Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Gaji Tak Cukup, Pelayan Rumah Makan Nekat Jadi Sindikat Curanmor
Oleh : hz/dd
Sabtu | 16-02-2013 | 12:12 WIB
borgol.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAM, batamtoday - JA (19), salah satu tersangka sindikat curanmor yang dibekuk tim buser Polsek Lubuk Baja mengaku kalau dirinya terpaksa mencuri sebab uang gaji sebagai pelayan rumah makan tak mencukupi membiayai kebutuhan sehari-hari.

"Saya terpaksa mencuri, sebab gaji sebagai pelayan restoran tak cukup untuk hidup di Batam," kata tersangka JA kepada batamtoday, Sabtu (16/2/2013) di Mapolsek Lubuk Baja.

Awalnya, lanjut JA, dia takut untuk mencuri, namun setelah dibujuk tersangka EI, akhirnya kedua pemuda asal Lampung ini kompak menjadi sindikat curanmor karbitan dan beraksi di wilayah Nagoya dan Jodoh.

"Awalnya takut, tapi sudah berhasil sekali akhirnya kami mulai beraksi ke TKP selanjutnya untuk mengincar motor lain," lanjutnya.

Masih kata JA, dalam setiap aksi mereka, dia bertugas sebagai pengintai dan memantau situasi, sedangka EI bertugas sebagai ekskutor dan memetik motor dengan kunci T yang selalu dibawa oleh sindikat ini.

Sementara tersangka EI, mengaku kalau kunci T itu dipesannya di daerah Tanjung Piayu dari seorang kenalannya di sana. Dengan kunci T itulah sindikat curanmor ini beraksi hingga akhirnya dibekuk polisi.

"Kunci T itu saya bikin seharga Rp15 ribu, saya tahu kunci T ini bisa digunakan untuk mencongkel motor dari pemberitaan di koran dan TV," kata EI.

Sedangkan sepeda motor Yamaha Jupiter yang dijual mereka kepada R, salah satu penadah di Batuaji seharga Rp800 ribu tak semua bisa dinikmati, sebab baru dibayar separuh dari penadah tersebut.

"Motor itu dijual seharga Rp800 ribu, tapi baru dibayar Rp300 ribu saja dan uang itu kami bagi berdua," terangnya.

Tersangka EI mengaku menyesal, sebab niat hati ingin mendapatkan uang yang besar dengan nekat mencuri, namun malah mendekam di sel tahanan akibat aksi yang meraka lakukan.