Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Surplus Dagang RI Tembus USD 23,65 Miliar, Rekor 63 Bulan Beruntun
Oleh : Redaksi
Kamis | 04-09-2025 | 08:08 WIB
neraca-dagang2.jpg Honda-Batam
Sepanjang Januari-Juli 2025, Indonesia membukukan surplus kumulatif sebesar USD 23,65 miliar, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD 16,25 miliar. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif. Sepanjang Januari-Juli 2025, Indonesia membukukan surplus kumulatif sebesar USD 23,65 miliar, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD 16,25 miliar.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan capaian tersebut menjadi bukti konsistensi kinerja ekspor nasional di tengah tantangan ekonomi global. "Surplus perdagangan kita pada Juli 2025 mencapai USD 4,17 miliar, melanjutkan tren surplus selama 63 bulan tanpa putus sejak Mei 2020," ujar Budi dalam keterangan resmi, Rabu (3/9/2025).

Lonjakan surplus terutama disumbang oleh sektor nonmigas yang menembus USD 34,06 miliar. Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi pasar terbesar dengan total kontribusi lebih dari USD 25 miliar.

Dari sisi ekspor, nilai pengiriman Indonesia sepanjang Januari-Juli 2025 mencapai USD 160,16 miliar atau tumbuh 8,03 persen dibanding tahun sebelumnya. Industri pengolahan masih mendominasi ekspor dengan porsi 84,19 persen, diikuti pertambangan 13,21 persen dan pertanian 2,60 persen. Ekspor pertanian bahkan melonjak 43,62 persen berkat meningkatnya permintaan kopi, kelapa, dan buah pinang.

"Tiga komoditas nonmigas yang mencatat pertumbuhan ekspor tertinggi yakni kakao dan olahannya yang melesat 108,39 persen, disusul kopi, teh, serta rempah 69,93 persen, dan aluminium 68,57 persen," jelas Budi.

Sementara itu, impor Indonesia pada periode yang sama mencapai USD 136,51 miliar atau naik 3,41 persen secara tahunan. Kenaikan terbesar terjadi pada barang modal seperti CPU, mobil listrik, dan perangkat navigasi kapal, sedangkan impor barang konsumsi justru turun 2,47 persen.

Editor: Gokli