Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Edukasi Gizi Balita Pascabencana Diperkuat, YAICI Lanjutkan Program di Wilayah Terdampak
Oleh : Rerdaksi
Selasa | 17-03-2026 | 08:48 WIB
1703_Edukasi-Gizi-Balita-2026.jpg Honda-Batam
Edukasi pemenuhan gizi balita dinilai masih sangat dibutuhkan di wilayah terdampak banjir bandang di Sumatra. (Foto: istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Edukasi terkait pemenuhan gizi balita dinilai masih sangat dibutuhkan di wilayah terdampak banjir bandang di Sumatra. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai makanan bergizi membuat sebagian anak lebih sering mengonsumsi pangan praktis yang belum tentu memenuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembang.

Penyuluh Kesehatan Puskesmas Sekerak, Aceh Tamiang, Ersyad SKM mengatakan, salah satu produk yang kerap disalahpahami masyarakat adalah kental manis. Dalam diskusi gizi yang digelar secara daring, ia menjelaskan masih banyak warga yang menganggap kental manis sebagai susu.

Menurut Ersyad, kental manis sebenarnya merupakan produk dengan kandungan gula tinggi, sehingga tidak dianjurkan menjadi konsumsi utama bagi anak-anak.

"Dalam edukasi kami selalu menegaskan bahwa susu kental manis bukan susu. Produk ini sebaiknya hanya digunakan sebagai topping makanan, bukan sebagai minuman utama bagi anak," ujarnya.

Ia menambahkan, jika dikonsumsi secara terus-menerus sebagai pengganti susu, kental manis berpotensi menimbulkan kekurangan nutrisi pada anak. Kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko stunting serta menurunkan daya tahan tubuh.

Selain itu, konsumsi kental manis juga dapat menimbulkan rasa kenyang semu. Akibatnya, anak-anak cenderung memilih minuman tersebut dibandingkan makanan utama yang lebih bergizi.

Ersyad juga mengimbau masyarakat maupun pihak yang ingin menyalurkan bantuan agar lebih memperhatikan jenis bantuan pangan yang diberikan. Bantuan berupa makanan instan seperti mi instan atau kental manis memang praktis, namun tidak cukup memenuhi kebutuhan gizi anak jika dikonsumsi terus-menerus.

"Bantuan makanan instan tidak masalah, tetapi harus dilengkapi dengan sumber protein seperti telur, ikan atau daging serta sayuran. Anak-anak membutuhkan asupan gizi yang lengkap karena masih dalam masa pertumbuhan," jelasnya.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian berbagai pihak, salah satunya Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) yang selama ini aktif menggelar edukasi mengenai pemenuhan gizi anak, khususnya di wilayah terdampak bencana.

Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudhistira mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah kegiatan edukasi saat menyalurkan bantuan di Aceh Tamiang beberapa waktu lalu. Selain memberikan bantuan pangan dan kebutuhan dasar, tim juga menggelar penyuluhan gizi serta kegiatan trauma healing bagi anak-anak.

"Kami tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada para orang tua mengenai kebutuhan gizi anak. Masih banyak yang mengira kental manis bisa menggantikan susu, padahal tidak demikian," kata Satria.

Menurutnya, edukasi menjadi langkah penting karena persoalan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga pemahaman masyarakat mengenai jenis makanan yang tepat.

Ke depan, YAICI berencana memperluas program edukasi gizi di sejumlah wilayah terdampak bencana lainnya. Program tersebut direncanakan kembali digelar di Aceh Tamiang, Sumatra Utara dan Sumatra Barat dengan melibatkan berbagai mitra serta relawan di daerah.

"Kami melihat masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan informasi yang cukup mengenai gizi anak. Karena itu edukasi harus terus dilakukan agar bantuan maupun makanan yang dikonsumsi benar-benar mendukung tumbuh kembang anak," tutupnya.

Editor: Gokli