Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Waspadai Bahaya Tersembunyi Mengonsumsi Ikan Nila
Oleh : Redaksi
Selasa | 04-07-2017 | 20:02 WIB
ikan_nila.jpg Honda-Batam
Ikan Nila. (Foto: AFP)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Ikan nila menjadi salah satu sumber protein yang banyak digemari masyarakat karena harganya yang murah dan juga rasanya yang nikmat.


Ikan ini juga mengandung kadar lemak, kolesterol, dan kalori yang lebih rendah dibandingkan daging sapi dan babi. Ikan nila juga kaya akan vitamin, mineral, serta asam lemak yang baik untuk kesehatan tubuh.

Sayangnya, tidak semua ikan nila baik untuk dikonsumsi setiap hari. Beberapa ikan hasil budidaya seperti nila ternyata memiliki risiko kesehatan utama yang patut diwaspadai.

Bahkan, beberapa ahli gizi mengatakan bahwa memakan ikan nila jauh lebih buruk daripada mengkonsumsi daging asap.

Ikan terkadang menjadi alternatif paling favorit bagi manusia untuk mendapatkan asupan asam lemak omega 3 yang berguna menurunkan tekanan darah, mengurangi kolesterol dalam aliran darah, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Omega 3 juga bisa meminimalisir potensi arthritis, depresi, penyakit jantung, hingga kanker.

Namun, berdasarkan sebuah studi dari Universitas Wake Forest pada 2008 lalu, ikan nila mengandung lebih banyak omega 6 daripada omega 3 dengan rasio 11 banding 1.

Meski omega 6 juga dibutuhkan tubuh, perbandingan rasio antara omega 6 dan 3 yang baik untuk tubuh adalah 2 sampai 4.

Terlalu banyak asupan omega 6 bisa meningkatkan risiko asma, arthritis, dan kondisi peradangan lain dalam tubuh.

Diberitakan FoxNews, penelitian tersebut juga memaparkan bahwa risiko radang dari mengonsumsi hamburger dan bacon babi lebih rendah daripada ikan nila budidaya.

Berdasarkan sejumlah laporan, peternak di China kerap memberi pakan ikan nila budidaya dengan kotoran binatang seperti ayam, bebek, hinngga babi.

Dengan demikian, mengonsumsi ikan nila budidaya seperti ini bisa meningkatkan risiko kanker 10 kali lipat daripada nila yang ditangkap di alam liar.

Laporan ini diperkuat dengan penelitian Economic Research Service of the U.S. Department of Agriculture (USDA) pada 2009, yang menemukan bahwa banyak makanan laut yang diimpor dari China dibudidayakan dalam industri di mana udara, air, dan tanah terkontaminasi.

Penelitian tersebut juga menuturkan, menjadi hal yang lumrah di China untuk membuang ampas dan limbah ternak unggas ke ladang atau menggunakannya sebagai pakan ikan.

Kantor berita Bloomberg pernah melaporkan bahwa penggunaan kotoran hewan sebagai pakan ikan budidaya merajalela di China. Hal ini menjadi perhatian khusus AS mengimpor 70 persen ikan nila dari Negeri Tirai Bambu itu.

Pada 2006, nila yang diimpor dari China telah disertakan Seafood Watch dalam daftar ikan yang patut dihindari.

Karena nila dibudidayakan dalam kolam ikan yang sering penuh sesak, ikan tersebut rentan terhadap penyakit. Sang peternak lantas kerap memberi ikan-ikannya antibiotik untuk mencegah penyakit.

Tak jarang, para peternak juga sering memberikan pestisida untuk mengobati kutu dan masalah kesehatan umum lainnya pada ikan-ikannya.

Bahan kimia tersebut memang efektif membuat ikan-ikan nila tersebut tetap sehat. namun, ketika ikan tersebut dikonsumsi manusia, ini bisa berbahaya untuk kesehatan.

Salah satunya Dibutylin, bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik, juga bisa ditemukan pada ikan nila yang dibudidayakan. Bahan kimia beracun ini diketahui menyebabkan peradangan dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Bahan tersebut juga bisa meningkatkan risiko alergi, asma, obesitas, dan gangguan metabolisme.

Selain Dibutylin, dioksin juga suka ditemukan pada ikan nila. Bahan kimia jenis ini sering dikaitkan dengan pemicu perkembangan kanker dan masalah kesehatan serius lainnya.

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Dardani