Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Koper Jemaah Haji Dicek Ketat, Dua Hari Sebelum Terbang
Oleh : Saibansah
Minggu | 14-06-2026 | 16:08 WIB
Koper_Jamah_Haji.jpg Honda-Batam
Para jemaah haji Indonesia bersiap meninggalkan tanah suci Makkah menuju tanah air tercinta. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Makkah - Pagi itu, suasana di Hotel Manar Al Bait, Syisyah, Makkah, tampak berbeda. Deretan koper berwarna-warni tersusun rapi memenuhi area hotel. Masing-masing telah dikelompokkan berdasarkan nomor rombongan. Di sudut-sudut lobi, para jemaah duduk menunggu sambil sesekali melirik timbangan yang menjadi pusat perhatian hari itu.

Wajah-wajah penuh harap bercampur cemas terlihat jelas. Ada yang sibuk menghitung kembali isi koper dalam benaknya, ada pula yang terus memegang tas kecil berisi barang tambahan yang belum tentu bisa ikut pulang.

Hari itu, Senin (1/6/2026), koper milik jemaah Kelompok Terbang (Kloter) UPG 4 Embarkasi Makassar menjalani proses penimbangan sebelum diberangkatkan menuju Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Dua hari kemudian, mereka dijadwalkan terbang kembali ke Indonesia setelah menuntaskan rangkaian ibadah haji.

Aturan maskapai sebenarnya sudah jelas. Koper bagasi dibatasi maksimal 32 kilogram dan koper kabin maksimal 7 kilogram. Namun bagi sebagian jemaah, persoalannya bukan sekadar angka di atas timbangan. Persoalannya adalah memilih mana yang harus dibawa pulang dan mana yang harus ditinggalkan.

"Kalau lebih berat, yang saya selamatkan dulu tentu oleh-oleh untuk keluarga," ujar Junarti Ramli, jemaah asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Kalimat itu mungkin mewakili perasaan banyak jemaah lainnya.

Selama berada di Tanah Suci, Junarti telah membeli berbagai buah tangan untuk keluarga, kerabat, dan tetangganya di kampung halaman. Baginya, oleh-oleh bukan sekadar barang, melainkan bentuk perhatian dan kebahagiaan yang ingin dibagikan sepulang dari perjalanan spiritual yang panjang.

Karena itu, jika harus mengurangi isi koper, pilihan Junarti sudah bulat. Barang-barang yang dibawanya dari Indonesia akan menjadi prioritas untuk ditinggalkan.

"Kalau ada yang mau menerima, barang dari Indonesia bisa saya berikan. Yang penting oleh-oleh untuk keluarga tetap bisa dibawa pulang," katanya sambil tersenyum.

Di dekatnya, Andi Tenri Olle memiliki cerita yang hampir serupa. Ia mengaku tidak kuasa menahan diri saat melihat berbagai pilihan oleh-oleh yang menarik di Makkah.

Kurma, cokelat, hingga boneka unta menjadi barang yang masuk ke dalam daftar belanjanya. Semua dibeli dengan satu tujuan: membuat keluarga di rumah ikut merasakan kebahagiaan dari perjalanan hajinya.

"Kami sangat antusias membeli oleh-oleh untuk keluarga di kampung, terutama untuk anak dan cucu," ujar Tenri.

Boneka unta yang dibelinya bahkan sudah dipersiapkan secara khusus. Baterainya dilepas agar tidak melanggar aturan penerbangan. Ia juga memastikan tidak ada air zamzam maupun barang terlarang lain yang tersimpan di dalam koper.

Namun soal berat koper, Tenri mengaku hanya bisa pasrah.

"Kalau ternyata melebihi batas, saya akan keluarkan barang yang saya bawa dari Indonesia. Oleh-oleh tetap menjadi prioritas," katanya.

Kisah serupa datang dari Ambo Anna Ambo Amang, jemaah asal Wajo yang tahun ini berkesempatan berhaji menggantikan ibunya. Di dalam kopernya tersimpan berbagai buah tangan yang telah lama masuk daftar belanja.

Ada kurma ajwah, cokelat Dubai, hingga tas-tas yang sedang populer di kalangan jemaah Indonesia. Semua dibeli dengan harapan dapat membawa kebahagiaan bagi keluarga yang menunggu di rumah.

Di tengah hiruk-pikuk proses penimbangan, petugas Aviation Security Garuda Indonesia, Norman Fajar, terus mengingatkan jemaah mengenai ketentuan bagasi. Koper yang melebihi batas berat harus dibongkar dan dikurangi isinya sebelum diberangkatkan.

Tak sedikit koper yang akhirnya dibuka kembali. Tali rafia yang membungkus koper pun terpaksa digunting agar pemeriksaan berjalan lancar.

Meski demikian, suasana tetap berlangsung hangat. Tidak terdengar keluhan berarti. Sebagian jemaah justru tertawa ketika harus memilah kembali barang bawaannya.

Bagi mereka, persoalan berat koper hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang menuju rumah.

Sebab di dalam koper-koper itu bukan hanya tersimpan kurma, cokelat, atau cendera mata. Di sana ada kerinduan yang ingin dibawa pulang, ada kebahagiaan yang hendak dibagikan, dan ada cerita dari Tanah Suci yang akan kembali hidup saat oleh-oleh itu sampai ke tangan keluarga tercinta.

Maka tak heran jika bagi sebagian jemaah, ketika harus memilih antara barang bawaan dari rumah dan oleh-oleh dari Tanah Suci, jawabannya sudah jelas sejak awal: oleh-oleh harus pulang bersama mereka.

Editor: Dardani