Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Aroma Kurban dari Sei Temiang, Kisah Kandang Sofia dan Semangat Berbagi Jelang Iduladha di Batam
Oleh : Aldy
Senin | 27-04-2026 | 11:08 WIB
Kandang-Sofia.jpg Honda-Batam
Kandang Sofia --memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak-- milik Cak Lis menjadi salah satu titik yang paling banyak dikunjungi di Sei Temiang, Kecamatan Sekupang. (Foto: Aldy)

BATAMTODAY.COM, Batam - Di tengah hiruk pikuk Kota Batam, sebuah sudut di Sei Temiang, Kecamatan Sekupang, menghadirkan suasana berbeda. Aroma khas dari kandang sapi di kawasan itu tidak terasa menyengat, melainkan membawa isyarat datangnya Hari Raya Iduladha.

Aroma tersebut seolah menjadi penanda awal musim kurban. Warga yang datang silih berganti ke kawasan kandang hewan ternak tampak antusias memilih sapi dan kambing terbaik untuk ibadah kurban 1447 Hijriah.

Akhir pekan lalu, kawasan ini terlihat lebih ramai dari biasanya. Puluhan kandang dipadati calon pembeli, baik individu maupun rombongan, yang ingin memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak.

Di antara deretan kandang, Kandang Sofia milik Cak Lis menjadi salah satu titik yang paling banyak dikunjungi. Pria yang telah menetap di Batam sejak 1994 itu memulai usaha ternaknya pada 2012, setelah meninggalkan pekerjaannya di perusahaan otomotif di kawasan industri Mukakuning.

"Dulu saya bekerja di PT Astra Mukakuning. Tahun 2012 mulai usaha ini, lalu saya putuskan fokus di sini," ujar Cak Lis saat ditemui, Minggu (26/4/2026).

Perjalanan panjang itu kini membuahkan hasil. Sapi-sapi di kandangnya tampak sehat, gemuk, dan terawat. Mayoritas merupakan sapi Bali yang didatangkan dari Lampung, dengan jumlah pengiriman mencapai 60 hingga 70 ekor setiap kali distribusi.

Lia, salah satu petugas di Kandang Sofia, menjelaskan bahwa pasokan sapi untuk musim kurban tahun ini sudah dilakukan beberapa kali. "Untuk musim kurban tahun ini, sudah empat kali pengiriman. Satu sebelum Ramadan, dua kali saat Ramadan, dan terakhir baru masuk lagi," jelasnya.

Harga sapi yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 24 juta hingga Rp 28 juta, bahkan ada yang menembus Rp 30 juta lebih untuk bobot dan kualitas tertentu. Meski biaya distribusi mengalami kenaikan, terutama pada sektor transportasi, harga jual relatif tetap dijaga agar tidak memberatkan pembeli.

"Biaya pengiriman memang naik. Kami berusaha menahan harga agar tetap kompetitif, sambil tetap menutup biaya operasional," kata Cak Lis.

Kualitas ternak menjadi daya tarik utama. Salah seorang calon pembeli mengaku terkesan dengan kondisi sapi yang ditawarkan. "Sapinya bagus semua, jadi bingung memilih. Harganya juga tidak jauh berbeda dari tahun lalu," ujarnya.

Menariknya, pembeli tidak hanya berasal dari Batam atau daerah sekitar. Sejumlah warga negara Singapura juga terlihat datang untuk memilih hewan kurban. Mereka membeli sapi di Batam untuk disembelih dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat setempat.

"Kalau berkurban yang penting niatnya. Di mana saja bisa. Saya melihat masyarakat Batam punya kepedulian sosial yang tinggi," kata Cik Mamat, salah satu pembeli asal Singapura.

Ia menilai harga sapi di Batam relatif stabil meski kondisi global mengalami tekanan, termasuk kenaikan harga bahan bakar. "Dibanding tahun lalu tidak jauh berbeda. Padahal kondisi dunia sedang naik, tapi di sini masih mirip," tambahnya.

Semangat kebersamaan juga terlihat dari rombongan pekerja sebuah perusahaan yang datang dengan seragam. Mereka berdiskusi dan memilih sapi untuk kurban bersama yang rencananya akan dilaksanakan di lingkungan perusahaan. "Rencananya kami potong di perusahaan," ujar salah satu karyawan wanita dalam rombongan tersebut.

Bagi Lia, aktivitas di Kandang Sofia bukan sekadar transaksi jual beli. Ia melihat sebagian besar pembeli datang dengan niat tulus untuk beribadah. "Yang datang ke kami rata-rata tidak terlalu banyak permintaan khusus. Mungkin karena memang niatnya murni untuk beribadah," ucapnya.

Dari Sei Temiang, denyut Iduladha mulai terasa. Lebih dari sekadar jual beli hewan ternak, aktivitas di kandang-kandang ini mencerminkan nilai keikhlasan, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang tumbuh di tengah masyarakat. Aroma kandang itu pun menjadi simbol sederhana bahwa Iduladha bukan hanya tentang hewan kurban, tetapi juga tentang hati yang siap berbagi.

Editor: Gokli