Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Wamendiktisaintek Dorong Kampus Jadi Solusi Tantangan Bonus Demografi Indonesia
Oleh : Redaksi
Senin | 08-06-2026 | 13:35 WIB
Fauzan1.jpg Honda-Batam
Wamendiktisaintek Fauzan, saat menghadiri Dies Natalis ke-51 Universitas PGRI Madiun (Unipma), Sabtu (6/6/2026). (Kemdiktisaintek)

BATAMTODAY.COM, Madiun - Indonesia saat ini tengah berada pada fase bonus demografi, dengan mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 284 juta jiwa.

Meski demikian, peluang tersebut masih dibayangi sejumlah tantangan. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi pada 2025 baru mencapai 32,89 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,76 persen atau sekitar 7,24 juta orang. Di sisi lain, jumlah penduduk miskin masih mencapai 23,85 juta jiwa. Kondisi tersebut menuntut peran perguruan tinggi agar lebih relevan dalam mencetak lulusan yang kompeten serta mampu menjawab persoalan pembangunan.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan, menegaskan pentingnya transformasi perguruan tinggi agar lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan menghasilkan dampak nyata. Hal tersebut disampaikan Fauzan saat menghadiri Dies Natalis ke-51 Universitas PGRI Madiun (Unipma), Sabtu (6/6/2026).

"Perguruan tinggi harus selalu membaca kebutuhan masyarakat. Apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dan generasi muda? Jika pendidikan tinggi tidak sesuai kebutuhan, maka lambat laun akan ditinggalkan," ujar Fauzan.

Ia menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai lembaga pencetak lulusan, tetapi juga harus menjadi pusat solusi berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan pembangunan daerah. Kampus, menurutnya, perlu berfungsi sebagai problem solver melalui inovasi dan riset yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Arah tersebut sejalan dengan kebijakan pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui program “Diktisaintek Berdampak” juga terus mendorong kampus untuk memperkuat riset, inovasi, dan kolaborasi.

Di tingkat institusi, Universitas PGRI Madiun (Unipma) terus menunjukkan pengembangan kualitas pendidikan tinggi. Saat ini, Unipma memiliki 30 program studi dengan 12 program studi berakreditasi unggul, serta tengah mempersiapkan pembukaan program doktoral dan profesi.

Rektor Unipma, Supri Wahyudi Utomo, menyampaikan bahwa tema Dies Natalis ke-51, "Unipma Unggul dalam Karya, Berdampak untuk Bangsa", menjadi refleksi komitmen kampus untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. "Keunggulan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari dampak nyata melalui inovasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat," ujarnya.

Melalui kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, pemerintah terus mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperluas kolaborasi, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Upaya ini diharapkan mampu menjadikan bonus demografi sebagai kekuatan strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Editor: Gokli