Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indeks Saham Jadi Barometer Pasar, Investor Diminta Pahami Fungsi IHSG hingga LQ45
Oleh : Aldy Daeng
Senin | 15-09-2025 | 12:28 WIB
IDX-01.jpg Honda-Batam
Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Indeks saham, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan LQ45, kerap dijadikan acuan utama investor untuk membaca arah pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan, pemahaman indeks saham sangat penting karena berfungsi sebagai barometer kesehatan pasar sekaligus tolok ukur kinerja investasi.

Indeks saham merupakan ukuran statistik yang mencerminkan pergerakan harga sekelompok saham terpilih berdasarkan kriteria tertentu. Ketika indeks naik, mayoritas saham yang tergabung di dalamnya ikut meningkat, dan sebaliknya jika indeks turun menandakan adanya tekanan pada pasar.

"Indeks bisa diibaratkan sebagai termometer yang mengukur suhu pasar modal. Satu angka indeks dapat menggambarkan kinerja ratusan saham dalam periode tertentu," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta, Senin (15/9/2025).

Di Indonesia, IHSG menjadi indeks utama yang mencakup seluruh saham tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selain IHSG, terdapat LQ45 yang berisi 45 saham berlikuiditas tinggi dan berkinerja fundamental baik. BEI juga menyediakan indeks lain, seperti IDX30, IDX80, hingga indeks sektoral yang merepresentasikan kinerja tiap sektor industri.

Bagi investor, indeks saham memiliki peran strategis sebagai benchmark kinerja portofolio. Jika imbal hasil investasi berada di bawah indeks acuan, portofolio dikatakan underperform, sedangkan jika melampaui indeks disebut outperform.

"Indeks bukan hanya referensi, tapi juga alat evaluasi agar investor mengetahui apakah strategi investasinya sudah tepat," lanjut analis tersebut.

Selain itu, indeks menjadi dasar lahirnya produk investasi modern, seperti reksa dana indeks dan Exchange Traded Fund (ETF), yang meniru pergerakan indeks agar investor dapat memperoleh eksposur pasar lebih luas tanpa harus membeli semua saham secara individu.

BEI juga mengembangkan indeks berbasis tema, seperti Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) untuk investor yang mengedepankan prinsip syariah. Ada pula SRI-KEHATI Index yang menyoroti saham-saham berfokus pada keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

"Keberagaman indeks di BEI memungkinkan investor memilih strategi sesuai tujuan. Ada indeks dividen untuk yang mencari arus kas, ada indeks value untuk value investing, hingga indeks pertumbuhan bagi yang mengejar ekspansi," jelas analis tersebut.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa indeks memiliki keterbatasan karena tidak selalu mencerminkan seluruh kondisi pasar. Perubahan komposisi saham dalam indeks juga dapat memengaruhi konsistensi data. "Indeks hanyalah alat bantu. Investor tetap perlu menyesuaikan strategi dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing," pungkasnya.

Editor: Gokli