Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemenkes Luncurkan RAN Kanker Payudara 2025-2034, Targetkan Penurunan Kematian 2,5 Persen per Tahun
Oleh : Redaksi
Sabtu | 28-02-2026 | 11:28 WIB
RAN-Kanker-Payudara.jpg Honda-Batam
Peluncuran RAN Kanker Payudara 2025-2034 melalui forum Public Private Community Partnership (PPCP) yang digelar di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (26/2/2026). (Kemenkes)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mendiseminasikan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara 2025-2034 sebagai strategi nasional untuk menekan angka kematian akibat kanker payudara sebesar 2,5% per tahun sesuai standar World Health Organization (WHO).

Peluncuran RAN tersebut diperkuat melalui forum Public Private Community Partnership (PPCP) yang digelar di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (26/2/2026). Forum lintas sektor ini mempertemukan unsur pemerintah, organisasi profesi, swasta, dan komunitas penyintas guna mengatasi kesenjangan akses layanan kanker di Indonesia.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyatakan disparitas angka kematian kanker payudara antara negara maju dan berkembang dipengaruhi perbedaan akses layanan kesehatan. "Mortalitas akibat kanker payudara telah menurun di negara berpendapatan tinggi karena kesadaran deteksi dini dan akses pengobatan sudah lebih baik. Sebaliknya, di negara berpendapatan menengah ke bawah, kematian masih tinggi akibat tantangan akses layanan kesehatan," ujar Dante.

Ia menegaskan bahwa WHO menargetkan setiap negara mampu menurunkan mortalitas kanker payudara sebesar 2,5% per tahun. Oleh karena itu, RAN Kanker Payudara 2025-2034 disusun sebagai panduan strategis agar langkah penanganan lebih cepat dan terarah.

"Saya harap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilanjutkan dengan aksi kolaboratif nyata, baik dalam bentuk program, proyek percontohan, maupun dukungan pendanaan. Tujuan utama kita adalah menyembuhkan dan meringankan beban pasien," tegasnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, memaparkan masih terdapat kesenjangan signifikan dalam deteksi dan pengobatan kanker payudara. "Dari 14 juta sasaran perempuan, baru 4,1 juta yang menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut ditemukan 20 ribu orang dengan kelainan, namun hanya 6.000 orang yang melanjutkan pengobatan, dan hanya separuhnya yang berhasil mencapai akses rumah sakit," ungkap Nadia.

Menurutnya, tantangan utama terletak pada rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan serta belum optimalnya sinkronisasi sistem rujukan sehingga pasien berpotensi terputus dari layanan.

RAN Kanker Payudara 2025-2034 mengacu pada tiga pilar WHO Global Breast Cancer Initiative, yakni 60% kasus terdiagnosis pada stadium awal (stadium 1 atau 2), diagnosis ditegakkan dalam 60 hari sejak gejala awal, dan lebih dari 80% pasien menerima terapi secara tuntas.

Secara umum, RAN tersebut mencakup lima strategi utama, yaitu promosi kesehatan, peningkatan deteksi dini, perluasan akses layanan bermutu, penguatan registrasi kanker, serta koordinasi kemitraan multipihak.

Melalui forum PPCP, pemerintah membuka ruang kolaborasi inklusif untuk meningkatkan angka kesintasan lima tahun pasien kanker payudara hingga 70% di Indonesia.

Editor: Gokli