Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BPS Catat Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 Tumbuh 5,61 Persen
Oleh : Redaksi
Rabu | 06-05-2026 | 12:28 WIB
BPS_Pertumbuhan_b.jpg Honda-Batam
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 5,01 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan ini adalah yang tertinggi sejak kuartal III-2022 (5,73%) atau 14 kuartal terakhir.

Secara nominal, Produk Domestik Bruto (PDB) menurut atas dasar harga konstan menembus Rp3.447,7 triliun sementara berdasarkan harga berlaku secara Rp6.187,2 triliun.

Pertumbuhan ekonomi ini jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan PDB hanya akan tumbuh 5,4%.

Dibandingkan kuartal sebelumnya (kuartal to kuartal/qtq), ekonomi Indonesia kontraksi 0,77% pada periode Januari-Maret 2026.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan tingginya pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 ditopang oleh permintaan dalam negeri, terutama saat momen Lebaran.

"Dari sisi lapangan usaha, seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali tambang dan pengadaan listrik dan gas," ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (5/5/2026).

"Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 bila dibandingkan dengan kuartal I-2026 atau secara year-on-yearmengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen," kata sambungnya.

Beberapa sektor bahkan mencatat lonjakan signifikan. Penyediaan akomodasi dan makanan minuman tumbuh 13,14 persen, didorong aktivitas libur nasional dan program makan bergizi gratis.

Sementara itu, jasa lainnya tumbuh 9,91 persen, serta transportasi dan pergudangan meningkat 8,4 persen seiring mobilitas masyarakat yang tinggi.

Hal ini menandakan kinerja ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada awal 2026 ini menunjukkan sinyal kuat di tengah ketidakpastian global.

Pemerintah mengatakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026 menjadi titik penting, tidak hanya melampaui ekspektasi, tetapi juga menandai akselerasi dari tren pertumbuhan sebelumnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku lega setelah data resmi dirilis. Ia menyebut capaian tersebut menjadi indikasi bahwa ekonomi nasional mulai keluar dari pola stagnasi di kisaran 5 persen.

"Clear sekali kita bisa lepas dari kutukan Pertumbuhan ekonomi 5 persen. Kami bergerak ke arah yang lebih cepat lagi," kata Purbaya dalam konferesi pers APBN KiTA di Kemenkeu pada Selasa (5/5/2026).

Ia mengungkapkan sempat tidak bisa tidur menunggu angka pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Namun, setelah data diumumkan oleh Badan Pusat Statistik, ia mengaku puas dengan hasil tersebut.

Meski demikian, Purbaya tetap mewaspadai tantangan ke depan, terutama karena kondisi global yang belum sepenuhnya pulih.

"Segala mesin atau perusahaan yang orientasi ekspor yang masih bisa ekspor kita didukung agar lebih kompetitif di global," jelasnya.

Sebagai langkah lanjutan, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan, termasuk menggodok insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) guna memperkuat konsumsi domestik sekaligus mendorong transformasi industri.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan capaian tersebut melampaui ekspektasi berbagai lembaga, bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara anggota G20.

"Ekonomi Indonesia tumbuh baik di luar ekspektasi dari berbagai lembaga, di mana di kuartal pertama pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,61 persen," ujar Airlangga dalam Konpers Pertumbuhan PDB Kuartal-1 2026 di Kemenko Perekonomian pada Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan, pertumbuhan tersebut didorong oleh kombinasi kebijakan fiskal dan momentum musiman seperti Ramadhan dan Idul Fitri.

Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen, sementara belanja pemerintah melonjak 21,81 persen atau sekitar Rp 815 triliun.

Stimulus seperti pencairan tunjangan hari raya (THR) sebesar Rp 51,65 triliun dan diskon tarif transportasi turut menjadi faktor pendorong utama aktivitas ekonomi di awal tahun.

Sedangkan Inflasi April 2026 tercatat 2,42 persen, masih dalam target pemerintah. Indeks keyakinan konsumen berada di level 122,9, sementara neraca perdagangan mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut.

"Ini menunjukkan bahwa ekonomi kita tidak hanya tumbuh, tetapi juga cukup kuat menghadapi tekanan global," kata dia.

Ke depan, pemerintah berkomitmen menjaga momentum ini melalui kebijakan lanjutan, termasuk memperkuat sektor ekspor dan konsumsi domestik.

Target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,4 persen pun dinilai masih realistis untuk dicapai, bahkan berpotensi terlampaui jika tren positif ini berlanjut.

Beberapa catatan pertumbuhan dari BPS:

  1. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2026 mencapai Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.447,7 triliun.
  2. Ekonomi Indonesia triwulan I-2026 terhadap triwulan I-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81 persen.
  3. Indonesia triwulan I-2026 terhadap triwulan IV-2025 terkontraksi sebesar 0,77 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 8,20 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen PK-P mengalami kontraksi terdalam sebesar 30,13 persen.
  4. Pada triwulan I-2026, kelompok provinsi di Pulau Jawa mendominasi struktur perekonomian Indonesia secara spasial, dengan kontribusi mencapai 57,24 persen dan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,79 persen (y-on-y).

Editor: Surya