Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bayi Versa, Kejang-kejang dan Tewas Usai Disuntik Perawat RSUD Batam
Oleh : kli/dd
Jum'at | 25-01-2013 | 15:40 WIB
RSUD-Embung-Fatimah.gif Honda-Batam
RSUD Embung Fatimah.

BATAM, batamtoday - Bayi Versa Rama Indah yang baru berumur sembilan minggu, tewas setelah disuntik obat oleh perawat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, Batam. Sebelum tewas, Versa sempat mengalami kejang-kejang dan merintih kesakitan.


Di rumah duka, keluarga korban nampak sangat berduka dan masig berlinang air mata, terlebih kedua orang tuanya, Jekki Lubis (28) dan Primawar boru Nababan (30) warga Kavling Seroja, Dapur 12 Sagulung, Jumat (25/1/2013).

Jekki kepada wartawan menuturkan, putri bungsunya itu tewas di RSUD Embung Fatimah Batam pada Rabu (23/1/2013), sekitar pukul 23.30 WIB. Sebelumnya, Versa dibawa berobat ke rumah sakit tersebut pada Senin (21/1/2013) sekitar pukul 09.00 WIB, karena sempat mengalami demam dan hampir step.

Awalnya, Versa dibawa oleh ibu dan neneknya, L Purba, untuk berobat ke tempat seorang mantri bernama Zainal yang berada tak jauh dari kediamannya. Namun setelah mengetahui keluhan orang tua Versa, akhirnya dianjurkan untuk membawa berobat ke RSUD Embung Fatimah Batam.

Tiba di RSUD Embung Fatimah, sekitar pukul 10.00 WIB, oleh petugas medis darah Versa pun diambil untuk diperiksa di laboratorium. Tapi, karena lama belum dilakukan pemeriksaan, darah yang diambil pertama itu sempat membeku.

"Darah anak saya diambil lagi untuk yang kedua kalinya, alasan perawat di UGD darah yang pertama beku, jadi harus diambil lagi untuk yang kedua kalinya," kata Primawar dengan suara serak.

Setelah selesai pemeriksaan darah, Versa disarankan untuk menjalani perawatan inap. Sebab, hasil pemeriksaan darahnya diketahui leukosit tinggi.

"Putri ibu harus dirawat inap, karena hasil labnya diketahui leukusitnya tinggi," tutur Primar menirukan kata perawat medis di bagian UGD.

Menjalani perawan inap di gedung IRNA lantai tiga, kedua orang tua Versa dan keluarganya berusaha mengetahui apa sebenarnya penyakit yang diderita putrinya tersebut. Akan tetapi, dokter spesialis anak di rumah sakit tersebut bernama Jamar mengatakan Versa mengalami infeksi namun belum diketahui kepastiannya.

Berharap mendapatkan kesembuhan, Versa pun menjalani perawatan. Tapi, keluhan kedua orang tua Versa melihat kondisi anaknya hanya masalah penyakit flu dan bantuk. Sebab, hidung Versa terus tersumbat dan sesekali mengeluarkan cairan dan juga terkadang muntah.

Keluhan itu, kata Jekki tidak direspons oleh dokter maupun petugas medis.

"Saya berulang kali minta sama dokter maupun perawat supaya putri saya diberikan obat flu atau sejenisnya. Karena pengaruh flu itu, hidung Versa terus tersumbat. Malah mereka memberikan oksigen saja," katanya.

Oksigen untuk membantu pernafasan Versa juga tidak terlalu membantu, karena dia terus mengalami sesak. Sampai akhirnya oksigen itu dilepas sesuai dengan permintaan orang tuanya.

Sejak Senin malam hingga pada Rabu sekitar pukul 15.00 WIB, kondisi Versa di RSUD Embung Fatimah belum ada perubahan. Hanya saja, sifat cengengnya tidak lagi tampak dan kondisinya tenang.

"Rabu, pukul 15.00 WIB, kami sempat mengadakan kebaktian kecil, pendeta datang untuk mendoakan kesembuhan Versa. Dan saat itu masih tenang, dan tak rewel," tambah Primawar.

Setelah selesai kebaktian, sekitar pukul 17.00 WIB, kata Tiur saudara Jekki, dua orang perawat menggunakan kerudung merah masuk. Salah satu dari perawat itu menyuntikkan cairan ke tubuh Versa.

"Begitu cairan dalam suntik itu dimasukkan ke infus Versa oleh perawat, tiba-tiba Versa langsung menangis kencang. Perawat itu tetap maksa supaya cairan dalam suntik itu habis. Setelah itu Versa pun langsung kejang-kejang," kenang Tiur dan langsung menangis.

Tak mau terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Versa, Jekki meminta perawat untuk menghubungi dokter Jamar. Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan, bahkan keluarga Versa yang sudah khawatir itu pun diceramahi oleh perawat tersebut.

"Dokternya tak belum bisa dipanggil, anak bapak belum kritis dan belum membiru. Tunggu sampai membiru dulu," kata kedua perawat itu yang ditirukan oleh Jekki.

Kondisi Versa pun semakin kritis, Jekki juga mendesak supaya dokter Jamar segera dipanggil. Saat itu, dokter muda yang bertugas jaga langsung memanggil tiga orang dokter untuk melihat kondisi Versa.

Tak diketahui apa yang dilakukan ketiga dokter itu, namun kondisi Versa terus memburuk. Menurut Jekki, Versa sempat ditelanjangi dan dibawa dekat jendela supaya kena angin.

"Sekitar pukul 23.00 WIB, dokter Jamar datang lalu menyarakan supaya Versa dirontgen. Padahal, dari awal sudah kami minta untuk dirontgen, tapi alasannya selalu tunggu dulu. Kenapa setelah kondisi Versa kritis baru dirontgen," kesalnya lagi.

Tak menunggu berapa lama, Versa dibawa ke ruang rontgen tanpa seorang pendamping dari pihak keluarga. Sementara Jekki pergi untuk membeli obat sesuai resep dokter Jamar.

"Kami tak diperbolehkan ikut lihat rontgen itu. Kata dokter yang akan dirontgen di bagian perun Versa," tambah Tiur.

Belum tahu hasil rogen, Versa pun dibawa kembali ke ruang inap. Tak berselang lama setelah Jekki datang membawa obat, Versa pun ditemukan sudah meninggal.

"Saya bingung, awalnya hasil rontgen belum keluar karena masih dikirim ke Awal Bross. Selain itu, yang dirogen bagian perutnya tapi yang mereka bilang anak saya infeksi otak. Pokoknya semua serba aneh lah yang kami alami di rumah sakit tersebut," ungkap Jekki lagi.

Direktur RSUD Embung Fatimah Batam, drg Fadilah RD Malarangan dikonfirmasi mengatakan akan segera ditindak lanjuti. Semua pihak medis yang turut melakukan penanganan akan dipanggil dan dikroscek oleh Komite Etik.

"Saya belum bisa berikan keterangan, masih perlu dikroscek. Ini sudah menyangkut etik medis," jelasnya.

Fadilah yang didampingi dua komite Etik RSUD Embung Fatimah Batam, mengatakan akan segera ditindaklanjuti. Orang tua korban dan pihak medis akan diroscek sesuai dengan standar prosedur rumah sakit.

"Informasi ini segera saya tindak lanjuti, dan akan dibahas dalam bedah kasus. Selain itu laporan audit dokternya juga akan saya minta dan juga akan menemui kedua orang tua korban," papar Antonius Sianturi selaku ketua Sub Komite Etik.