PKP

Gegara Beda Pilihan Caleg, 4 Makam Ini Dibongkar
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 14-06-2019 | 14:28 WIB
BONGKAR-makam.jpg honda-batam
Pembongkaran makam gara-gara beda pilihan poltik di Kabupaten Takalar. (Foto: Ist)

BATAMTODAY.COM, Takalar - Gara-gara pilih caleg dari Partai Golkar, makam empat anggota keluarga Abdul Rauf Daeng Ngampa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, dipaksa dibongkar. Hal itu setelah seorang caleg dari Partai Gerindra yang mengklaim lahan pekuburan itu adalah miliknya.

Empat makam yang dibongkar itu dan terpaksa dipindahkan ke tempat lain masing-masing Mallarangeng Daeng Ngopa dan Sugi Daeng Ngiji adalah bapak dan ibu dari Abdul Rauf Daeng Ngampa. Kemudian Nurhayati Daeng Lebong dan La Baso Daeng Tunru adalah istri dan saudara tertua dari Abdul Rauf Daeng Ngampa.

Muhammad Rusli Daeng Ronrong (43), salah seorang saudara dari Abduk Rauf Daeng Ngampa saat dikonfirmasi, Rabu (12/6/2019) menjelaskan, awalnya mereka didatangi oleh Burhan Talli (BT), caleg dari Partai Gerindra, Rabu (5/6). Tepatnya usai waktu sholat dzuhur.

Mereka diminta untuk membongkar empat makam itu dan empat hari setelahnya, Minggu (9/6/2019) barulah keluarga sepakat beramai-ramai membongkar makam tersebut.

"Usai waktu dzuhur di hari lebaran itu, Burhan Talli (BT) mendatangi rumah saudara saya, Abdul Rauf Ngampa. Tapi dia tidak turun dari mobilnya, yang turun hanya istrinya bernama Hajjah Baji. Istrinya itu mencari saudara saya tapi yang bersangkutan tidak ada di rumah. Lalu dia minta untuk disampaikan agar segera membongkar empat makam itu. Alasannya karena saudara saya tidak memilih Haji Talli (Burhan Talli)," tutur Muhammad Rusli Daeng Ronrong.

Akhirnya, empat hari setelah lebaran atau pada Minggu (9/6/2019), kata Rusli, keluarga sepakat untuk membongkar makam-makam tersebut dan memindahkan ke lahan yang jaraknya tidak begitu jauh dari posisi semula. Hanya berjarak sekitar 500 meter.

"Haji Talli ini merasa berhak karena katanya tanah tempat makam keluarga itu sudah dibelinya. Saya tidak tahu apakah hanya mengklaim atau bagaimana. Makam La Baso Daeng Tunru, kakak tertua saya yang paling lama di situ karena dia meninggal saat masih anak-anak. Sudah sekitar 60 tahun lalu," kata Rusli.

Dia menambahkan, dirinya tidak tahu persis status tanah itu karena dia sendiri masih kecil saat awal tanah itu dijadikan pekuburan umum oleh warga setempat. Jadi tidak hanya makam anggota keluarganya yang ada di situ tapi juga banyak makam warga lain.

Sumber: Merdeka.com
Editor: Dardani