Ekonomi Kepri Terpuruk, Gubernur Diminta Evaluasi Kinerja OPD
Oleh : Ismail
Selasa | 08-08-2017 | 18:14 WIB
ing-iskandarsyah-oke1.gif
Anggota Komisi II DPRD Kepri, Ing Iskandarsyah (Foto: dok.batamtoday.com)

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Merosotnya perekonomian Provinsi Kepulauan Riau pada angka 1,52 persen pada Semester I tahun 2017 ini mengundang kritik dari berbagai pihak. Betapa tidak, sejak 15 tahun terbentuknya Provinsi Kepri, baru di tahun ini perekonomian berada pada minimnya angka pertumbuhan.

Angka tersebut tentunya tidak relevan jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi II DPRD Kepri, Ing Iskandarsyah menilai, selama ini ekonomi Kepri hanya mengandalkan modal asing dan ekspor. Sehingga, tak heran menurunnya perekonomian secara global berdampak serius pada perekomian Provinsi Kepri.

"Ekonomi kita dibangun seperti balon. Jika sedikit saja bocor, kempesnya luar biasa," kata Iskandarsyah menganalogikan terpuruknya perekonomian Kepri.

Oleh karena itu, dirinya meminta Gubernur segera melakukan evaluasi kinerja Organisasi Kepala Daerah (OPD) tentang penyerapan anggaran. Hal ini menurutnya sangat penting, karena sebagaimana diketahui hingga Juli 2017 serapan APBD rata-rata hanya menyentuh angka 25-35 persen.

"Sehingga wajar di kwartal ke-2 pertumbuhan ekonomi kita 1.52 persen data BPS," ujarnya.

Selain itu, ia menambahkan, melihat kondisi lesunya bidang industri saat ini, sudah seharusnya Pemprov Kepri menggenjot berbagai macam sektor yang berpotensi besar meningkatkan perekonomian. Seperti, sektor parawisata, maritim, pertanian dan perkebunan, serta Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM).

Iskandarsyah memandang, sudah saatnya Kepri membangun ekonomi yang fundamental dan mandiri yang berbasis domistik. Artinya, dengan mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) sendiri. Dengan begitu, secara langsung akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Kepri sendirinya.

"Sehingga, perekonomian kita tidak terlalu terpengaruh dengan ekonomi global, terutama kurs Dollar dan harga minyak," ungkap Iskandarsyah.

Ia berharap, anjloknya perekonomian Kepri ini dapat dijadikan pengalaman yang berharga. Agar, keterpurukan tersebut menjadi harga mati yang harus dibayar dengan meningkatkan kembali gairah pembangunan perekonomian Kepulauan Riau.

"Orang Kepri ini sudah capek hidup miskin. Padahal kita punya potensi besar, tapi kok kita belum mampu mendorong kesejahteraan yang merata. Itulah pekerjaan rumah yang harus dikerjakan," tutupnya.

Editor: Udin


BNN-KEPRI