Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemenkes Percepat Eliminasi Kusta di Indonesia, Fokus Deteksi Dini dan Pengobatan Tuntas
Oleh : Redaksi
Kamis | 12-03-2026 | 11:28 WIB
eliminasi-kusta.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan komitmennya mempercepat eliminasi Kusta di Indonesia melalui strategi deteksi dini, pengobatan hingga tuntas, serta pemberian pencegahan kepada kontak erat pasien.

Komitmen tersebut disampaikan dalam puncak peringatan Hari Kusta Sedunia yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof Sujudi Kemenkes RI, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan kusta merupakan penyakit menular yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan kerap dikaitkan dengan stigma serta diskriminasi sosial. Padahal, secara ilmiah penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tersedia.

"Kusta ini sering diasosiasikan dengan negara miskin karena sejak ribuan tahun lalu penyakit ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga muncul berbagai stigma. Padahal sekarang kita sudah tahu penyebabnya adalah bakteri dan obatnya sudah tersedia," ujar Budi.

Ia menegaskan bahwa langkah utama untuk mengendalikan penularan kusta adalah menemukan sebanyak mungkin kasus agar pasien segera mendapatkan pengobatan. "Jangan takut jika kasus yang ditemukan banyak. Justru itu menunjukkan sistem deteksi kita bekerja dengan baik. Temukan sebanyak-banyaknya agar bisa segera diobati, karena obatnya ada dan pengobatannya bisa selesai," kata Menkes.

Menurutnya, terapi kusta relatif sederhana dan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar enam bulan apabila pasien menjalani pengobatan secara rutin hingga tuntas.

Untuk memperkuat upaya deteksi dini, Kemenkes juga mengintegrasikan skrining kusta dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sehingga kasus dapat ditemukan lebih cepat di masyarakat. "Strateginya jelas: temukan sebanyak-banyaknya, obati sampai selesai, dan berikan pencegahan kepada kontak erat pasien. Dengan cara ini penularan bisa dihentikan," ujarnya.

Di wilayah Indonesia Timur, Kemenkes juga mendorong pemeriksaan tambahan untuk mendeteksi kemungkinan resistensi obat melalui tes genetik agar pasien dapat memperoleh terapi yang tepat.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat komitmen nasional dalam menghapus stigma terhadap penyintas kusta.

"Peringatan Hari Kusta Sedunia merupakan momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, serta menghapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta," kata Andi.

Ia menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan peringatan tahun ini meliputi skrining mandiri keluarga, lomba penulisan bagi jurnalis, hingga kampanye edukasi yang disertai pemberian penghargaan kepada fasilitas kesehatan yang aktif menemukan kasus baru.

Penghargaan tersebut diberikan kepada sejumlah puskesmas dengan temuan kasus kusta baru terbanyak, antara lain di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Brebes, dan Jayapura. "Melalui peringatan Hari Kusta Sedunia tahun ini, kami menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat sinergi nasional menuju eliminasi kusta serta Indonesia bebas stigma terhadap penyintas kusta," ujarnya.

Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk tidak ragu memeriksakan diri apabila menemukan gejala kusta serta mendukung upaya penghapusan stigma agar pasien dapat memperoleh pengobatan secara cepat dan tuntas.

Editor: Gokli