PKP

Merawat Kesucian dan Menyambung Persatuan di Momen Idul Fitri
Oleh : Redaksi
Senin | 10-06-2019 | 14:28 WIB
suasana-lebaran.jpg honda-batam
Ilustrasi kemeriaan suasana Idul Fitri. (Foto: Ist)

Oleh Mustofa Harun

JALANAN mulai tampak ramai dengan banyaknya pemudik yang pulang kampung, beberapa toko dan swalayan membuka jam operasional hingga lebih dari jam 10 malam untuk melayani masyarakat yang ingin menyemarakkan Lebaran. Tentu kita berharap bahwa lebaran tidak hanya sekedar semarak dan seremonial kumpul keluarga saja, namun juga menjadi moment yang tepat untuk menyambung kembali persatuan dalam suasana saling memaafkan.

Beberapa waktu sebelumnya, Indonesia memang sedang memanas dengan adanya kontestasi politik, dimana perbedaan pilihan menjadi jurang pemisah yang terkadang masih sulit untuk disatukan, disparitaspun muncul sangat nampak tak terkecuali para ulama dan pemuka agama yang semestinya menjadi panutan masyarakat. Bagaimanapun juga agama merupakan panduan moral berpolitik, namun bukan berarti mempolitisasi agama, terlebih, umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri.

Sebelumnya Habib Syahdu pernah mengatakan bahwa mati dalam keadaan membela ambisi politik seseorang tidak bisa digolongkan ke dalam syuhada, tapi mati konyol. Manusia sebagai makhluk sosial tentu pernah melakukan sesuatu yang menimbulkan kebencian dalam diri orang lain. Sudah sepatutnya kita menyambut datangnya Idul Fitri dengan membuka hati, utamanya dalam memberikan dan meminta maaf kepada orang lain.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zen Umar bin Smith mengajak umat Muslim membersihkan diri dari segala penyakit hati. Tentunya, juga memaksimalkan 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk beribadah kepada Allah SWT. “Kita juga perlu merenung serta membuat evaluasi diri atau mukhasabah,” ujarnya.

Habib Zen mengatakan, evaluasi diri perlu dilakukan seluruh umat. Tujuannya, agar pandangan seseorang tidak hanya tertuju pada urusan-urusan yang bersifat duniawi. Umat mesti berhenti menyebarkan tuduhan maupun ujaran kebencian yang menimbulkan kegaduhan dan permusuhan bangsa.

Dirinya juga menegaskan, bahwa mereka yang berbuat keburukan tersebut merupakan orang-orang yang merugi. Seorang mukmin, kata Habib Zen, juga mesti bisa mengingatkan dengan cara dan adab yang santun. Oleh karena itu, ia sangat berharap semua umat Islam memiliki semangat untuk saling memaafkan, mempererat silaturahim, saling menebar kasih sayang dan menghormati pendapat masing – masing. “Janganlah kita terseret pada perpecahan yang akhirnya akan membawa kerugian pada kita semua,” ujarnya.

Ajakan persatuan juga diserukan oleh Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) Ustaz Jeje Zaenudin. Pihaknya mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, kembali merajut persatuan dan kesatuan. “PP Persis mengharapkan agar suasana kesatuan, persatuan tersebut kembali utuh menjelang hari raya Idul Fitri dan seterusnya,” tutur Ustaz Jeje.

Persatuan perlu dirajut lagi mengingat masyarakat Indonesa sempat terpecah menjadi 2 kubu selama pelaksanaan Pemilu serentak 2019. Ustaz Jeje meminta kedua kubu untuk melakukan rekonsiliasi nasional. “Perlu ada rekonsiliasi nasonal pasca-Pemilu, walaupun tentu saja proses gugatan peradilan di MK terus berjalan sesuai dengan agenda. Tapi harus disikapi dengan tenang, bijak dan yakin atas independensi MK,” ucap Ustaz Jeje.

Pihaknya juga berpesan agar masing – masing pribadi semakin selektif dalam menerima informasi dan menyebarkannya, karena hal ini juga mempengaruhi kualtas ibadah Ramadhan kita.

Apabila masyarakat tidak berhati – hati dalam menerima informasi, maka akan sangat rentan terpengaruh dengan pihak-pihak yang sengaja ingin memprovokasi. “Kita harus bisa menjaga kekhidmatan ibadah puasa Ramadhan dan hari raya idul fitri,” tuturnya.

Indonesia merupakan rumah bagi seluruh masyarakat Indonesia, sehingga alangkah lebih baiknya jika kita memperbesar persamaan dan memperkecil perbedaan.

Sudah saatnya halal bi halal dalam momentum Hari Raya Idul Fitri dapat mengurangi ketegangan-ketegangan yang terjadi selama pelaksanaan Pemilu serentak 2019.

Idul Fitri tentu bisa dimaknai sebagai momen untuk kembali kepada kesucian. Karena, dalam menjalani kehidupan sosial selama setahun yang lalu pasti ada perilaku yang telah menimbulkan kebencian dalam diri orang lain. Jika kesalahan itu kepada Allah maka cukup ucapkan istighfar, namun jika kesalahannya menyangkut antara manusia dengan manusia, maka harus meminta halal kepada manusia yang telah disalahi itu.

Dalam merayakan Idul Fitri, tentu umat muslim akan benar-benar mengharapakan fitrahnya, mereka akan pulang ke kampung halaman, datang kepada orang tuan untuk sungkem dan meminta maaf, juga bersilaturahmi dengan sanak saudara.*

Penulis adalah Pengamat Masalah Sosial Masyarakat