Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Mimi Tjong
Oleh : Opini
Rabu | 29-11-2023 | 08:20 WIB
DAHLAN-DISWAY66.jpg Honda-Batam

PKP Developer

Wartawan senior Indonesia Dahlan Iskan. (Foto: Net)

Oleh Dahlan Iskan

HARI PERTAMA masa kampanye capres kemarin saya mulai dari Medan: bihun bebek. Saya lupa nama jalannya tapi ingat nama restonya: Asie. Tidak jauh dari Jalan Kesawan.

Tentu saya olahraga sebelumnya: sejak jam 06.30. Di halaman mall Center Point. Bersama aktivis senam kaus kuning di Medan. Mereka sudah bertahun-tahun olga di situ. Baru kemarin lagu-lagunya beda. Lagu dance sport dari saya.

Yang dibawa Nicky dari Surabaya. Anda tahu: pesertanya 100 persen wanita Tionghoa. Satu-dua laki-laki yang lewat situ saya ajak gabung. Maka saya pilihkan yang lagu-lagu mandarin yang belum pernah mereka mainkan. Konsekuensinya: saya yang harus tampil di depan. Bersama Nicky.

"Ini sebenarnya bukan bebek," ujar pemilik resto bihun bebek itu. Hah? Bukankah semua orang bilang ini bihun bebek?

"Ini sebenarnya .... Orang Jawa mengatakannya entok," jawabnya. Mungkin, maksudnya: mentok. Yakni unggas mirip bebek yang jalannya lebih geyol-geyol.

Di zaman sekarang tidak mudah mendapatkan mentok. Karena itu Asie tidak membuka cabang di mana pun. Padahal resto selaris ini akan laris pula di Jakarta. Juga di mana saja. ''Ini warisan dari papa,'' katanya. "Sudah sejak 67 tahun lalu," tambahnya.

Robert Njoo yang memerintahkan saya ke bihun bebek ini. "Jangan lupa minta tambah kuah. Juga remah bawang putih gorengnya yang banyak," pesan Njoo sejak seminggu sebelumnya.

Memang enak sekali. Nilainya 9. Ingin sekali tambah satu mangkuk tapi takut kembali tembem.

Saya pun ingat istri. Ingin membawakannya oleh-oleh bihun bebek. Nicky pun memesan dua porsi untuk dibungkus. Tidak dilayani. Aneh. Resto lain mimpi dapat pembeli. Bihun bebek Medan menolak pesanan take away.

Tidak aneh. Ia ingin menjaga rasa. Tidak ingin membuat konsumen kecewa. Bisa saja sampai di Surabaya rasanya berubah.

Tekstur bihunnya sudah berbeda. Beda jam beda rasa. Apalagi sampai dibawa naik pesawat tiga jam. Bisa juga daging mentoknya sudah jadi rasa daging bebek. Pun kerenyahan remah bawang putih gorengnya pasti sudah berubah.

Semua harus just right. Rasa adalah perpaduan banyak hal yang harus tepat perpaduannya.

Sambil menunggu pesawat, saya ke Rumah Tjong Afie. Sebetulnya ini juga trik saja. Untuk menunggu resto Pondok Gurih buka: ingin makan kepala ikan campur gule daun singkong. Njoo juga yang memaksanya.

Saya pernah ke rumah Tjong Afie. Lama sekali lalu. Kali ini saya punya waktu dua jam. Saya dengar masih ada satu cucu Tjong Afie yang tinggal di rumah itu. Ingin sekali bertemu.

Tjong Afie lahir 1860. Di Meixian. Setelah saya lihat huruf Mandarinnya baru tahu bahwa Tjong itu bahasa suku Hakka untuk Zhang (?). Zhang Ahui.

Saya kurang cerdas: begitu melihat kampung kelahirannya, Mexian, harusnya langsung tahu Tjong Afie orang suku Hakka. Saya dua kali ke Mexian. Itulah kabupaten di Provinsi Guangdong yang hampir 100 persen dihuni suku Hakka. Letaknya di sudut timur laut Guangdong. Berbatasan dengan Fujian.

Lee Kuan Yew orang Hakka. Taksin orang Hakka. Aquino Filipina orang Hakka. Murdaya Poo orang Hakka.

Di rumah Tjong Afie saya berhasil bertemu sang cucu: Mimi Tjong. Usianya 74 tahun. Janda. Masih terlihat sehat. Langsing. Wajahnya segar. "Saya baru jatuh terguling-guling di tangga," katanyi. "Mungkin 12 anak tangga," tambahnyi.

Dia tinggal sendirian di rumah itu. Tepatnya di bagian samping rumah besar. Juga dua lantai. Hari itu dia ingin menyambut kedatangan istri Jenderal Dudung Abdurrahman.

Dia ingin buru-buru turun dari lantai atas. Terguling-guling. Sampai tergolek di tegel lantai bawah. Tentara yang mengawal Ny Dudung menolong. Tidak ada luka. Hanya memar di telinga. Dan di dahi. Diobati. Selebihnya dia baik-baik saja. Tetap bisa melayani tamu pentingnya.

Rumah besar Tjong Afie sendiri kini jadi museum. Sejak 2009. Dibuka untuk umum. Karcisnya Rp 30.000. Jadi objek turis penting di Medan. Kemarin itu saya bertemu rombongan besar turis dari Bengkulu. Juga dari Padang. Dari Jakarta.

Rumah besar ini sudah berumur 123 tahun --selesai dibangun tahun 1900. Pernah direnovasi atas bantuan pemerintah Amerika. Saat itu Amerika memang punya konsulat di Medan. Betapa penting Medan.

Kini Mimi gelisah. Sudah waktunya direnovasi lagi. Dinding-dindingnya berjamur dan terancam mengelupas. Terkena tempias hujan di sana-sini. Bocor pula di beberapa titik. Jelas pemasukan dari karcis tidak akan cukup untuk biaya perbaikan.

Saya lihat BUMN wajib menyisihkan dana CSR untuk menyelamatkan Rumah Tjong Afie. Dulunya Tjong Afie punya 17 lokasi perkebunan. Semua itu kini menjadi kebun PTPN 3 milik BUMN.

Tjong Afie adalah konglomerat pertama di Medan. Sezaman dengan Oei Tiong Ham, si raja gula dari Semarang. Tjong meninggal tahun 1921. Oei meninggal 1924.

Di zaman itu Tjong sudah punya bank di Medan: Deli Bank. Punya perkebunan kopi, teh, cokelat, sawit. Juga punya pabrik gula. Berarti punya perkebunan tebu.

Tjong meninggal karena stroke. Pembuluh darah di otaknya pecah. Umurnya baru 61 tahun.

Empat tahun sebelum meninggal Tjong menulis surat wasiat: hampir seluruh kekayaannya dihibahkan untuk dua yayasan. Yang satu yayasan di Medan. Satunya lagi yayasan di Mexian.

Mimi bercerita, begitu Tjong meninggal dunia, istri dan semua anaknya pindah ke Swiss. Yang menyarankan kepindahan itu adalah orang Belanda yang menjadi tangan kanan Tjong. Itu orang kepercayaan Tjong. Boleh dikata orang Belanda itulah yang mengendalikan semua perusahaan Tjong.

Istri Tjong wanita Tionghoa peranakan dari Binjai, dekat Medan. Dia ibu rumah tangga biasa. Tidak tahu soal perusahaan. Itu istri ketiga Tjong. Istri pertamanya wanita Tiongkok. Meninggal. Hanya punya satu anak angkat. Istri kedua juga wanita dari Tiongkok. Anaknyi 3 orang. Yang dari Binjai punya anak 7 orang.

Kelihatannya anak-anak Tjong hanya mewarisi uang deposito atau sebangsanya. Seluruh aset di Medan tidak ada yang jatuh ke keluarga. Karena itu sang cucu pun hidup seperti orang Medan kebanyakan.

Saya belum menemukan hasil penelitian ilmuwan soal nasib aset-aset Tjong Afie. Termasuk sahamnya di tambang batu bara Sawahlunto di Sumatera Barat.

Tjong berusia 18 tahun saat datang ke Deli, dari Mexian. Ia menyusul kakaknya yang sudah lima tahun tiba di Deli. Deli terkenal tanah subur. Dengan perkebunanmya yang terkenal sampai ke Eropa.

Tjong juga orang kaya yang beda: tidak berjudi, tidak main perempuan, tidak mengisap candu dan segala hal yang tercela. Ia belajar keras bahasa Melayu. Hubungan antar sukunya dikenal sangat baik. Kalau ada pertengkaran antar ras Tjong yang mendamaikan. Ia membangun masjid --masih ada sampai sekarang. Membangun kelenteng --juga masih ada. Membangun gereja --sudah tidak ada.

Kalau ada kerusuhan buruh perkebunan milik perusahaan Belanda Tjong pula yang meredakan. Tjong pun diangkat Belanda menjadi letnan. Lalu menjadi kapten. Terakhir menjadi mayor.

Satu-satunya cucu yang tinggal di Medan ini hanya punya anak satu orang. Perempuan. Sekolah di Cornell University di pedalaman New York. Kawin dengan bule di sana. Juga punya anak satu.

Anak, menantu dan cucu itu pernah ke Medan. Satu minggu tinggal di salah satu kamar rumah besar itu.

Kehidupan Mimi Tjong sangat sederhana. Mobilnya hanya Rush. Dia setir sendiri pula di usianyi yang 74 tahun. Bukan mobil matic pula. Saat menemui saya itu dia baru pulang dari pasar.

Mimi sendiri belum pernah menengok cucu ke Amerika. "Jauh sekali," katanyi.

Bahkan Mimi belum pernah ke Mexian. Maka kami sepakat akan ke Mexian bersama. Mungkin akhir Maret depan. Saya tahu ada sop ikan enak sekali di Mexian.*

Penulis adalah wartawan senior Indonesia