Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

RI-Jepang Genjot Kompetensi Caregiver, KAIGO Didorong Jadi Karier Profesional
Oleh : Redaksi
Sabtu | 12-07-2025 | 15:08 WIB
KAIGO-2025.jpg Honda-Batam
Seminar Peningkatan Kompetensi Pekerja KAIGO 2025, Kamis (10/7/2025), di Auditorium Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK). (Foto: Kemenkes)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) menggelar Seminar Peningkatan Kompetensi Pekerja KAIGO 2025, Kamis (10/7/2025), di Auditorium Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas tenaga caregiver asal Indonesia yang akan bekerja di Jepang, khususnya dalam bidang layanan keperawatan lansia (KAIGO).

Penyelenggaraan seminar tersebut menjadi respons atas meningkatnya kebutuhan caregiver Indonesia di Jepang, yang tak hanya menuntut jumlah tenaga kerja, tetapi juga kualitas yang sesuai standar layanan lansia di Negeri Sakura.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan, dr Yuli Farianti, dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya kesiapan Indonesia menghadapi perubahan demografi yang kian menua. "Kalau kita lihat data Sensus Penduduk 2023, sekitar 12 persen atau 29 juta penduduk Indonesia berusia di atas 60 tahun. Angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 20 persen atau sekitar 50 juta jiwa pada 2045. Kondisi ini tentu berdampak besar pada kebutuhan pelayanan kesehatan, khususnya perawatan lansia," kata dr Yuli, demikian dikutip laman Kemenkes.

Menurutnya, Jepang menjadi salah satu negara rujukan dalam pengembangan sistem KAIGO karena berhasil membangun layanan keperawatan profesional berbasis standar tinggi, dengan tenaga kesehatan lulusan D3 maupun S1 keperawatan.

"Indonesia banyak belajar dari Jepang bagaimana mereka beradaptasi terhadap perubahan struktur penduduk, lewat transformasi sistem keperawatan menjadi layanan profesional," ujarnya.

dr Yuli menekankan pentingnya pembaruan kurikulum pendidikan tenaga kesehatan agar selaras dengan kebutuhan pasar kerja global, khususnya di sektor KAIGO. Ia mengungkapkan bahwa setiap tahun Indonesia meluluskan sekitar 30.000 perawat D3, dengan sekitar 20 persen di antaranya berasal dari Poltekkes Kemenkes.

"Kita punya potensi besar baik dari segi jumlah maupun kualitas. Saatnya memperkuat kurikulum dan pelatihan, termasuk membuka kesempatan bagi tenaga kesehatan lain seperti bidan untuk turut berkontribusi dalam layanan lansia," terang dr Yuli.

Melalui seminar ini, Kemenkes membuka ruang diskusi terkait harmonisasi standar kompetensi antara Indonesia dan Jepang, serta potensi perluasan program pelatihan dan sertifikasi berbasis kebutuhan nyata tenaga KAIGO internasional. "Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Kesehatan Jepang dan JICA atas kolaborasi luar biasa ini, termasuk kepada para narasumber seperti Ibu Suzuki yang telah berbagi pengalaman dan pengetahuan berharga. Mari bersama-sama membangun kualitas tenaga kesehatan Indonesia yang siap menghadapi tantangan global," pungkas dr Yuli.

Jepang Dorong KAIGO sebagai Profesi Bernilai

Sementara itu, Kepala Perwakilan JICA Indonesia, Takeda, menegaskan komitmen Pemerintah Jepang dalam mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja KAIGO asal Indonesia, sebagai bagian dari kerja sama jangka panjang kedua negara.

Takeda mengungkapkan bahwa Jepang mengalami lonjakan jumlah populasi lansia, yang memaksa pergeseran sistem perawatan dari berbasis keluarga ke sistem nasional yang ditopang tenaga profesional. "KAIGO kini menjadi tanggung jawab sosial seluruh masyarakat Jepang, bukan hanya keluarga. Sistem ini memerlukan SDM yang terlatih dan memiliki nilai kemanusiaan tinggi," jelas Takeda.

Ia meyakini, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor ini, sekaligus mempersiapkan sistem perawatan lansia dalam negeri yang akan menghadapi tantangan serupa dalam dua dekade mendatang.

Takeda juga menekankan bahwa KAIGO bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah karier profesional yang memungkinkan pengembangan diri secara berkelanjutan. "Kami ingin anak muda Indonesia melihat KAIGO sebagai jalan karier masa depan. Kerja sama ini tidak hanya membantu Jepang, tetapi juga membekali Indonesia dalam membangun sistem kesejahteraan lansia yang kuat," tutur Takeda.

Takeda turut membagikan pengalaman pribadi tentang ibunya yang pernah dirawat oleh caregiver asal Indonesia di Jepang, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi tenaga kesehatan Indonesia di panggung internasional.

Dalam seminar tersebut, JICA turut menghadirkan ahli dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang yang memaparkan perkembangan profesi perawat lansia bersertifikat, serta memperkenalkan modul pelatihan KAIGO yang telah diterapkan secara luas di Jepang.

Dengan kolaborasi ini, diharapkan Indonesia mampu mencetak tenaga kesehatan profesional yang siap bersaing di pasar global sekaligus mendukung sistem pelayanan lansia di Tanah Air.

Editor: Gokli