BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2019 Capai 4,6 Persen
Oleh : Nando Sirait
Kamis | 06-12-2018 | 13:52 WIB
bi-kepri1.jpg honda-batam
Kepala Kpw Bank Indonesia Kepri, Gusti Raizal Eka Putra. (Foto: Nando)

BATAMTODAY.COM, Batam - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepri memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sekitar 4,2 hingga 4,6 persen. Untuk tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Kepri diperkirakan ditutup pada angka 4 hingga 4,4 persen.

Angka itu disampaikan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, saat pertemuan tahunan Bank Indonesia Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan di gedung BI Kepri, Batam Center, Batam, Kamis (6/12/2018).

Gusti juga menegaskan, target pertumbuhan ekonomi Kepri 2019 akan tercapai jika proyek proyek strategis yang dicanangkan pemerintah Kabupaten/Kota di Kepri bisa dijalankan.

"Target angka itu sebenarnya kecil kalau memang beberapa proyek strategis yang dicanangkan pemerintah bisa dikerjakan, karena itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi bahkan melebihi dari target," ujarnya, Kamis (6/12/2018).

Ia mengatakan satu di antara permasalahan yang dihadapi dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi 2018 adalah pelemahan dari net ekspor. Dilihat dari kuartal tiga, pertumbuhan net ekspor negatif lebih dalam dibandingkan kuartal kedua.

Namun demikian, ia optimis target pertumbuhan ekonomi 2019 bisa terealisasi jika Kepri, khususnya Batam dapat fokus mengembangkan industri yang sudah ada saat ini.

"Pilih dan dorong industri yang bisa memberi nilai tambah. Industri elektronik termasuk satu komoditas atau produk ekspor kita yang memberi kontribusi cukup besar ke kita dan secara nasional juga. Cuma kelemahan kita saat ini, bahan baku industri elektronik masih didukung dari impor," tuturnya.

Oleh karena itu, Ia meminta agar seluruh stakeholder dapat mendorong pengembangan industri supporting dari industri besar yang sudah ada di Batam. Hal itu agar industri yang ada memiliki nilai tambah.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi 2019 juga bisa tercapai jika ada dorongan untuk mengembangkan industri industri yang sumber bahan bakunya ada di Kepri.

"Kita juga harus dorong industri yang resources nya ada di sekitar kita, seperti CPO. Ini yang trade balance nya sangat besar dan positif. Tinggal mengatur hilirisasi sumber daya alam yang ada di sekitar Kepri saja," lanjutnya.

Kemudian, harus ada juga pengembangan industri pariwisata Kepri. Menurutnya pengembangan pariwisata harus dilakukan secara kolaborasi oleh stakeholder terkait.

"Tadi seperti yang kita dengar dari sharing Pemkab Banyuwangi, walaupun pariwisata di bawah kendali Dispar, tapi dalam menjalankan tugasnya, masing masing dinas terkait juga harus mendukung. Dukungan bisa melalui penganggaran untuk program program pariwisata. Potensi kta jauh lebih baik dari Banyuwangi," paparnya.

Melihat gambaran di tahun 2018, industri pariwisata Kepri masih terganjal dari sisi lamanya masa tinggal wisatawan yang berkunjung ke Kepri. Walaupun jumlah wisatawan yang datang meningkat, namun length of stay masih di bawah dua hari.

  • Baca: Triwulan II 2018 Ekonomi Kepri Alami Pertumbuhan Positif

Ia berharap stakeholder terkait bisa menyediakan program program yang dapat mendorong lama wisatawan menginap di sini.

Belajar dari Kabupaten Banyuwangi, Pemko Batam bisa membuat sesuatu yang unik atau even atraktif yang dapat menarik perhatian wisatawan untuk tinggal lama di sini.

"Batam ini mirip Banyuwangi, kalau wisatawan carinya yang wah wah mereka ke Bali, bukan ke Banyuwangi. Makanya yang harus dibuat adalah hal hal yang unik. Sama seperti Batam, kalau yang dibuat adalah yang wah, kita akan kalah dari Singapura. Sebab Singapura jauh lebih wah dari Batam," katanya.

Pengembangan sektor pariwisata juga tidak hanya dirasakan oleh pemerintah, namun harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Serta dapat mendorong kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, penting juga bagaimana mensinergikan kegiatan kegiatan yang ada antara Kabupaten/Kota di Kepri. Supaya mendorong lama tinggal wisatawan tersebut.

"Jadi kalau mereka ke Batam, travek experience nya bukan cuma yang ada di Batam juga. Bisa disinergikan juga dengan yang di Bintan atau Tanjungpinang misalnya. Supaya kalau mereka ke Batam, mereka bisa juga melanjutkan travelnya ke Kabupaten/Kota yang lain. Otomatis length of stay pun bertambah," ujarnya.

Disinggung mengenai target pertumbuhan ekonomi yang direncanakan BP Batam sebesar tujuh persen di tahun 2019, Gusti menyebutkan hal itu bisa saja terjadi.

"Bukan tidak mungkin, karena angka 4,6 persen inikan bukan sesuatu yang mutlak. Ini cuma gambaran dari assessment terakhir yang kami lakukan. Nanti kita akan lakukan assessment kembali per tiga bulan selama 2019," ucapnya.

Editor: Yudha