Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bertahan di Huntara, Mulai dari Bantuan Mandek hingga Kental Manis untuk Susu Anak
Oleh : Rerdaksi
Kamis | 04-06-2026 | 09:08 WIB
040606_susu-kental-manis-anak.jpg Honda-Batam
Susu kental manis yang diperoleh dari bantuan sosial kini menjadi salah satu asupan yang dikonsumsi anak setiap hari Huntara Padang Gamping. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Agam - Lima bulan pasca-banjir bandang yang menerjang Kabupaten Agam, Sumatera Barat, ratusan warga yang masih tinggal di hunian sementara (Huntara) Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, terus berjuang menghadapi berbagai keterbatasan.

Selain kondisi tempat tinggal yang belum memadai, mereka kini dihadapkan pada persoalan ekonomi akibat terhentinya bantuan sosial dan hilangnya sumber mata pencaharian.

Sebanyak 113 kepala keluarga (KK) saat ini masih menghuni kompleks Huntara Padang Gamping. Kondisi bangunan yang bersifat sementara membuat warga harus menghadapi cuaca ekstrem setiap hari. Saat siang, suhu di dalam hunian terasa sangat panas. Sebaliknya, ketika hujan dan angin kencang datang, air kerap masuk melalui celah atap yang tidak tertutup rapat.

Situasi tersebut semakin berat setelah bantuan sosial yang sebelumnya diterima warga dilaporkan berhenti sejak usai Lebaran. Di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih, sejumlah keluarga terpaksa mengandalkan bantuan yang masih tersisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan gizi anak-anak.

Tidak sedikit orang tua yang memberikan susu kental manis kepada anak mereka sebagai pengganti susu, karena keterbatasan kemampuan membeli susu bubuk.

"Di sini kami masih menunggu bantuan. Kalau bisa memang susu bubuk, tapi sekarang yang ada hanya ini (kental manis), mau bagaimana lagi,” ujar Vici --salah seorang penghuni huntara yang memiliki anak berusia lima tahun-- dalam rilis yang diterima BATAMTODAY.COM, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, susu kental manis yang diperoleh dari bantuan sosial kini menjadi salah satu asupan yang dikonsumsi anaknya setiap hari. Meski memahami bahwa produk tersebut bukan pilihan ideal untuk tumbuh kembang anak, kondisi ekonomi membuatnya tidak memiliki banyak pilihan.

Selain persoalan kebutuhan pangan, warga juga menghadapi tekanan ekonomi akibat hilangnya pekerjaan. Mayoritas penghuni huntara sebelumnya menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan kelapa sawit.

Banjir besar yang terjadi pada akhir 2025 lalu tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga menghancurkan lahan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Hanya sebagian kecil warga yang masih memiliki kebun sawit yang dapat dikelola, sementara mayoritas lainnya kehilangan pekerjaan karena kebun tempat mereka bekerja rusak total.

Eti, warga huntara yang juga mengajar di sekolah darurat setempat, mengaku kondisi hunian saat ini masih jauh dari nyaman.

"Kalau siang panas sekali seperti dipanggang. Tapi saat hujan dan angin kencang, kami juga tidak bisa tidur karena air masuk dari celah atap. Kasur dan pakaian anak-anak sering basah," katanya.

Meski demikian, Eti tetap bersyukur karena setiap unit huntara telah dilengkapi fasilitas kamar mandi dan pasokan air bersih yang memadai. Untuk membagi ruang di dalam hunian yang terbatas, ia hanya menggunakan lemari dan rak sebagai sekat sederhana.

"Kompor saya beli dari uang bantuan pemerintah. Ada juga bantuan dari keluarga yang langsung saya gunakan membeli kulkas saat pindah ke sini, supaya bahan makanan bisa disimpan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, mengakui warga yang masih tinggal di huntara masih membutuhkan perhatian dan dukungan berbagai pihak.

"Bencana ini merupakan kejadian pertama yang terjadi di Salareh Aia. Selama ini daerah tersebut relatif aman. Namun yang terpenting, masyarakat sudah bisa dipindahkan dari lokasi pengungsian ke huntara," katanya.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah saat ini terus mengupayakan percepatan relokasi warga ke hunian tetap (huntap). Menurutnya, keberadaan huntara hanya bersifat sementara sehingga warga tidak dapat tinggal terlalu lama di lokasi tersebut.

"Yang namanya huntara sifatnya sementara. Masyarakat harus segera dipindahkan ke hunian tetap. Saat ini kami masih berkoordinasi terkait lokasi relokasi untuk pembangunan huntap bagi warga Salareh Aia," pungkasnya.

Editor: Gokli