Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BBM Industri Melonjak, ALFI Batam Minta Akses Subsidi untuk Cegah Usaha Logistik Gulung Tikar
Oleh : Aldy
Senin | 20-04-2026 | 10:48 WIB
Yasser-Hadeka1.jpg Honda-Batam
Ketua DPC ALFI Batam, Yasser Hadeka Daniel. (Foto: Aldy)

BATAMTODAY.COM, Batam - Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) industri menekan sektor logistik di Kota Batam hingga berpotensi memicu gelombang penutupan usaha. Menyikapi kondisi tersebut, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam membuka ruang dialog dengan pemerintah guna mencari solusi, termasuk usulan akses BBM subsidi bagi pelaku usaha logistik.

Ketua DPC ALFI Batam, Yasser Hadeka Daniel, mengatakan lonjakan harga BBM jenis Pertamina Dex dan Dexlite telah meningkatkan biaya operasional secara signifikan. Harga Pertamina Dex naik dari sekitar Rp 14.800 menjadi Rp 24.000 per liter, sementara Dexlite melonjak dari Rp 14.500 menjadi Rp 24.150 per liter.

"Ini sangat membebani pelaku logistik. Kenaikannya hampir dua kali lipat," ujar Yasser, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, selama ini pelaku jasa pelayanan transportasi (JPT) masih menahan kenaikan tarif distribusi demi menjaga stabilitas harga barang di pasar. Berbagai langkah efisiensi telah dilakukan, seperti optimalisasi rute distribusi. Namun, lonjakan biaya saat ini membuat upaya tersebut tidak lagi mampu menutup beban operasional.

"Kami sudah berusaha tidak menaikkan tarif, tetapi dengan kondisi sekarang sudah tidak bisa dipertahankan," katanya.

Kondisi geografis Batam yang bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Jakarta, Belawan, hingga impor dari Singapura membuat sektor logistik sangat sensitif terhadap fluktuasi harga BBM. Di sisi lain, pelaku usaha di Batam diwajibkan menggunakan BBM non-subsidi, berbeda dengan daerah lain yang masih mendapatkan akses BBM subsidi.

Bahkan sebelum kenaikan terbaru, harga BBM di Batam sudah lebih tinggi dibanding wilayah lain, yakni berada di kisaran Rp 13.000 hingga Rp 14.000 per liter.

Dampak kenaikan ini diperkirakan meluas, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya distribusi laut seperti jasa pandu dan tunda kapal, hingga ancaman usaha logistik gulung tikar. Sebagai ilustrasi, biaya angkut dari Batu Ampar ke Muka Kuning yang sebelumnya sekitar Rp 900 ribu per perjalanan berpotensi meningkat menjadi Rp 1,8 juta.

Untuk mengatasi tekanan tersebut, ALFI Batam membuka ruang komunikasi dengan pemerintah, termasuk BP Batam dan Pertamina. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pemberian akses BBM subsidi bagi pelaku logistik.

"Kami berharap ada kebijakan yang meringankan agar usaha tetap berjalan dan harga barang tidak melonjak," kata Yasser.

Editor: Gokli