Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ekspedisi Romang-Damer 2025 Ungkap Habitat Dugong Terbesar dan Ketahanan Ekosistem Laut Maluku Barat Daya
Oleh : Redaksi
Sabtu | 07-02-2026 | 12:48 WIB
dugong.jpg Honda-Batam
Ekspedisi Romang-Damer 2025 pada 3 Oktober hingga 3 November 2025 berhasil menemukan habitat dugong terbesar di Indonesia, dengan jumlah temuan mencapai 32 ekor dalam satu area. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia memaparkan temuan penting dari Ekspedisi Kawasan Konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya (MBD) 2025.

Ekspedisi ilmiah yang berlangsung selama satu bulan tersebut mengungkap ketahanan ekosistem laut MBD yang dinilai sebagai salah satu kawasan paling resilien di dunia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengatakan hasil ekspedisi memperkuat pentingnya pengelolaan kawasan konservasi berbasis data ilmiah serta keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

"Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal, sejalan dengan implementasi ekonomi biru. Dalam konteks tersebut, hasil Ekspedisi Romang-Damer 2025 menjadi kontribusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun daerah," ujar Koswara dalam talkshow Bincang Bahari di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026).

Hasil penelitian menunjukkan perairan MBD mendapat pasokan nutrisi dari Laut Banda dan Samudera Hindia sehingga menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati laut dunia di tengah ancaman perubahan iklim. Kawasan tersebut juga menjadi koridor migrasi bagi 24 spesies laut dilindungi, seperti paus biru, orca, hiu martil, penyu, hingga dugong.

Ekspedisi yang berlangsung pada 3 Oktober hingga 3 November 2025 berhasil menemukan habitat dugong terbesar di Indonesia, dengan jumlah temuan mencapai 32 ekor dalam satu area. Penemuan ini tergolong langka, bahkan dalam skala global, serta menandakan kondisi perairan yang masih terjaga dengan baik.

Tim peneliti juga mencatat ekosistem lamun di kawasan tersebut berada dalam kondisi sangat baik dengan tutupan lebih dari 50 persen. Dari total 14 jenis lamun di Indonesia, sembilan jenis ditemukan di wilayah ini. Selain itu, ekosistem terumbu karang di Kepulauan Romang dan Damer tergolong sedang hingga baik, dengan rata-rata tutupan mencapai 51,4 persen atau di atas rata-rata regional sebesar 34 persen. Sejumlah koloni karang bahkan diperkirakan berusia 100 hingga 200 tahun.

Ekspedisi juga menyoroti peran penting masyarakat adat dalam menjaga kelestarian ekosistem laut melalui praktik kearifan lokal, seperti Sasi dan larangan adat terhadap perburuan spesies tertentu. Praktik tersebut dinilai berhasil menjaga keseimbangan ekosistem selama berabad-abad.

Pejabat sementara Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, mengingatkan bahwa kekayaan alam Maluku Barat Daya menghadapi ancaman serius dari praktik penangkapan ikan merusak, polusi plastik, serta ghost net.

"Kita menemukan habitat terbesar dugong. Namun, keajaiban ini sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar, serta tidak lepas dari isu sampah plastik dan ghost net. Kita harus berkolaborasi memperkuat pengawasan berbasis masyarakat melalui Pokmaswas agar kekayaan ini tidak hilang," ungkapnya.

Menurutnya, kerusakan ekosistem di wilayah MBD dapat berdampak luas terhadap ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, dan mitra pembangunan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kawasan tersebut.

Sebagai tindak lanjut, WWF Indonesia berencana memperluas sosialisasi konservasi di wilayah pesisir MBD dengan pendekatan budaya lokal "Kalwedo", yang mencerminkan nilai persaudaraan, kebersamaan, dan saling menghormati. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kekayaan laut Maluku Barat Daya sebagai warisan berharga bagi masa depan Indonesia.

Editor: Gokli