Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

RI-China Track 1.5 Dialogue 2026 Perkuat Kemitraan Energi Bersih, Fokus Inovasi dan Transfer Teknologi
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 06-02-2026 | 11:48 WIB
track-5_1.jpg Honda-Batam
Indonesia-China Track 1.5 Dialogue bertajuk "Shaping a Joint Foreign Policy Approach toward a Transformational Model for Clean Energy Partnership", pada 27-28 Januari 2026. (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Tangerang - Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri (BSKLN Kemlu) bekerja sama dengan lembaga kajian Indonesia Synergy Policies dan ViriyaENB menggelar Indonesia-China Track 1.5 Dialogue bertajuk "Shaping a Joint Foreign Policy Approach toward a Transformational Model for Clean Energy Partnership". Dialog berlangsung pada 27-28 Januari 2026 sebagai upaya memperkuat kemitraan energi bersih antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari dua Dialog Nasional sebelumnya yang diselenggarakan pada Agustus dan September 2025. Forum tersebut bertujuan memperkuat konsolidasi pemangku kepentingan kedua negara dalam merumuskan pendekatan serta modalitas kerja sama energi bersih yang lebih strategis dan berkelanjutan.

Sebagai forum track 1.5, dialog melibatkan unsur pemerintah, kementerian, dan lembaga dari kedua negara (track 1), serta perwakilan dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan think tank (track 2). Dari Indonesia, peserta antara lain berasal dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bappenas, Kementerian Luar Negeri, Dewan Energi Nasional (DEN), BRIN, PT PLN, KADIN, Universitas Gadjah Mada, serta sektor swasta. Sementara dari pihak RRT hadir perwakilan Kedutaan Besar RRT di Jakarta, China New Energy International Alliance (CNEIA), WRI China, serta sejumlah lembaga riset dan mitra strategis lainnya.

Kepala BSKLN, Muhammad Takdir, menegaskan bahwa konsep Dynamic Resilience menjadi fondasi utama dalam membangun kemitraan energi bersih Indonesia-RRT. Menurutnya, ketahanan nasional yang kuat menjadi landasan penting untuk menjaga keberlanjutan kerja sama di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global.

Dialog juga menekankan pentingnya model kemitraan energi bersih yang tidak hanya berfokus pada perdagangan dan investasi, tetapi juga mengedepankan riset, inovasi, transfer teknologi, serta pelibatan masyarakat hingga tingkat lokal.

"Model kemitraan transformatif Indonesia-RRT memajukan kebijakan luar negeri, kerja sama industri, inovasi, dan keterlibatan masyarakat," ujar Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, Zelda Wulan Kartika.

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Synergy Policies dan CNEIA sebagai bentuk komitmen memperkuat kerja sama dalam penyusunan rekomendasi kebijakan, riset, serta pengembangan kapasitas. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kemitraan energi bersih Indonesia dengan mitra strategis, termasuk RRT, secara berkelanjutan.

Editor: Gokli