Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia Deklarasikan Siap Pimpin Transformasi Digital Asia Lewat AI Inklusif dan Etis
Oleh : Redaksi
Sabtu | 28-06-2025 | 15:28 WIB
AES.jpg Honda-Batam
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, dalam forum bergengsi Asia Economic Summit di Jakarta, Kamis (26/6/2025). (Komdigi)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Indonesia menyatakan kesiapannya tampil sebagai motor penggerak transformasi digital di Asia, dengan kecerdasan artifisial (AI) sebagai ujung tombak. Hal ini ditegaskan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. saat memberikan pidato di forum bergengsi Asia Economic Summit di Jakarta, Kamis (26/6/2025).

"Teknologi ini bukan lagi pilihan bagi Indonesia. Kami yakin Indonesia tak hanya harus beradaptasi, tetapi juga mengambil peran memimpin arah transformasi digital di kawasan," tegas Meutya di hadapan para pelaku industri, akademisi, dan pemimpin negara sahabat, demikian dikutip laman Komdigi.

Menurut Meutya, AI kini telah melampaui sekadar teknologi masa depan. Ia menjadi kekuatan pengubah di berbagai sektor, dari industri hingga layanan publik. Dengan strategi yang tepat, Indonesia diyakini mampu menjelma menjadi pemain kunci di peta digital Asia.

Didukung oleh populasi besar dan tingkat adopsi teknologi yang kian meluas, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis. Meutya membeberkan data laporan McKinsey yang menunjukkan 92 persen tenaga kerja terampil Indonesia sudah memanfaatkan teknologi generative AI, melampaui rata-rata global sebesar 75 persen dan Asia Pasifik 80 persen.

"Kemajuan pemanfaatan AI di Indonesia sungguh luar biasa. Ini bukti nyata bahwa kita memiliki modal besar. Dengan investasi yang berkelanjutan serta pengembangan talenta lokal, AI berpotensi menjadi motor inovasi digital, pelayanan publik, dan pertumbuhan industri nasional," papar Meutya.

Pemerintah Indonesia, lanjut Meutya, kini memfokuskan pengembangan AI pada lima sektor strategis: kesehatan, pengembangan talenta digital, reformasi birokrasi, kota cerdas, dan ketahanan pangan. Fokus ini bertujuan agar transformasi digital bukan sekadar meningkatkan efisiensi, melainkan juga menjamin keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.

Sebagai wujud komitmen, saat ini pemerintah tengah memfinalisasi Peta Jalan Nasional AI bersama 39 kementerian/lembaga, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat sipil. Dokumen ini akan menjadi acuan resmi pembangunan ekosistem AI yang inklusif dan bertanggung jawab.

"Saat ini, pemerintah juga sedang menyusun white paper peta jalan AI sebagai rujukan untuk membangun ekosistem dan tata kelola AI yang etis, transparan, dan efektif. Tim penyusun terdiri dari 39 instansi pemerintah, kalangan akademik, pelaku usaha, serta masyarakat sipil," urai Meutya.

Lebih jauh, Meutya menekankan bahwa kunci keberhasilan pengembangan AI terletak pada kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi. Menurutnya, hanya dengan gotong royong, potensi besar AI dapat benar-benar menjadi manfaat bagi masyarakat luas.

"Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa tata kelola AI harus menjadi dasar setiap kebijakan strategis kita. AI bukan semata alat teknologi, tetapi refleksi nilai kemanusiaan. Agar benar-benar menjadi sarana transformasi berkelanjutan, pengembangan AI harus mengutamakan etika, transparansi, dan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat," pungkas Meutya.

Editor: Gokli