Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Setahun Bak Hidup di Neraka, Kesaksian ART Korban Penyiksaan Brutal di Rumah Majikan Roslina
Oleh : Paskalis Rianghepat
Jum\'at | 07-11-2025 | 11:08 WIB
manusia-keji.jpg Honda-Batam
Terdakwa Roslina dan Merliyati usai menjalani sidang di PN Batam, Kamis (6/11/2025). (Foto: Paskalis RH)

BATAMTODAY.COM, Batam - Ruang sidang Pengadilan Negeri Batam seketika sunyi. Hanya suara lirih seorang perempuan muda yang terdengar, menembus dinginnya ruangan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seperti bilah pisau yang menggores nurani.

Ia adalah Intan Tuwa Negu, 22 tahun, asisten rumah tangga asal Nusa Tenggara Timur yang mengisahkan setahun penuh hidup dalam siksaan di rumah majikannya, Roslina dan Merliyati, di kawasan mewah Sukajadi, Batam.

Sidang yang digelar Kamis (6/11/2025) itu dipimpin oleh majelis hakim Andi Bayu dengan anggota Douglas Napitupulu dan Dina Puspasari. Dua perempuan, Roslina dan Merliyati, kini duduk di kursi terdakwa atas dugaan penganiayaan berat terhadap Intan --kasus yang sejak awal tahun mengguncang publik Batam.

Jaksa Penuntut Umum, Aditya Syaummil, dalam sidang meminta majelis hakim menolak eksepsi tim pembela Roslina. "Perkara ini sudah jelas memenuhi unsur pidana. Kami mohon majelis melanjutkan ke tahap pembuktian," ujarnya tegas.

Namun, ketegangan sejati baru dimulai ketika nama Intan dipanggil maju ke depan ruang sidang. Dengan tubuh gemetar dan mata berkaca-kaca, Intan bersaksi. Ia menatap sekilas ke arah kursi terdakwa, tempat Merliyati --rekannya sesma ART di rumah Roslina, yang masih memiliki hubungan darah dengannya-- duduk menunduk.

"Saya bekerja di rumah mereka sejak Juni 2024. Gaji saya Rp 1,8 juta per bulan. Tugas saya bersih-bersih dan menjaga 16 anjing," ucap Intan lirih. "Tapi sejak hari pertama, hidup saya berubah seperti di neraka."

Ponselnya disita, pintu rumah dikunci rapat, dan ia hanya tidur empat jam sehari --pukul dua belas malam hingga empat subuh. Jika terlambat bangun, Roslina menjambak rambutnya atau membenturkan kepalanya ke tembok. Sementara Merliyati, tanpa alasan jelas, sering memukulinya. "Anjing berantem pun saya yang disalahkan," katanya getir.

Ketika hakim bertanya mengapa ia tak melapor, Intan menjawab pelan. "Saya pernah bilang ke Pak Yulius, orang yang rekrut saya, kalau saya nggak dikasih makan. Tapi dia cuma bilang, mungkin kerja kamu belum baik."

Bentuk kekerasan yang dialami Intan tak hanya fisik, tapi juga psikis. Ia kerap dipukul dengan raket nyamuk, gagang sapu, bahkan tas tangan. Roslina mencatat setiap kesalahan dalam buku kecil yang disebutnya "buku dosa", dan setiap catatan berarti pemotongan gaji.

Yang paling mengerikan, menurut Intan, ketika Merliyati mengancamnya dengan pisau. "Saya cuma bisa menangis. Semua pintu dikunci, saya tidak bisa lari," ucapnya sambil terisak.

Lebih jauh lagi, ia dipaksa makan terpisah karena dianggap menjijikkan dan disuruh tidur di depan kamar mandi. Yang paling tak manusiawi, Intan mengaku dipaksa makan kotoran anjing. "Kenapa saya diperlakukan seperti ini? Padahal saya saudaramu," katanya sambil menangis menatap Merliyati.

Dalam sidang itu, Intan juga mengungkap bahwa Roslina pernah memerintahkan Merliyati untuk membunuhnya. "Roslina bilang, 'kamu harus kasih mati anjing itu,' maksudnya saya," ujarnya menunduk.

Suasana ruang sidang menjadi tegang. Hakim beberapa kali menghentikan jalannya persidangan karena Intan tak mampu menahan tangis saat menunjukkan luka di kepala dan tangan.

"Saya sudah maafkan Merliyati karena dia saudaraku, tapi biarlah hukum yang berjalan," katanya menutup kesaksiannya.

Kejadian memilukan yang dialami Intan kini memasuki babak hukum. Jaksa menjerat Roslina dan Merliyati dengan Pasal 44 ayat (2) UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga juncto Pasal 64 ayat (1) dan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara atau lebih.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi lanjutan. Namun bagi Intan, luka yang membekas di tubuh dan batinnya mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.

Editor: Gokli


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php54/root/usr/lib64/php/modules/xsl.so' - /lib64/libxslt.so.1: symbol xmlGenericErrorContext, version LIBXML2_2.4.30 not defined in file libxml2.so.2 with link time reference

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: