Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ronaldmoreno, dari Batam ke Dunia, Menjahit Wastra Nusantara Menjadi Mode Modern
Oleh : Aldy Daeng
Rabu | 10-09-2025 | 09:48 WIB
R1_resized_470x250.jpg Honda-Batam
Ronaldmoreno, pemilik rumah mode di Batam, saat melayani pelanggan. (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Batam - Di tengah hiruk-pikuk Kota Batam yang dikenal sebagai pusat industri dan perdagangan, muncul satu nama yang kini mulai mendominasi panggung mode nasional bahkan internasional: Ronaldmoreno. Bagi Ronald, pemilik rumah mode yang memakai namanya sendiri sebagai label, busana bukan sekadar kain yang menjuntai indah di tubuh. Ia menjadikannya jembatan antara budaya dan modernitas, mengemas kekayaan wastra Nusantara agar tetap relevan dikenakan generasi milenial hingga Gen Z.

"Fashion adalah passion saya. Saya ingin membuat orang tampil percaya diri. Kesan pertama selalu datang dari penampilan," ujar Ronald saat ditemui di rumah modenya di Batam Center, Senin (8/9/2025) sore.

Awal Mula: Dari Busana Glamor ke Ready to Wear

Perjalanan Ronald di dunia mode dimulai pada 2007. Saat itu, brand RONALDMORENO lahir dengan konsep busana custom made by order. Karya-karyanya banyak didominasi gaun pesta penuh kilau glamor yang menyasar kalangan menengah ke atas. "Awalnya semua rancangan hanya untuk momen tertentu, penuh sentuhan glamor," kenang Ronald.

Namun, menjelang pandemi Covid-19, ia melakukan perubahan besar. Dari busana pesta yang eksklusif, Ronald mulai merambah ke lini deluxe ready to wear --busana siap pakai dengan tetap membawa ciri khas glamor.

"Kami ingin setiap pelanggan, yang kami sebut royalties customer, tetap tampil berbeda meski hanya mengenakan busana harian," jelasnya sambil memperlihatkan koleksi terbarunya.

Wastra Nusantara dalam Balutan Modern

Salah satu langkah visioner Ronald adalah mengangkat batik dan tenun ke ranah mode modern. Ia menolak anggapan bahwa wastra hanya pantas dikenakan generasi tua. "Kami ingin wastra ini bisa dipakai lintas generasi, termasuk milenial dan Gen Z. Maka kami kombinasikan dengan desain kekinian agar tidak terkesan kuno," katanya.

Pembukaan Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025 di One Batam Mall, Rabu (20/8/2025). (Foto: Aldy Daeng)

Koleksi Luxury Tour menjadi bukti nyata gagasan itu. Busana berbahan wastra tampil ringan, nyaman, namun tetap berkelas. Untuk menjaga kualitas, Ronald menggandeng pengrajin batik lokal di Batam. Motif dan warna melalui kurasi ketat, bahkan ia kerap melakukan permintaan khusus sesuai tren pasar global.

"Kami bisa request motif tertentu, sesuai tren pasar internasional yang kadang tidak suka terlalu ramai," ungkapnya.

Tak berhenti di Batam, jejaring kolaborasi Ronald meluas hingga ke sentra batik dan tenun di Lombok, Jogja, Bandung, Bali, Baduy, Jepara, NTT, hingga NTB. Koleksi hasil kerja sama itu kemudian diperagakan di panggung mode, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Rumah Mode Tiga Lantai yang Hidup

Rumah mode RONALDMORENO berdiri di sebuah ruko tiga lantai. Lantai pertama menjadi ruang pamer karya, lantai kedua difungsikan sebagai ruang latihan model binaan, sedangkan lantai ketiga berperan sebagai studio produksi.

"Di sini semua detail diselesaikan oleh tangan-tangan terampil tim kami," ujarnya dengan bangga.

Tak hanya membangun bisnis, Ronald juga peduli pada pendidikan. Ia membuka kelas menjahit gratis bagi masyarakat. "Siapa saja boleh belajar. Setelah mahir, mereka bisa bekerja di rumah mode kami," katanya.

Ekspansi Organik Menembus Dunia

Langkah Ronald menembus pasar internasional bermula secara tak terduga. Seorang klien Singapura mengenakan busana rancangannya dalam sebuah acara majelis. Penampilan itu menuai pujian dan membuka pintu kerja sama yang lebih luas. Dari Singapura, jangkauan pasar melebar ke Malaysia, Taiwan, Dubai, Belanda, Prancis, Australia, hingga Amerika Serikat.

"Amerika paling sulit ditembus karena syarat dokumentasinya banyak. Tapi berkat pelatihan, kami bisa melaluinya," kenang Ronald.

Kini, brand RONALDMORENO telah hadir di sembilan negara. Namun Ronald belum puas. "Cita-cita saya yang belum kesampaian yaitu ingin menampilkan karya saya di Amerika. Dunia akan melihat kekayaan seni di Indonesia," tambahnya penuh semangat.

Peran Bank Indonesia dan Dukungan Kepri

Kesuksesan Ronald juga ditopang oleh peran Bank Indonesia (BI). Sebagai mitra binaan, ia melewati proses kurasi ketat sebelum bisa menembus pasar ekspor. "BI tidak memberi dana langsung, tapi memberi ilmu, koneksi, hingga akses pasar. Mereka ajarkan bagaimana mengurus dokumen ekspor, mempertemukan kami dengan jaringan internasional. Tinggal bagaimana kita berlari memanfaatkan itu," ujarnya.

Kepala BI Kepri, Rony Widijarto, menegaskan dukungan pihaknya terhadap UMKM lokal. "Kami ingin UMKM Kepri semakin percaya diri. BI hadir untuk mendukung agar produk mereka bernilai tambah tinggi dan mampu menembus pasar internasional," ucapnya.

Kepala BI Kepri, Rony Widijarto. (Foto: Aldy Daeng)

Dalam ajang Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025, BI Kepri bahkan menghadirkan desainer kondang Ivan Gunawan. Lewat sesi talk show, Ivan membagikan kiat kepada pelaku UMKM, terutama di bidang fashion. "Motif lokal itu harus menjadi identitas. Tapi pilihlah bahan yang ringan agar tetap terlihat mewah dan elegan," ujar Ivan.

Mode Batam dan Tren Muslim

Bagi Ronald, gaya busana masyarakat Batam cenderung aman. "Berbeda dengan Jakarta dan Bandung yang berani tampil unik. Di Batam masih dominan gaya basic, nyaman, dan sederhana. Tapi itu bagian dari karakter masyarakat kepulauan," katanya.

Ia juga menyoroti tren busana muslim yang kian mendunia. "Dulu hijab identik dengan orang tua. Sekarang Indonesia justru menjadi pasar nomor satu dunia untuk busana muslim. Alhamdulillah, kita bisa merajai pasar itu," ujarnya optimis.

Konsistensi dan Visi ke Depan

Uniknya, Ronald sejatinya lulusan sarjana ekonomi. Namun, panggilan hatinya membawanya ke dunia mode. Karya pertamanya bahkan hanya berupa busana dengan teknik drapery tanpa jahitan dan resleting. Meski hanya bisa dipakai sekali, karya itu menuai banyak pujian. Dari situlah keyakinannya tumbuh bahwa mode bukan hanya seni, tetapi juga bisnis yang menjanjikan.

Kini, setelah 18 tahun berkarya, RONALDMORENO berkembang menjadi rumah mode dengan agensi model sendiri dan rencana membuka sekolah desain. Ronald tetap konsisten mengusung konsep sustainable fashion, menghadirkan rancangan yang tak lekang oleh tren namun tetap mengikuti kebutuhan pasar.

"Yang penting, karya anak bangsa bisa dipakai generasi muda, namun tetap menjaga akar budaya," pungkasnya.

Editor: Gokli