Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ayah dari Bogor Ini Berhasil Hentikan Konsumsi Kental Manis pada Anak Lewat Pendampingan Gizi
Oleh : Redaksi
Sabtu | 12-07-2025 | 10:08 WIB
1207_abdul-rojak-bandung_9348348.jpg Honda-Batam
Abdul Rojak, warga Kampung Cikondang, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, yang aktif mengambil alih peran domestik dan mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Bogor - Peran ayah dalam pengasuhan dan pemenuhan gizi anak kian mendapat perhatian. Seperti ditunjukkan Abdul Rojak (40), warga Kampung Cikondang, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Meski istrinya bekerja di Timur Tengah, Abdul aktif mengambil alih peran domestik dan mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya.

Selama dua bulan terakhir, Abdul mengikuti program pendampingan gizi yang diinisiasi Majelis Kesehatan Aisyiyah. Ia menjadi satu dari 24 peserta yang rutin menghadiri pertemuan mingguan untuk meningkatkan pemahaman soal gizi anak, termasuk menghentikan kebiasaan memberi kental manis.

"Awalnya saya kira kental manis itu susu yang bagus untuk anak. Tapi setelah ikut pendampingan, saya baru tahu kandungan gulanya sangat tinggi," kata Abdul di sela kegiatan, belum lama ini.

Selama mengikuti program, Abdul aktif bertanya, mencatat informasi, dan bahkan berbagi perkembangan anaknya kepada sang istri melalui komunikasi rutin. Hal ini, menurutnya, menjadi sumber semangat tersendiri.

"Saya kasih tahu ke istri soal program ini. Dia senang karena walaupun jauh, anak-anak tetap terurus," ujarnya.

Sebelum mengikuti pendampingan, anak Abdul mengalami penurunan nafsu makan dan hanya makan dua kali sehari dalam porsi kecil. Namun setelah menghentikan konsumsi kental manis, perubahan signifikan pun terjadi.

"Sekarang anak saya bisa makan tiga kali sehari dan habis satu piring sendiri. Enggak mau disuapin lagi," tutur Abdul dengan bangga.

Perubahan serupa juga dirasakan penerima manfaat lain. Banyak peserta melaporkan peningkatan nafsu makan anak serta perbaikan kondisi kesehatan, seperti berkurangnya keluhan sakit gigi setelah berhenti mengonsumsi kental manis.

Abdul menilai, program ini bukan hanya meningkatkan pengetahuan gizi, tetapi juga memperkuat kesadaran pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

"Bagi saya, laki-laki juga punya tanggung jawab penuh terhadap anak. Bukan hanya soal bekerja, tapi juga urusan makan dan tumbuh kembang," kata dia.

Pendekatan yang dilakukan Abdul mencerminkan pentingnya peran kolaboratif dalam keluarga untuk mendukung kesehatan anak. Ia berharap semakin banyak ayah yang terlibat aktif dalam urusan gizi dan pengasuhan sehari-hari.

Editor: Gokli