasa. Harga untuk pengeboran diperkirakan mencapai 350 – 500 ribu US Dolar. Hal yang mendasar, CBM masih kurang menarik untuk kegiatan investasi sector migas.

Di sisi lain, Sugico memiliki drilling rig untuk pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah. Sehingga Sugico tidak terlalu beresiko untuk mengeluarkan biaya 350 – 500 ribu US Dolar untuk pengeboran. “Kontraktor lain mengacu pada cost recovery, PSD (production sharing contract), sudah mengestimasi biaya pengeboran yang relative tinggi. Kecuali dia punya drilling rig sendiri, tidak sewa,” tegas Panca.

Cekungan batubara terbesar berada di Sumatera Selatan (Sumsel) yakni kecamatan Pendopo (Kabupaten Empat Lawang), Kabupaten Musi Banyuasin, Palembang. Cekungan kedua terbesar yakni Barito (Kalimantan Tengah) dan Kutai (Kalimantan Timur) serta Sumatera bagian tengah. Keseluruhan ada empat cekungan batubara yang potensial.

“Kontraktor konsentrasi (eksplorasi) di Sumsel. Kandungan gas Sumsel memang lebih bagus daripada Kalimantan. Setiap cekungan Sumsel terdiri dari lima coal seam (lapisan), dengan ketebalan maksimal sampai seribu meter. Sementara yang lain, coal seam hanya 300 – 500 meter,” kata Panca.

Di tempat berbeda, Komar Hutasoit dari Ditjen Migas Kementerian ESDM juga optimis dengan bisnis CBM ke depannya di Indonesia. Berdasarkan hasil joint study untuk CBM, kemampuan produksi untuk setiap sumur sekitar 0,35 mmscfd. Hitung-hitungannya, untuk menghasilkan 200 mmscfd CBM, perlu sekitar 570 sumur. “Perhitungannya; 200.000.000 dibagi 350.000 yakni 570 (sumur),” kata Komar Hutasoit.

Berdasarkan Laporan SKK Migas, masalah yang sering ditemukan pada saat eksplorasi CBM yakni masalah internal perusahaan itu sendiri. Selain finansial, ada juga masalah portofolio perusahaan. Sementara masalah keteknisan yakni penggunaan drilling rig yang suitable untuk eksplorasi CBM ternyata belum tersedia.

Sebagian besar perusahaan kontraktor menggunakan rig untuk pertambangan umum. “Tapi saya perlu cari informasi lagi mengenai ketentuan penggunaan rig, sampai sejauh mana pengaturannya oleh SKK Migas,” kata Komar.

Kendala lain yakni masalah perizinan dari Kementerian terkait, yakni Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Perizinan dari Kementerian LHK sering memakan waktu yang lama, bahkan tidak ada. “Kementerian LHK sering tidak menyetujui, otomatis izin tidak terbit,” kata Komar.

Editor: Dardani