Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

KKN Mahasiswa STIE Pembangunan Diperlombakan ke Tingkat Nasional
Oleh : Harjo
Selasa | 06-12-2016 | 17:04 WIB
pengolahanlimbahikan.jpg Honda-Batam

Para mahasiswa sedang mengelola limbah ikan ini dijadikan silase dengan menghasilkan produk. (Foto: Ist)

 

BATAMTODAY.COM, Tanjunguban - Kelompok II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan Tanjungpinang meluncurkan 5 program inti dan pendukung desa dalam Pembelajaran Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (P2EM) di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan dari 2 November-4 Desember 2016.

 

Program inti yang diluncurkan oleh 23 mahasiswa, 7 pria dan 16 wanita itu, yaitu berbagai sosialisasi. Mulai dari sosialisasi kewirausahaan, pemasaran, laporan keuangan, pratikum pengembangan produksi kerupuk atom dan pengolahan limbah ikan menjadi pupuk tanaman, pakan ikan dan peternakan.

Kemudian, program pendukungnya yaitu gotong royong, bazar ekonomi kreatif, jalan santai serta senam sehat. Bahkan untuk menyemarakkannya mereka membuat acara penandaan cap tangan dari masyarakat serta mahasiswa. Kemudian juga disediakan doorprize seperti rice cooker, dispenser, dan berbagai peralatan keperluan rumah tangga lainnya.

Ketua Kelompok II KKN STIE Pembangunan, Ahda Prastomo mengatakan, KKN yang kelompoknya laksanakan di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang berlangsung selama satu bulan. Dari jadwal itu, untuk masa pendekatan dengan masyarakat setempat menelan waktu tiga hari dan selanjutnya barulah dijalankan berbagai program inti dan pendukungnya.

"Sejumlah program yang kita cetuskan mulai dilakukan sejak 30 November. Sedangkan puncak pelaksanaannya dijalankan selama dua hari dari 2-4 Desember 2016," ujarnya ketika dikonfirmasi, Selasa (6/12/2016).

Dari sederetan program inti dan pendukung yang dicetuskan, hanya satu yang menjadi program utama atau unggulan bagi kelompoknya. Yaitu program pratikum pengolahan limbah berbahan ikan. Bahkan program memberdayakan limbah ikan untuk diolah menjadi sesuatu yang bernilai seperti ini telah menjadi inovasi pertama di desa bagian pesisir tersebut.

"Tim telaah akedemisi juga mengakui program kami ini sebagai inovasi baru. Sehingga menjadi salah satu program yang masuk nominasi di Kepri dan akan dibawa untuk diperlombakan ke tingkat nasional," katanya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok Kelompok II KKN STIE Pembangunan, Muqtafin mengatakan, respon masyarakat setempat khususnya ibu-ibu sangat antusias dengan program yang dicetuskan mahasiswanya. Sebab program pengembangan produksi kerupuk atom dan pengolahan limbah itu memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta mampu meningkatan kesejahteraan hidup bagi mereka.

"Karena program mereka menjadi sebuah inovasi baru maka banyak ibu-Ibu yang ikut serta mendukungnya. Bahkan program itu akan dibawa oleh pihak akedemisi untuk ikut berlomba di kancah nasional," sebutnya.

Persoalan dalam produksi kerupuk atom berbahan dasar ikan di kawasan ini, diakuinya, sudah biasa bahkan cukup dikenal. Bahkan sebagian besar warga telah memaksimalkan produksi kerupuk atom sebagai industri rumah tangga sebab permintaan yang datang dari negeri jiran kian bertambah banyak setiap waktunya.

Namun dengan melejitnya industri rumah tangga yang produksi kerupuk atom berbahan dasar ikan, Kata dia, tak satupun tercetus untuk memanfaatkan limbah ikan tersebut. Sebab bagian ikan yang diambil untuk kerupuk hanya bagian dagingnya saja. Sedangkan limbahnya seperti kepala, tulang dan isi perutnya (jeroan) dibuang. Jadi dengan alasan itulah mahasiswa KKN menggagas inovasi baru dalam mengelola limbah ikan menjadi silase guna pupuk, pakan ikan dan pakan ternak.

"Ibu-ibu di sini jagonya produksi kerupuk atom dari ikan. Bahkan permintaan kerupuk capai 10 ton perbulannya. Tapi limbahnya dibuang tanpa dimanfaatkan. Maka dari itulah timbul sebuah gagasan baru dari mahasiswa untuk berdayakan limbah ikan. Sebab selain memiliki nilai ekonomis, limbah ikan juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar," katanya.

Sementara itu, nara sumber yang ahli dibidang pengelolaan limbah ikan, Made Suhanda mengatakan akan memberikan ilmu pengetahuan serta tata cara dalam mengelola limbah ikan dengan silase kepada masyarakat setempat.

"Masayarakat disini mayoritasnya sebagai nelayan. Mereka harus tau bagaimana mengelola limbah ikan ini dijadikan silase dengan menghasilkan produk intermedit," jelasnya.

Dengan silase limbah ikan menjadi produk intermedit itu, Kata dia, dapat dikembangkan menjadi pupuk, pakan ikan dan pakan ternak. Prosesnyapun tidak sulit, hanya menggunakan prinsip fermentasi. Limbah hasil perikanan baik itu berkadar padat maupun cair dapat dimanfaatkan dengan dicampur menggunakan asam yang bertujuan menghindari pertumbuhan bakteri pembusuk dan mengoptimalkan proses fermentasi.

Sementara silase itu sendiri harus diproses menjadi tepung silase dengan menambahkan penetral yaitu soda abu dan tambahan filler. Tujuannya mengoptimalkan proses pengeringan dan penggilingan menjadi bubuk atau tepung silase. Setelah semuanya dicampur, barulah disimpan kurang lebih selama sepekan.

"Semoga dengan ini semua dapat memberikan pengetahuan dan pembelajaran dibidang ekonomi serta kewirausahaan. Harapan kita kedepannya dengan silase ini juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat," ungkap dosen Universitas Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang tersebut.

Editor: Dardani