Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Perluasan Akses Kesehatan Mata, Kemenkes Targetkan Skrining 140 Juta Penduduk pada 2026
Oleh : Redaksi
Rabu | 04-02-2026 | 11:48 WIB
screening-mata.jpg Honda-Batam
Kemenkes resmi meluncurkan program "Improved Access to Eye Health in Indonesia dan Vision Screening Event". (Kemenkes)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) resmi meluncurkan program "Improved Access to Eye Health in Indonesia dan Vision Screening Event" sebagai upaya memperluas akses layanan kesehatan mata sekaligus menekan angka gangguan penglihatan yang masih tinggi di Tanah Air.

Peluncuran program ini dinilai strategis mengingat sekitar 3,6 juta anak Indonesia masih mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi dengan kacamata. Kondisi tersebut berpotensi menghambat proses tumbuh kembang, prestasi belajar, serta kualitas hidup anak di masa depan.

Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa deteksi dini gangguan penglihatan harus dilakukan secara masif dan terintegrasi melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). "Deteksi dini menjadi kunci utama pencegahan gangguan penglihatan. Melalui Program Cek Kesehatan Gratis, skrining kesehatan mata akan kami lakukan secara terintegrasi di berbagai kelompok usia," ujar Nadia di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Sepanjang tahun 2025, Kemenkes telah melaksanakan skrining kesehatan mata terhadap sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 17 persen teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan.

Memasuki tahun 2026, Kemenkes menargetkan perluasan cakupan skrining secara signifikan. "Pada 2026, kami menargetkan skrining kesehatan melalui Program Cek Kesehatan Gratis terhadap sekitar 140 juta masyarakat, mulai dari bayi hingga lanjut usia," kata Nadia.

Upaya penguatan layanan kesehatan mata ini turut mendapat dukungan dari World Health Organization (WHO) melalui inisiatif global SPECS 2030, yang bertujuan mengeliminasi gangguan penglihatan yang dapat dicegah maupun dikoreksi.

Perwakilan WHO Indonesia, Fransiska, mengapresiasi komitmen Pemerintah Indonesia yang secara resmi bergabung dalam kerangka SPECS sejak Oktober 2025. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan keseriusan Indonesia dalam meningkatkan kualitas kesehatan mata masyarakat secara berkelanjutan.

Sejalan dengan inisiatif global tersebut, OneSight EssilorLuxottica Foundation menyatakan kesiapan untuk bermitra dengan Kemenkes RI dalam memperluas jangkauan layanan kesehatan mata di Indonesia.

Perwakilan OneSight EssilorLuxottica Foundation, Patricia Koh, menegaskan komitmen organisasinya dalam mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, khususnya perawat, agar mampu melakukan pemeriksaan dasar penglihatan di tingkat layanan kesehatan primer.

"Kami siap mendukung pelatihan tenaga kesehatan agar layanan pemeriksaan penglihatan dasar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat," ujar Patricia.

Sebagai langkah konkret, program ini juga akan menyasar wilayah terpencil melalui penyediaan patient center di Kepulauan Seribu, guna memastikan layanan deteksi dini dan kesehatan mata yang inklusif serta merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Editor: Gokli