Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kolaborasi Tari 'Krisis' Pentas di Rumah Budaya Fadli Zon
Oleh : Redaksi/Rilis
Kamis | 05-06-2014 | 11:42 WIB
tari-di-rumah-budaya1.jpg Honda-Batam
Ali Sukri, Dosen Tari ISI Padangpanjang (kiri), Arco Renz, penari/koreografer berdomisili di Belgium. (Foto: Ist)

BATAMTODAY.COM, Padangpanjang - Sebuah kolaborasi tari bertajuk 'Krisis' garapan Indonesian Dance Festival (IDF), Arco Renz, (penari/koreografer berdomisili di Belgium), dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, tampil di Rumah Budaya Fadli Zon, Rabu (4/6/2014) malam.

Pengurus Rumah Budaya Fadli Zon, Edin Hadzalic, mengatakan, kegiatan itu dihadiri sejumlah seniman Sumatera Barat dan kalangan mahasiswa, khususnya dari ISI Padangpanjang.

"Selain pertunjukan singkat tari itu, juga diadakan diskusi tanya-jawab terkait proses kreatif penggarapannya," kata Edin Hadzalic melalui rilisnya kepada BATAMTODAY.COM, Kamis (5/6/2014).

Dia menyebutkan, tari 'Krisis' merupakan buah kolaborasi antara Arco Renz (Kobalt Works) dan Ali Sukri
(koreografer, dosen tari ISI Padangpanjang), serta enam penari muda ISI Padangpanjang.

"'Krisis' adalah produksi bersama IDF dan Kobalt Works. Cuplikan serta presentasi pendek tari akan dihadiri
oleh seluruh pendukung yang terlibat, juga diikuti oleh sesi 'tanya-jawab', dimana penonton dapat menggali lebih dalam dan intim tentang proses kreatif para koreografernya," ujar Edin.

Penampilan tari yang lebih panjang akan dipentaskan di panggung 'Teater Hoerijah Adam ISI Padangpanjang'
pada Minggu (6/6/2014) malam, sementara pementasan perdana  (world premiere) akan digelar pada penutupan Indonesian Dance Festival (IDF), 8 November 2014, di Komunitas Salihara, Jakarta.
 
Terkait kolaborasi itu, Arco Renz mengatakan, dirinya memandang aspek-aspek konstruktif dan positif dalam (konsep) 'Krisis' sebagai sebuah keadaan yang tidak stabil yang akhirnya bermanfaat untuk memicu perubahan.

"Pencak-silat adalah elemen yang penting dalam latar belakang kebudayaan serta artistik para penari muda yang terlibat. Selama proses kolaborasi, para penari ini dihadapkan pada pengaruh-pengaruh baru serta tak terduga yang dapat membentuk konstelasi-konstelasi (gerakan) di mana pilihan-pilihan harus diambil agar tetap tumbuh, ada dan bertahan," paparnya.
 
Dosen Tari ISI Padangpanjang, Ali Sukri, menyebutkan, proses kolaborasi ini bukan membunuh gerak tradisi, tetapi mencoba menerapkan pendekatan tertentu terhadap gerak pencak-silat sehingga menciptakan sesuatu yang nampak baru dan berdasar pada realitas kini.

"Gerak tradisi tetap hidup dan berkembang sesuai dengan fungsinya. Penciptaan sesuatu yang baru justru
akan menambah kekayaan karya tari di dalam seni pertunjukan Indonesia," katanya.
 
Sementara Direktur IDF, Maria Darmaningsih, mengatakan, tahun ini IDF memprakarsai satu produksi penuh
karya koreografer Indonesia karya Retno Maruti sebagai pembuka, dan satu ko-produksi internasional yaitu karya yang berjudul 'Krisis' sebagai penutup.

"Mendampingi proses kreatif ini merupakan pengalaman berharga bagi kami di IDF, baik dari segi produksi
seperti perencanaan dan pendanaan, maupun sebagai upaya pengembangan wacana. Kami amat berterima kasih pada para mitra, yaitu teman-teman di ISI Padangpanjang serta Rumah Budaya Fadli Zon yang telah membantu kelancaran kerjasama ini," ujarnya.

Editor: Redaksi