PKP

Perlu Siasat Bisnis Birokrat, Manfaatkan Momentum Perang Dagang
Oleh : Redaksi
Selasa | 13-08-2019 | 14:52 WIB
delegasi-china.JPG honda-batam
Pertemuan delegasi Zhuzhou China dengan jajaran pemerintah Kotamadya Jakarta Barat. (Foto: Ist)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Siasat dagang birokrat Indonesia harus dimunculkan di tengah momentum semakin maraknya kunjungan delegasi luar negeri terutama dari Tiongkok. Siasat dan upaya "jualan" berbagai produk Indonesia harus agresif, mengingat neraca perdagangan mengalami deficit.

Kunjungan delegasi kota Zhuzhou China ke kantor Walikota Jakarta Barat adalah salah satu contoh kurang maksimalnya birokrat bersiasat dagang atau buka pasar ekspor yang lebih besar. Keduanya sempat bertukar-tukaran cendera mata.

Delegasi Zhuzhou memberikan miniature kereta cepat berteknologi tinggi kepada pejabat Wakil Walikota Jakarta Barat. Sebaliknya, pejabat Indonesia memberi tas batik. Delegasi memamerkan teknologi LRT (light rail transit), MRT (mass rapid transit), pesawat berbadan kecil. Sebaliknya, (pejabat) memamerkan tas batik.

"Ini kan timpang. Nilai teknologi Zhuzhou yang dipamerkan mencapai ratusan milyar. Sementara nilai (cendera mata) tas batik hanya ratusan ribu," salah seorang pengusaha swasta nasional Indonesia Meri mengatakan kepada Redaksi.

Presiden Joko Widodo pernah menginstruksikan jajaran kementerian negara untuk all out membuka pasar ekspor. Jokowi juga meminta kepada para petugas perdagangan tanah air memanfaatkan trade war atau perang dagang yang sebetulnya menjadi peluang mendorong ekspor.

Pasar yang ditinggalkan oleh dua negara adikuasa merupakan peluang dan harus dimanfaatkan oleh Indonesia. Pada pertemuan, delegasi Zhuzhou Mao Tengfei memamerkan industry dan teknologinya, termasuk mobil listrik, sarana transportasi sampai pada revolusi industry 4.0.

"Tapi pemerintah provinsi hanya memamerkan sentra ikan hias di Slipi, pasar bunga Rawa Belong (Jakarta Barat). Kota tua dan hutan kota Srengseng juga dipamerkan. Tapi kita lihat, kondisinya (kota tua, Srengseng) tidak terawat," kata Meri.

Pemerintah provinsi DKI Jakarta diwakili oleh Wakil Walikota Jakarta Barat, M. Zen saat menerima kunjungan delegasi Zhuzhou, Rabu 7 Agustus 2019 lalu. M. Zen didampingi jajaran pemerintah kotamadya Jakarta Barat, antara lain suku dinas Dukcatpil (Kependudukan dan Catatan Sipil), Perumahan, Lingkungan Hidup, Perekonomian, Pendidikan, dan lain sebagainya.

Sedangkan delegasi Zhuzhou terdiri dari Mao Tengfei (ketua delegasi), Zhou Weiren, Liu Haibin, Li Nengbin, Huang Shengyang, Wu Lingyun, Xu Junqi dan Zhuang Qining. Kedua pihak saling bertukar pikiran dan informasi pembangunan termasuk aplikasi bank sampah sampai sarana transportasi massal berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Kalau seandainya kita bicara (dengan prinsip) apple to apple, mereka (Zhuzhou) datang membawa misi yang sangat jelas. Bahwa mereka melihat Indonesia sebagai negara yang dilintasi OBOR (One Belt, One Road) sebagai strategi pembangunan yang diusulkan oleh Tiongkok Xi Jinping yang berfokus pada konektivitas dan kerja sama antara negara-negara Eurasia. Seharusnya, birokrat kita bisa lebih percaya diri dibanding mereka dengan potensi ekonomi yang kita miliki," tegas Meri.

Pada pertemuan, Mao Tengfei sempat mengutarakan keinginan membangun sinergitas dengan pemerintah Indonesia, terutama konektivitas 17 ribu kepulauan nusantara. Mao Tengfei melihat sebaran 260 juta jiwa penduduk Indonesia di kepulauan Nusantara harus ditopang oleh armada pesawat berbadan kecil.

"Industri pesawat kami sudah sampai pada pasar Amerika. Kami sangat antusias bersinergi fokus pada konektivitas. Terutama kondisi nusantara dengan 17 ribu pulau, pasti perlu sistem transportasi termasuk pesawat berbadan kecil," kata Mao Tengfei, yang juga sekretaris Zhuzhou Municipal Committee of the Communist Party.

Editor: Dardani