DPR Nilai Ikim Investasi di Kepri Masih Menjanjikan
Oleh : Charles Sitompul
Jum'at | 29-01-2016 | 10:28 WIB
dedeyusuf.jpg
Dede Yusuf memimpin Komisi IX DPR RI dalam kunjungan kerja ke Batam. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM - Iklim investasi di Kepri masih menjanjikan meskipun saat ini marak perusahaan asing yang hengkang dari Batam. Kondisi ini sendiri menarik Komisi IX DPR RI melakukan kunjungan spesifik untuk melihat kondisi terakhir ketenagakerjaan dan investasi di Kepri. 

"Kita sepakat, bahwa kesejahteraan tenaga kerja adalah hal yang wajib. Namun demikian, keberlangsungan investasi harus kita jaga juga," kata ketua Rombongan Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf di Pemko Batam, Kamis (28/1/2016).

Untuk itu, DPR berharap, kedepan hubungan harmonis antara pekerja dan penguasaha terus terjaga. Apalagi, saat ini negara tetangga terus bersaing menawarkan banyak kemudahan berinvestasi. "Kami berharap cost of money dapat dipotong, dan mogok kerja tidak berlarut-larut terjadi di Kepri," kata politisi Demokrat ini.

Harapan ini juga diamini Kadisnaker Kepri, Tagor Napitupulu mewakili Penjabat Gubernur. Ia meminta, agar DPR terus mendorong dunia investasi terus bertumbuh.

"Tantangan kita saat ini adalah diberlakukannya MEA (masyarakat ekonomi Asean). Kami berharap Komisi IX dapat memfasilitasi sertifikasi dan kompetensi bagi para pekerja di Kepri dan Batam," harap Tagor. Agar, kedepan balai-balai pelatihan yang saat ini belum banyak berfungsi dapat segera dihidupkan dan berjalan.

Selain masalah balai latihan, Tagor juga menjelaskan bahwa saat ini 80 persen tenaga kerja di Kepri ini berpusat di Batam. Sisanya, tersebar di seluruh kabupaten kota se-Kepri.

Di tempat yang sama, Kadisnaker Kota Batam Zarefriadi menjelaskan bahwa di Batam jumlah perusahaan yang beroperasi kurang lebih 6 ribu perusahaan dengan jumlah tenaga kerja terserap mencapai 300 ribu orang ditambah 6 ribu tenaga kerja asing. Sepanjang tahun 2015 lalu, jumlah disnaker mencatat setidaknya terjadi 36 kali mogok kerja. "Artinya dalam sebulan terjadi sekitar tiga kali mogok kerja," jelasnya.

Kondisi ini memang sedikit tidak menguntungkan. Akibatnya pada tahun lalu setidaknya delapan perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja dan 54 perusahaan tutup. "Kami berharap, agar kedepan kita semua bisa sama-sama mencarikan solusi terhadap permasalahan ini," harap Zarefriadi. Kunjungan spesifik Komisi IX kali ini juga melihat secara langsung kondisi investasi dan pekerja di Kawasan industri Mukakuning. 

Editor: Dodo