Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Saat Berhaji, Kerinduan Arung Membuncah Pada Almarhum Ayah
Oleh : Saibansah
Rabu | 17-06-2026 | 09:48 WIB
arung.jpg Honda-Batam
Muhammad Najib Arung Petana yang menunaikan ibadah haji menggantikan almarhum ayahnya. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Di antara jutaan orang yang memadati Tanah Suci tahun ini, Muhammad Najib Arung Petana menyimpan sebuah kerinduan yang tak pernah benar-benar pergi. Kerinduan itu tertuju kepada ayahnya.

Saat melangkah di pelataran Masjid Nabawi, berdoa di tempat-tempat mustajab, hingga menyelesaikan rangkaian ibadah haji, pria berusia 30 tahun itu berkali-kali membayangkan sosok yang seharusnya berada di sampingnya.

Bukan dirinya yang semula dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci. Porsi haji itu milik sang ayah.

Namun takdir berkata lain. Empat tahun lalu, ayah Arung meninggal dunia ketika masa tunggu keberangkatan haji tinggal menghitung beberapa tahun lagi. Padahal, kedua orangtuanya telah mendaftarkan diri sejak 2013.

"Saya sama sekali tidak pernah membayangkan bisa berhaji pada usia sekarang," kata Arung saat ditemui di Madinah.

Keberangkatannya bermula ketika sang ibu memperoleh informasi bahwa porsi haji almarhum ayahnya dapat dialihkan kepada ahli waris.

Informasi itu kemudian dikonfirmasi ke Kementerian Agama dan pihak perbankan. Hasilnya, kursi haji tersebut memang dapat dilimpahkan kepada anggota keluarga yang memenuhi syarat.

Meski demikian, keputusan untuk berangkat tidak langsung diambil.

Saat itu Arung masih berada dalam suasana duka. Kehilangan sosok ayah membuatnya belum memiliki kesiapan mental untuk menjalani perjalanan spiritual yang selama ini menjadi impian orangtuanya.

Namun sang ibu memiliki pandangan berbeda.

Menurut Arung, ibunya meyakinkan bahwa ibadah haji merupakan panggilan Allah yang datang melalui berbagai jalan, termasuk melalui peristiwa yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Perlahan, keyakinan itu tumbuh.

Ia mulai memandang keberangkatan tersebut bukan sekadar menggantikan nama ayahnya dalam daftar jemaah, melainkan menjalankan panggilan yang telah ditetapkan untuk dirinya.

Pria yang kini tinggal di Denpasar, Bali, itu akhirnya berangkat mendampingi ibunya menunaikan rukun Islam kelima.

Sepanjang perjalanan ibadah, Arung mengaku banyak mengenang sang ayah.

Ia masih mengingat karakter ayahnya yang tegas tetapi humoris. Ia juga teringat berbagai cerita tentang Tanah Suci yang pernah disampaikan ayahnya seusai menjalankan umrah bertahun-tahun lalu.

Cerita-cerita itulah yang kini seperti hidup kembali ketika ia menyaksikan langsung tempat-tempat yang dahulu hanya dikenalnya lewat kisah sang ayah.

Setiap ibadah yang dilakukan selama di Arab Saudi diniatkannya untuk almarhum.

Mulai dari umrah sunnah, sedekah, hingga doa-doa yang dipanjatkan di berbagai tempat mustajab.

Namun ada satu keinginan sederhana yang terus tersimpan dalam hatinya.

Sebelum berangkat, beberapa orang pernah bercerita bahwa di Tanah Suci seseorang terkadang dapat berjumpa dengan sosok yang sangat mirip dengan orang yang dicintainya.

Arung tidak tahu apakah cerita itu benar atau tidak.

Hingga menjelang akhir masa tinggalnya di Arab Saudi, ia belum menemukan sosok yang menyerupai ayahnya. Tetapi jika suatu saat hal itu terjadi, ia sudah tahu apa yang akan dilakukannya. "Saya ingin memeluknya," ucap Arung dengan suara bergetar.

Matanya mulai berkaca-kaca. "Saya ingin bilang kalau saya sayang kepada beliau."

Bagi Arung, haji tahun ini bukan sekadar perjalanan fisik yang membawanya dari Indonesia ke Arab Saudi.

Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ruang perenungan yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ia mengaku pengalaman yang dijalani jauh berbeda dengan gambaran yang diperoleh saat mengikuti manasik haji.

Menurut dia, teori dan penjelasan yang diterima selama pelatihan memang penting, tetapi kenyataan di lapangan menghadirkan pelajaran yang jauh lebih besar.

Pelajaran itu bernama kesabaran.

Di tengah jutaan manusia yang bergerak dalam waktu dan tujuan yang sama, Arung belajar bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginan.

Cuaca yang panas, antrean panjang, hingga berbagai keterbatasan selama pelaksanaan ibadah mengajarkannya untuk menekan ego dan lebih banyak menerima keadaan. "Haji mengajarkan bahwa kesabaran itu tidak ada batasnya," katanya.

Dalam situasi seperti itu, menurut Arung, seseorang dituntut untuk lebih rendah hati dan berserah diri.

Ia merasa seluruh atribut yang biasa melekat pada seseorang—jabatan, status sosial, maupun latar belakang pendidikan—seolah kehilangan maknanya ketika mengenakan pakaian ihram yang sama dengan jutaan manusia lainnya.

"Semua ego tidak ada harganya di sini," ujarnya.

Pengalaman tersebut juga melahirkan sejumlah pesan yang ingin ia bagikan kepada calon jemaah haji di masa mendatang.

Menurut Arung, hal terpenting yang harus disadari setiap jemaah adalah bahwa mereka datang sebagai tamu Allah sekaligus tamu di negeri orang.

Karena itu, sikap rendah hati, kesabaran, dan kemampuan menghormati sesama menjadi bekal yang tidak kalah penting dibandingkan persiapan fisik maupun materi.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap jemaah membawa nama daerah dan negaranya masing-masing.

Apa yang dilakukan seseorang di Tanah Suci, menurut dia, tidak hanya mencerminkan dirinya sendiri, tetapi juga masyarakat tempat ia berasal. Selain itu, kesehatan menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

Cuaca ekstrem dan aktivitas ibadah yang padat membuat kondisi fisik sangat menentukan kelancaran pelaksanaan haji. "Jangan memaksakan diri. Kalau sehat, ibadah akan lebih nyaman," katanya.

Menjelang kepulangan ke Indonesia, Arung membawa pulang lebih dari sekadar kenangan perjalanan ibadah.

Ia membawa pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan kerinduan yang belum tuntas.

Kerinduan yang terus hidup dalam setiap doa yang dipanjatkannya di Tanah Suci, dengan harapan suatu hari nanti mereka dapat kembali dipertemukan.

Bukan lagi di dunia, melainkan di tempat yang lebih abadi.

Editor: Dardani