Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Prospek Ekonomi Indonesia di Tahun Pemilu 2014

Pemerintah Diminta Waspadai Empat Langkah Pelambatan Ekonomi
Oleh : Surya
Senin | 23-12-2013 | 11:06 WIB
sloetan.jpg Honda-Batam
Pengamat Perencanaan Pembangunan Syahrial Loetan

BATAMTODAY.COM, Jakarta -  Perekonomian Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir, cukup baik dalam memelihara keseimbangan mesin pertumbuhannya. Hal itu terlihat pada tahun 2013 ini yang hanya bertopang kepada konsumsi domestik. Meski demikian, prospek ekonomi tahun 2014 dinilai memiliki peluang positif bagi Indonesia.


"Upaya mewujudkan peluang positif itu, harus dilakukan dengan memperhatikan 4 kelambanan yang selama ini terjadi," ujar Pengamat Perencanaan Pembangunan, Syahrial Loetan, dalam siaran persnya, di Jakarta, kemarin.

Syahrial mengungkapkan keempat langkah lambat pemerintah yang selama ini terjadi. Pertama, upaya memperkecil transaksi berjalan ternyata cukup berat di tengah keadaan dimana impor cukup tinggi dan ekspor melemah. Sementara itu, upaya perbaikan struktural di dalam negeri tidak kunjung tuntas. Banyak kebijakan yang dilahirkan, namun lemah di dalam implementasinya.

"Sebagai contoh dalam konsep diversifikasi energi yang sudah lama didengungkan, namun nyatanya tidak dijaga konsistensi dalam melaksanakan kebijakan tersebut, yang salah satunya berdampak kepada tingginya angka subsidi yang harus di sediakan pemerintah didalam APBN," kata dia.

Padahal, lanjutnya, periode tahun 2010-2011 tercatat perekonomian Indonesia banyak diuntungkan dengan tingginya harga komoditas pokok seperti kelapa sawit dan batubara. Oleh sebab itu, neraca perdagangan Indonesia cenderung positif. Namun hal sebaliknya terjadi pada 2012-2013, yaitu kecenderungan negatif karena anjloknya harga komoditi ekspor Indonesia, akibat berbagai alasan. Antara lain, melemahnya permintaan di beberapa tujuan ekspor Indonesia, sehingga mengganggu nilai tukar rupiah terhadap beberapa mata uang kuat dunia.

Kedua, struktur industri manufaktur yang 'tidak lengkap' dari hulu ke hilir, mengakibatkan pemerintah kesulitan meningkatkan kapasitas nasional sesuai dengan laju permintaan.

"Banyaknya  'produk antara'yang tak diproduksi sendiri menjadi kendala dalam peningkatan kapasitas tersebut. Dengan kata lain, struktur industri kita yang masih dangkal masih menyimpan sejumlah masalah, yang cukup serius jika kedepan tidak segera diperbaiki," papar Syahrial.

Ketiga, banyaknya kelemahan didalam perencanaan program maupun implementasi dari Anggaran Pemerintah tahun 2013 yang dialokasikan pada Kementerian dan Lembaga serta Pemerintah Daerah. Artinya, didalam situasi yang tidak terlalu kondusif, sebenarnya pengeluaran pemerintah yang disusun secara baik, dan diimplementasikan secara baik dan tepat waktu, akan memberikan dampak multiplier yang cukup signifikan. Khususnya, dalam penyerapan tenaga kerja.

"Namun, banyak anggaran pemerintah yang sudah dialokasikan kepada belanja modal, tak dapat di serap secara maksimal, sehingga dampak multiplier-nya menjadi tertunda," terang dia.

Keempat, sinyal pemerintah yang akan mengerem sedikit laju pertumbuhan ekonomi namun dengan target yang lebih tinggi dari tahun 2013, memberikan tanda yang sedikit membingungkan. Namun, lebih baik semua pihak melihat prospek investasi swasta dan pergerakan konsumsi rumah tangga. Kedua elemen akhir ini sebenarnya mempunyai dampak yang lebih dominan bagi menyumbang angka produk domestik bruto. Kegiatan Pemilu di tahun 2014 akan menyebabkan banyaknya dana yang menyebar di rumah tangga, sehingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih tetap tinggi.

"Semakin banyaknya kelompok muda dengan pendapatan yang lumayan tinggi akan tetap berbelanja dengan uang yang mereka punyai. Naiknya kebutuhan akan belanja rumah dan transportasi akan menambah jumlah uang yang dibelanjakan dari kaum menengah yang rata-rata berusia muda," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, pada Nota Keuangan 2014 yang dibacakan oleh Presiden SBY, Presiden menyatakan akan meningkatkan kualitas belanja negara, khususnya untuk bidang infrastruktur, perluasan kesempatan kerja dan pengendalian kemiskinan. Sejalan dengan ini anggaran yang tidak langsung memberikan multiplier akan dikurangi. Besaran APBN yang naik sebesar 7 persen dari tahun 2013 menjadi Rp. 1,842 Triliun memuat penurunan anggaran subsidi energi 5,9 persen menjadi Rp. 282,1 triliun, terutama dengan pencabutan subsidi listrik untuk beberapa jenis industri. Belanja barang diturunkan menjadi Rp. 201,9 triliun dan belanja modal naik menjadi Rp. 205,8 triliun, termasuk didalamnya belanja infrastruktur yang meningkat menjadi Rp. 188,7 triliun. Belanja infrastruktur ini sebenarnya dapat memberikan efek multiplier yang cukup besar.

Berbagai analisis bahkan memperlihatkan kecenderungan posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang prospektif bagi investasi di tahun 2014. Akibatnya, terjadi arus modal yang semakin tinggi seperti sudah dilihatkan pula pada tahun 2013 ini. Seperti masuknya banyak investasi asing di berbagai bidang termasuk retail, hotel, restoran dan semacamnya.

Saat ini, ungkap dia, fenomena yang terlihat adalah terjadinya perbaikan secara bertahap pada ekonomi di Amerika dan sebagian Eropa yang mulai lepas dari krisis. Hal ini membalikkan kondisi di negara-negara emerging seperti Indonesia, dimana arus modal mulai berbalik arah menuju Indonesia.

Dampak Pemilu 2014
Syahrial menambahkan, jika Pemilu 2014 berjalan lancar dan tenang serta menghasilkan pemerintahan yang baru, akan mengakibatkan dunia bisnis merasa nyaman untuk memulai penyusunan rencana bisnis yang lebih mantap.

Tampaknya, kata dia, pada 2014 krisis eksternal yang terjadi diluar negeri akan berangsur pulih. Dengan demikian, diharapkan ekspor Indonesia akan terdongkrak menjadi lebih baik, seiring dengan meningkatnya harga-harga komoditi yang akan memperbaiki neraca keuangan Indonesia. Dan dengan memperlihatkan berbagai trend dan faktor yang terjadi selama tahun ini, dengan segala tantangan yang ada, nampaknya keadaan pertumbuhan 2014 akan lebih tinggi dari pada tahun 2013.

"Oleh sebab itu, upaya yang diharapkan dari sisi pemerintahan agar anggaran untuk belanja modal, khususnya yang dialokasikan bagi infrastruktur perlu diawasi agar penyerapannya sesuai dengan target waktu dan kualitas. Sehingga dapat memberikan dampak besar kepada pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Mantan Sekretaris Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Sekretaris Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ini.

Editor: Surya