Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Banjir di Kalimantan Timur, Bencana Alam atau Akibat Ulah Manusia?
Oleh : Redaksi
Sabtu | 29-05-2021 | 10:32 WIB
banjir_kalimantan02.jpg Honda-Batam
Banjir yang merendam wilayah Kabupaten Berau pertengahan Mei 2021. (Mongabay/Paulinus Can Borneo)

BATAMTODAY.COM, Samarinda - Dua kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, diterjang banjir besar, saat Lebaran Idul Fitri 2021. Lebih dari 2.500 rumah tangga di Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terdampak bencana ini, yang sebagian warga harus mengungsi.

Hujan dengan intensitas tinggi membuat debit air Sungai Kelay dan Sungai Segah di Kabupaten Berau meluap. Luapan terjadi sejak Kamis (13/5/2021) pukul 18.00 Wita, merendam dua kecamatan di Berau. Kondisi serupa terjadi pada Sungai Wahau, yang meluap.

Di Berau, tinggi air yang menggenangi rumah warga mencapai 100 hingga 200 cm. Sementara rumah warga di Kutai Timur tergenang air mulai 25-100 cm.

Hingga sepekan, banjir di dua kabupaten itu belum surut sepenuhnya. Liana, warga Kampung Tumbit, Berau, menyebut banjir membuat warga merayakan lebaran di tengah kepungan air.

"Ketika debit air meninggi kami mulai khawatir. Besoknya air naik, kami segera angkut-angkut barang," katanya.

Menurut dia, sepekan banjir di Berau menyebabkan 15 kampung dari 4 kecamatan terendam. Hari ketiga Lebaran, cuaca cukup cerah, namun banjir malah semakin tinggi. “Kampung yang kebanjiran itu dilewati Sungai Kelai dan Sungai Segah. Jadi, banjir ini kiriman,” jelasnya.

Novita, warga Muara Wahau menjelaskan, banjir di wilayahnya juga terjadi hingga sepekan. Menurutnya, Muara Wahau merupakan daerah yang jarang diterjang banjir. “Saya lahir di Wahau, kalau sungai pasang, biasanya tidak besar. Tapi ini berbeda, debit airnya tinggi,” ujarnya.

Camat Muara Wahau, Ashari menjelaskan, banjir yang terjadi sepekan terakhir telah menenggelamkan 7 desa. Beberapa desa yang terdampak adalah Desa Muara Wahau, Nehes Liah Bing, Jak Luay, Long Wehea, Dabeq, Diaq Lay, dan Benhes. “Kemungkinan ada ribuan jiwa terdampak,” sebutnya.

Sementara, kecamatan yang terdampak banjir di Kabupaten Kutim ada 8 yaitu Muara Bangkal, Batu Ampar, Muara Ancalong, Long Mesangat, Busang, Telen, Muara Wahau, dan Kombeng.

Menurut laporan tertulis tim Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur, Sukasno Haryanto, banjir telah berdampak pada sebanyak 1.690 KK, merendam 690 rumah, 20 unit fasilitas umum dan 203 hektar perkebunan. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah.

"Tim BPBD Kabupaten Kutim terus melakukan pendataan bersama beberapa pihak kecamatan, TNI dan Polri, dan pihak lainnya, termasuk mendata kebutuhan warga," ujarnya.

Fenomena Alam atau Kesalahan Manusia

Berau dan Kutai Timur adalah dua kabupaten yang didiami perusahaan batubara. Banjir di Berau sempat menerjang area PT Rantaupanjang Utama Bhakti (RUB) dan mengakibatkan jebolnya tanggul batubara milik perusahaan tersebut. Banjir semakin dalam akibat tumpahan air dari tanggul yang jebol.

Jebolnya tanggul batubara ikut merendam permukiman warga di kampung Bena Baru, Kabupaten Berau. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim merilis, bencana banjir ini adalah yang terbesar dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Berdasarkan data yang dikeluarkan BPBD Berau, sebanyak 2.308 KK terdampak.

"Pemerintah setempat tidak bisa bersembunyi di balik narasi fenomena alam, harus juga melihat rusaknya bentang alam. Terutama, alih fungsi lahan menjadi konsesi tambang batubara di kawasan hulu, serta sepanjang daerah aliran sungai," ujar Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang, baru-baru ini.

Jebolnya tanggul PT RUB bahkan menjadi perbincangan viral di media sosial warga. Perihal itu, Kapolda Kaltim Irjen Pol Herry Rudolf Nahak mengirimkan tim untuk melakukan penyelidikan. Apakah benar karena fenomena alam berupa luapan sungai atau karena kesalahan manusia.

"Saya sudah kirim Ditkrimsus ke sana, apakah ini benar-benar karena luapan sungai karena tingkat hujan yang tinggi atau karena human error," kata Kalpolda Herry.

Menurut dia, pihaknya menerima laporan awal banjir terjadi karena air sungai yang meluap melewati tingginya tanggul. Namun, pihaknya tetap menurunkan tim investigasi, karena faktanya di kawasan itu banyak dihuni perusahaan tambang batubara.

"Jika ada penambangan batu bara ilegal silahkan bikin laporan," sebutnya.

Sementara di Kabupaten Kutim, selain tambang batubara, di wilayah ini juga didiami perkebunan sawit skala besar, hutan tanaman industri, dan hak penguasaan hutan (HPH). Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim menilai, banjir saat ini adalah jawaban atas semua investasi besar yang ada.

"Ibarat bom waktu, semua investasi itu akan terasa sekarang," kata Direktur Walhi Kaltim, Yohana Tiko. Menurut dia, seharusnya pemerintah tidak abai melihat fenomena ini.

"Seharusnya, hutan tidak dibuka habis-habisan. Seharusnya, ada daerah pelindung baik hulu maupun hilir. Yang terjadi sebaliknya, aliran sungai tidak ada pelindung bahkan buffer zone," jelasnya.

Pemerintah sebaiknya mengevaluasi semua perizinan di Kaltim, terutama di daerah rawan banjir dan rawan longsor. "Tak terkecuali perizinan tambang batubara dan sawit," jelasnya.

Bantuan

Pemerintah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutim terus menyuplai bantuan kebutuhan korban terdampak banjir. Pemkab Kutim mengalokasikan dana sebesar Rp1,5 miliar untuk dana tanggap bencana yang dijadikan paket sembako sebanyak 3.000 paket yang sudah didistribusikan.

"Kami menyalurkan untuk warga terdampak banjir. Langkah ini diambil secepatnya untuk meringankan beban masyarakat, semoga bermanfaat," kata Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman.

Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Thamrin, menyebutkan beberapa desa yang ada di hulu Sungai Kelay dan Sungai Segah, dalam perkembangannya, hampir sudah tak ada genangan air.

"Hewan ternak warga ada yang hilang dan tanaman padi rusak. Sementara, untuk desa-desa yang berada di hilir Sungai Kelay dan Sungai Segah masih membutuhkan waktu menunggu air surut," sebutnya.

Warga terdampak bencana, kata dia, membutuhkan suplai air bersih. BPBD Berau bersama tim relawan sudah menyiapkan sejumlah tandon besar untuk penampungan air bersih. Sejak 20 Mei lalu, Pemprov Kaltim juga telah mengirimkan bantuan ke Berau meliputi sembako, makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, juga kebutuhan bayi dan lansia.

Sumber: Mongabay
Editor: Yudha