PKP

Bentuk tidak Profesionalnya KPU, Sejumlah Polemik Warnai Prosesi Pemilu Serentak di Batam
Oleh : Romi Chandra
Rabu | 17-04-2019 | 12:28 WIB
pemilu-tiban1.jpg honda-batam
Keterlambatan logistik membuat petugas di TPS kawasan Tiban Permain kewalahan. (Nand0

BATAMTODAY.COM, Batam - Pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) di Kota Batam terkesan jauh dari kata siap. Berbagai polemik terjadi di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Kondisi ini tentunya menjadi tamparan keras bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batam.

Permasalahan yang terjadi tidak hanya dari proses pencoblosan, namun sejak dimulainya pendistribusian logistik Pemilu, keluhan demi keluhan sudah mulai 'menyerang' KPU.

Dari cataan yang dimiliki BATAMTODAY,COM, permasalahan itu dimulai dari keterlambatan logistik. Bahkan, ada juga di beberapa lokasi logistik baru tiba siang ini, Rabu (17/4/2019). Padahal, seharusnya pendistribusian itu sudah rampung sejak kemarin, Selasa (16/4/2019) kemarin.

Kondisi ini bisa dilihat di beberapa TPS kawasan Tiban Koperasi, Kecamatan Tiban, Kota Batam. Pantauan di lokasi, ada sekitar dua TPS, yakni TPS 09 dan TPS 10 yang baru saja menerima seluruh logistik Pemilu sekitar pukul 10.00 WIB, Rabu (17/4/2019) pagi.

Sementara itu, warga di kedua TPS tersebut terlihat sudah mulai berdatangan dan terpaksa menunggu sejak pukul 07.00 WIB. Akibat keterlambatan logistik tersebut, para petugas TPS terlihat masih disibukkan dengan menghitung jumlah kertas suara, dan melipat kotak, serta bilik suara untuk digunakan warga dalam menjalankan hak pilihnya.

Salah satu warga Perumahan Tiban Koperasi, Saugi menjelaskan, untuk logistik baru saja diantarkan pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batam, sekitar pukul 09.50 WIB. Bahkan warga sempat akan bertindak sendiri, dan bermaksud menjemput logistik Pemilu ke KPU Kota Batam.

"Tadi kalau ini telat lima menit lagi, kami sudah berinisiatif mau jemput sendiri logistik ke KPU. Masa warga sudah datang dari pagi, disuruh menunggu terus oleh petugas TPS," ujarnya.

Terpisah, Ketua KPPS yang berada di Perumahan Regata, Bengkong Sadai, Antoni, mengaku bahwa pihaknya baru menerima logstik sekitar pukul tiga dini hari. Kondisi ini membuat petugas juga mengalami kondisi fisik tidak stabil.

"Logistik baru tiba pukul 03.00 WIB. Sampai di sini harus dijaga, dan akhirnya kami tidak ada yang tidur. Petugas kondisinya saat ini banyak yang tidak fit," keluhnya, Rabu (17/4/2019).

Selain itu, pihaknya hanya menerima surat suara sesuai Daftar Pemilih Tetap (DPT) saja dan tidak mendapat kelebihan sebanyak 2 persen, sesuai dengan aturan. Bahkan untuk Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) tidak memili surat suara.

Terlepas dari permasalahan di atas, kondisi lebih parah juga terjadi di TPS 035 Bengkong Harapan 1 RT 05/RW 08 Kelurahan Bengkong. Informasi yang didapat, surat suara untuk DPD RI kurang. Akhirnya, pemilih banyak yang pulang kembali dan proses pencoblosan tidak diteruskan karena tidak ada warga yang mau.

Lebih parah lagi terjadi di di TPS-122, Perumahan Buanaraya, Sagulung. Warga tersulut emosi karena hampir sebagian dari jumlah DPT menglami kekurangan surat suara untuk pemilihan presiden.

Surat suara Presiden di TPS-122 tersebut kurang 109 lembar dari total semua jumlah DPT di wilayah itu.

"Surat suara Presiden di TPS-122 kurang 109 lembar dari jumlah DPT 237. Itu di luar DPTb (Form A5) dan DPK," ujar Juli Susanti, petugas Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS).

Pantauan BATAMTODAY.COM, di lapangan sempat terjadi perang mulut antara warga dengan pihak Panwaslu kota Batam, karena beberapa orang keberatan hak suara mereka hangus begitu saja, jika surat suara kurang tidak segera dilengkapi.

Akhirnya warga memberi waktu 1 jam agar kekurangan itu bisa dilengkapi. "Kalau tidak kelar jam 1, warga minta pemilu ditunda aja," pungkas Andi, salah satu warga.

Beberapa permasalahan di atas, tentunya membuat rapor merah untuk KPU Batam terkait ukurangnya profesionalisme dalam penyelenggaraannya. Sejauh ini BATAMTODAY.COM juga belum mendapatkan keterangan pasti dari KPU.

Editor: Gokli