Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Peneliti Uji Coba vaksin Baru HIV di Afrika Selatan
Oleh : Redaksi
Rabu | 30-11-2016 | 11:02 WIB
Ilustrasi-HIV1.jpg Honda-Batam

Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Para peneliti terus mencari cara melawan virus HIV, momok kesehatan dunia selama lebih dari tiga dekade belakangan.

 

Saat ini, vaksin HIV baru sedang diuji di Afrika Selatan dalam sebuah studi yang melibatkan ribuan orang. Melansir Live Science, studi yang dibiayai oleh National Institute of Health (NIH) ini adalah yang pertama kalinya selama tujuh tahun terakhir melakukan pengujian efektivitas vaksin untuk menangkal HIV.

"Bila digunakan bersamaan dengan semua perangkat pencegahan HIV, sebuah vaksin HIV yang efektif dan aman dapat menjadi senjata ampuh melawan HIV," kata Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease NIH.

"Bahkan," ia menambahkan, "hanya dengan vaksin yang cukup efektif dapat menurunkan secara signifikan beban penyakit HIV dari waktu ke waktu di negara dengan populasi tinggi terkena infeksi HIV."

NIH menyatakan di Afrika Selatan, terdapat lebih dari seribu orang positif terjangkit HIV, setiap hari.

Bukan kali ini saja vaksin HIV coba diciptakan. Vaksin HIV terakhir kali menunjukkan sebuah peluang di Thailand pada 2003. Enam tahun kemudian, pada 2009, para peneliti mengungkap bahwa vaksin tersebut efektif mencegah hingga 31 persen selama 3,5 tahun.

Dengan kata lain, rasio infeksi 31 persen lebih rendah dalam grup yang diberi vaksin dibanding mereka yang diberi plasebo.

Pengujian vaksin di Afrika Selatan ini akan menggunakan jenis yang mirip dengan di Thailand. Namun ada beberapa modifikasi dalam vaksin di Afrika Selatan ini yang memungkinkan pemberian perlindungan lebih tahan lama dan lebih besar.

Para peneliti berencana mengikutsertakan 5.400 pria dan wanita yang aktif secara seksual di rentang usia 18 hingga 35 tahun tapi tidak positif HIV. Dan hasil penelitian ini dijadwalkan rampung pada 2020.

"HIV telah menjadi katalisator kehancuran di Afrika Selatan, namun kini kami memulai eksplorasi ilmiah yang dapat menjadi harapan besar bagi negara ini," kata Glenda Gray, salah satu peneliti sekaligus presiden South African Medical Research Council.

Dalam pengujian di Thailand sebelumnya, peneliti menggunakan dua jenis vaksin: ALVAC-HIV dan vaksin subunit protein.

ALVAC-HIV terdiri dari virus burung yang sudah dimodifikasi mengandung tiga gen virus HIV. Sedangkan vaksin subunit protein mengandung rekayasa genetika dari protein yang ditemukan pada permukaan virus HIV.

Kedua vaksin tersebut kemudian dimodifikasi kembali untuk mampu menghadapi jenis subtipe virus HIV penyebab tingginya kasus HIV di Afrika Selatan, HIV subtipe C.

Selain itu, vaksin yang digunakan di Afrika Selatan ini juga diberi bahan tambahan yang mampu meningkatkan fungsi vaksin. Dan, akan diberikan tambahan vaksin setelah satu tahun dengan harapan memperpanjang efek proteksi.

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Yudha