Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menko Airlangga Tegaskan ASEAN DEFA Jadi Kunci Wujudkan Ekonomi Digital USD 2 Triliun di 2030
Oleh : Redaksi
Rabu | 08-10-2025 | 11:48 WIB
Asean-Digital.jpg Honda-Batam
The 14th ASEAN Digital Economy Framework Negotiating Committee Meeting yang digelar di Jakarta, Selasa (7/10/2025). (Foto: Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) sebagai langkah strategis dalam mewujudkan target ekonomi digital kawasan senilai USD 2 triliun pada tahun 2030. Pernyataan tersebut disampaikan dalam The 14th ASEAN Digital Economy Framework Negotiating Committee Meeting yang digelar di Jakarta, Selasa (7/10/2025).

"Angka-angka ini menyoroti peluang dan keragaman pertumbuhan di seluruh Asia Tenggara. Di sinilah ASEAN DEFA menjadi krusial sebagai komitmen kita untuk mendorong inovasi, inklusivitas, dan ketahanan ekonomi digital kawasan," ujar Airlangga.

Kawasan ASEAN, dengan populasi lebih dari 680 juta jiwa, kini menjadi salah satu pasar digital paling dinamis di dunia. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun oleh Temasek, Bain & Company, dan Google, nilai ekonomi digital Asia Tenggara mencapai USD263 miliar dalam gross merchandise value (GMV), dengan pendapatan sekitar USD 89 miliar pada 2024.

Indonesia sendiri menjadi pemain utama di kawasan dengan kontribusi USD 90 miliar terhadap ekonomi digital tahun lalu. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi USD 110 miliar pada 2025 dan bahkan bisa mencapai USD 360 miliar pada 2030, di mana sektor e-commerce berpotensi menyumbang hingga USD 150 miliar.

Airlangga menjelaskan ASEAN DEFA, yang merupakan inisiatif Indonesia saat menjadi Ketua ASEAN 2023, dirancang untuk memperkuat integrasi ekonomi digital melalui harmonisasi regulasi lintas negara, peningkatan interoperabilitas sistem digital, pemberdayaan UMKM, serta pengembangan talenta digital.

"Kerja sama yang kuat melalui DEFA akan menjadi fondasi bagi ASEAN dalam menciptakan ekonomi digital yang inklusif dan berdaya saing," tambahnya.

Meski pertumbuhan ekonomi digital ASEAN tergolong pesat, Airlangga menilai masih ada sejumlah tantangan seperti fragmentasi pasar digital, perbedaan kebijakan data antarnegara, serta keterbatasan akses UMKM untuk menembus pasar internasional. DEFA, menurutnya, akan menjadi kerangka penting untuk menjaga momentum pertumbuhan dan menentukan arah masa depan ekonomi kawasan.

Hingga Putaran ke-13 di Hanoi, Vietnam, telah disepakati 19 dari 36 artikel (52,78%), dan pada Putaran ke-14 di Jakarta, target perundingan ditingkatkan hingga 70% untuk paragraf utama dan tambahan. Beberapa isu prioritas yang dibahas meliputi Non-Discriminatory Treatment of Digital Products (NDTDP), Cross-Border Transfer of Information (CBTI), Source Code, Location of Computing Facilities (LOCF), serta kerja sama kabel bawah laut telekomunikasi.

Perundingan DEFA selanjutnya akan difokuskan pada joint monitoring, peningkatan peran sektor swasta, technical assistance, serta pembentukan dispute mechanism guna memastikan implementasi yang efektif. Penyelesaian draf akhir ditargetkan rampung pada awal 2026, dan penandatanganan resmi diharapkan dilakukan pada kuartal ketiga 2026.

"Kita harus menggandakan upaya agar ASEAN DEFA menjadi kerangka kerja digital pertama di dunia yang bersifat regional, modern, komprehensif, dan visioner dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta kemajuan sosial di seluruh ASEAN," tegas Airlangga.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo, Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Haryo Limanseto, Chair DEFA NC Prewprae Chumrum, serta Director Market Integration ASEAN Secretariat Dr Le Quang Lan.

Editor: Gokli