Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dana Seret, Pemberantasan Malaria Terhambat
Oleh : Redaksi
Kamis | 15-12-2016 | 10:38 WIB
malaria1.jpg Honda-Batam

Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - WHO, Organisasi Kesehatan Dunia di bawah naungan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional, menyatakan upaya pengendalian risiko penyebaran malaria di dunia belakangan ini terhambat akibat dana tersendat.

Ini disampaikan WHO dalam laporan tahunan yang diterbitkan pada Selasa (13/12/2016), sebagaimana dilansir AFP.

Secara keseluruhan, persentase kasus baru malaria turun jadi 21 persen selama 2010 hingga 2015. Selain itu, rasio kematian turun jadi 29 persen. Namun untuk Afrika tingkat kematian masih 31 persen.

Secara global, masih ada 212 juta kasus malaria baru dan 429 ribu kematian akibat penyakit yang ditularkan oleh nyamuk tersebut.

Menurut WHO, jumlah tersebut masih bisa dicegah mengingat, sebagai contoh, 43 persen pupulasi di kawasan Sub-Sahara Afrika tidak terlindungi oleh jaring nyamuk atau semprotan anti-nyamuk dalam ruangan.

"Kemajuan tidak terduga di kasus malaria adalah salah satu kesuksesan terbesar dalam sejarah dunia kesehatan," kata Pedro Alonso, direktur program malaria global WHO, di London, Inggris.

"Namun tetap, setiap dua menit seorang anak meninggal akibat malaria. Tidak ada waktu untuk berpuas diri, masih banyak yang harus dilakukan," katanya.

Alonso mengatakan publik global perlu melihat sumber daya domestik di negara yang terdampak. Ia mengatakan orang-orang masih membutuhkan obat-obatan baru yang memungkinkan melakukan lebih banyak hal dibanding sekadar penanganan medis.

Dalam laporan tahunan tersebut, WHO juga menyebutkan bahwa pendanaan yang cukup dan berkelanjutan juga sebagai tantangan serius dalam penanganan malaria.

Hal ini didasarkan dari catatan WHO tentang investasi pada penanganan malaria. Terjadi kenaikan tajam akan pendanaan terhadap malaria dari 2000 hingga 2010, namun setelah periode tersebut grafik melandai.

"Pada 2015, pendanaan untuk melawan malaria secara keseluruhan mencapai US$2,9 miliar, mewakili hanya 45 persen dari keseluruhan pendanaan untuk 2020 sebesar US$6,4 miliar," tulis WHO.

Amerika Serikat tercatat sebagai penyedia 35 persen dana tersebut pada 2015. Di Negeri Paman Sam sendiri, terjadi kenaikan angka kasus malaria hingga 32 persen dan di Inggris malaria naik 16 persen.

Sedangkan di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan pada April lalu bahwa angka kejadian malaria di Indonesia telah turun sampai 0,85 per seribu pada 2015.

Kemenkes dalam rilisnya juga menyatakan bahwa 80 persen kabupaten/kota di Jawa, Bali, Sumatra Barat telah mencapai eliminasi malaria. Dengan kata lain, 74 persen penduduk Indonesia telah hidup di daerah bebas penularan malaria.

Pada 2010, Kemenkes mencatat jumlah kejadian malaria di Indonesia sebesar 465.764 kasus. Dan pada 2015, angka tersebut menurun menjadi 209.413 kasus.

Selain tantangan pendanaan, hambatan lain dalam penanganan malaria adalah meningkatnya resistensi atau kekebalan penyakit terhadap obat anti-malaria. Salah satunya, adalah meningkatnya kekebalan nyamuk terhadap insektisida.

Namun, WHO dalam laporannya menggarisbawahi perbaikan yang telah dilakukan di kawasan Sub-Sahara Afrika selama beberapa tahun terakhir berupa penyediaan bantuan untuk wanita hamil dan anak-anak dalam kasus malaria.

"Kematian yang berkaitan dengan malaria pada anak di bawah lima tahun di Sub-Sahara Afrika menjadi titik terendah dalam sejarah," kata Ray Chambers, utusan khusus Sekjen PBB untuk malaria.

"Ini dikarenakan sebagian besar oleh penerapan 500 juta kelambu mengandung insektisida selama tiga tahun terakhir. Ini adalah angka tertinggi selama ini. Perlakuan tersebut juga diimbangi dengan ekspansi signifikan dari diagnosis dan penanganan malaria." lanjut Chambers.

Kematian akibat malaria pada anak di bawah lima tahun secara global turun 69 persen sejak 2000, menjadi 303 ribu pada 2015. Kawasan Sub-Sahara Afrika "rumah" dari 90 persen kasus malaria secara global dan menyumbang 92 persen kematian akibat malaria pada 2015.

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Yudha