Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

SBY Lebih Suka Dibilang Gagal Daripada Berbohong
Oleh : Taufik/Tunggul Naibaho
Sabtu | 15-01-2011 | 14:46 WIB
dengar_pendapat_edit3.JPG Honda-Batam

MELAWAN KEBOHONGAN - Pertemuan Denga Pendapat Publik yang digagas Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kebohongan, di Kantor Persatuan Gereja_Gereja Indonesia di Salemba, Jmuat 14 Janurii 2011. (Foto: Ist).

Jakarta, batamtoday - Presiden SBY lebih suka dibilang ingkar janji, inkonsiten, atau dibilang gagal sekalipun daripada dituduh berbohong. Karena berbohong adalah suatu hal yang serius, terkait karakter Presiden.

Demikian dikatakan Staf Ahli Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparingga, dalam diskusi bertema "Musim Berbohong" di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 15 Januari 2011.

"Bagi pemerintah, katanya, lebih nyaman jika disebut ingkar janji, inkonsisten, atau disebut gagal sekalipun," kata Daniel.

"Apa yang disampaikan itu menyangkut kredibilitas presiden, karena namanya disebut jelas, kebohongan. Karena kebohongan kan sangat serius," ujar Daniel, dan dia menyebut contoh soal seriusnya kata 'bohong' yang membuat Presiden Amerika Serikat Richard Nixon mundur karena dituduh berbohong dalam skandal watergate yang terkenal itu.

Daniel Sparingga diundang ke dalam diskusi di Watung Daun itu terkait pernyataan para tokoh lintas agama Senin 10 januari 2011 yang menyebut SBY telah berbohong, melakukan kebohongan publik terkait kinerja kabinetnya.

Para tokoh lintas agama tersebut adalah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr Martinus Situmorang, Ketua Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Andreas Yewangoe, Buya Syafii Maarif, Franz Magnis Suseno, KH Salahuddin Wahid, dan Biku Sri Pannyavaro.

Berkumpul di gedung dakwah PP Muhammadiyah, mereka membuat pernyataan sikap dan mengkritik pemerintah telah melakukan banyak kebohongan publik. Karena itu, mereka mencanangkan tahun ini sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan dan pengkhianatan.

Pada kesempatan itu disebut daftar 18 kebohongan yang dilakukan SBY yang dikategorikan ke dalam dua, yaitu kebohongan lama (9) dan kebohongan baru (9). Pakar Komunikasi Effendi Ghazali yang didaulat sebagai moderator dalam pertemuan itu, mempersilahkan kepada pihak manapun untuk mengkritisi data kebohongan yang disampaikan para tokoh lintas agama tersebut.

Salah satu kebohongan yang sangat mencolok adalah soal data kemiskinan, SBY berkali-kali menyatakan telah berhasil mengurangi kemiskinan menjadi 31,02 juta jiwa.

Faktanya, jika digunakan pendekatan penduduk yang layak menerima beras untuk rakyat miskin (Raskin), maka pada tahun 2010 kemarin, jumlah penerima Raskin mencapai 70 juta orang.

Tak hanya itu, jika dilihat dari data penduduk yang berhak menerima layanan kesehatan bagi orang miskin (Jamkesmas), jumlah warga miskin di Indonesia malah mencapai 76,4 juta jiwa.

Hal lain adalah soal pemberantasan korupsi, yang memang belakangan ini sarat dengan intrik terutama dalam kasus bank Century dan kasus mafia pajak dengan tokoh utamanya Gayus Halomoan Tambunan.

Kasus Lapindo, kasus TKI, dan kasus kematian Munir, masuk dalam daftar kebohongan yang disorot para tokoh lintas agama ini.

Daniel Sparingga sehari sebelumnya, Jumat 14 Januari 2011, mendatangi Kantor PGI Pusat di bilangan Salemba, yang kebetulan hari itu menggelar Dengar Pendapat Publik yang digelar Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Anti Kebohongan.

Dalam kesempatan itu, Sparingga mengaku diutus Presiden untuk menyerap secara langsung aspirasi yang berkembang dalam masyarakat.

Dalam dengan pendapat itu, terungkap bahwa kebohongan ynag dilakukan SBY tidak lagi bersifat kasuistik tetapi sudah sistimatis.

Salah satu tokoh agama kepada Daneil menyatakan, sebaiknya Presiden jangan sibuk mengklarifikasi kebohongan yang dituduhkan kepadanya, namun lebih baik bekerja dengan nyata.