Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia-Swiss Perkuat Kemitraan Ekonomi, Dorong Aksesi OECD dan Ketahanan Energi Global
Oleh : Redaksi
Kamis | 04-06-2026 | 11:48 WIB
Indonesia-Swiss.jpg Honda-Batam
Menko Airlangga Hartarto, dalam pertemuan dengan Presiden Konfederasi Swiss, Guy Parmelin di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) OECD 2026 di Paris, 3 Juni 2026. (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Indonesia dan Swiss menegaskan penguatan hubungan bilateral yang semakin strategis dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) OECD 2026 di Paris, 3 Juni 2026. Kedua negara membahas perluasan kerja sama ekonomi, ketahanan energi dan pangan, serta percepatan proses aksesi Indonesia menjadi anggota OECD.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam pertemuan dengan Presiden Konfederasi Swiss Guy Parmelin menegaskan bahwa kemitraan Indonesia–Swiss memiliki peran penting dalam mendukung transformasi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Perluasan Kerja Sama Mineral hingga Dukungan Aksesi OECD

Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah rencana penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) non-binding di sektor mineral dan logam yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026. Kesepakatan ini diharapkan memperluas kerja sama kedua negara ke sektor bahan baku mineral kritis.

Swiss menekankan pentingnya komitmen keterbukaan pasar untuk memastikan implementasi kerja sama berjalan efektif dan berkelanjutan. Di sisi lain, Swiss juga menyatakan dukungan penuh terhadap aksesi Indonesia menjadi anggota OECD dengan memberikan kontribusi pendanaan sebesar 3 juta euro. Dukungan tersebut akan diimplementasikan melalui program kerja sama Swiss periode 2025-2028 yang mencakup penguatan tata kelola BUMN, peningkatan kapasitas Responsible Business Conduct, serta aksesi Indonesia ke Konvensi Anti-Suap OECD.

Pemerintah Indonesia saat ini terus mengoordinasikan pembahasan 240 instrumen hukum OECD bersama lebih dari 60 kementerian dan lembaga guna memastikan implementasi standar internasional tersebut tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga berjalan secara efektif di lapangan.

Reformasi BUMN dan Penguatan Sovereign Wealth Fund

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga memaparkan agenda besar reformasi BUMN di Indonesia melalui restrukturisasi dan efisiensi aset yang telah mengurangi jumlah BUMN secara signifikan.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah telah membentuk dana investasi negara Danantara, yang beroperasi layaknya pengelola investasi profesional. Lembaga ini mengelola aset dan investasi domestik maupun internasional, serta tengah menerbitkan obligasi global untuk menarik investasi asing.

Indonesia dan Swiss sepakat untuk memperkuat kerja sama dalam penerapan best practices tata kelola investasi, dengan memanfaatkan pengalaman Swiss dalam pengelolaan pasar keuangan yang matang.

Penguatan Ketahanan Energi dan Pangan

Kedua negara juga membahas penguatan ketahanan energi dan pangan di tengah meningkatnya risiko geopolitik global, termasuk potensi gangguan jalur perdagangan energi di kawasan Timur Tengah.

Indonesia menjelaskan strategi diversifikasi pasokan energi, di mana ketergantungan impor minyak dari Arab Saudi kini hanya sekitar 20 persen, sementara sisanya berasal dari negara-negara Afrika dan Amerika Serikat. Di sektor pangan, Indonesia telah mencapai tingkat swasembada untuk menjaga stabilitas harga jangka panjang, bahkan mulai mengekspor pupuk ke negara lain, termasuk Australia.

Sementara itu, Swiss tetap menjaga cadangan energi strategis selama 4 hingga 4,5 bulan serta memperkuat stok pupuk nasional untuk menjaga ketahanan domestik.

Untuk mendukung transisi energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI bersama SECO memperluas kerja sama teknologi melalui pengembangan smart grid dan sistem penyimpanan baterai (battery storage) guna mengoptimalkan potensi energi surya di Indonesia.

Kemitraan Strategis Jangka Panjang

Pertemuan ini menegaskan bahwa hubungan Indonesia-Swiss telah berkembang melampaui kerja sama diplomatik konvensional. Kedua negara berkomitmen untuk tidak hanya merespons tantangan jangka pendek, tetapi juga menyusun langkah mitigasi jangka panjang serta menetapkan target konkret dalam menghadapi dinamika dan ketidakpastian global di masa mendatang.

Editor: Gokli