Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Fokus pada Deteksi Dini serta Pendampingan Pasien

Pemerintah Genjot Penanggulangan TBC dan Cek Kesehatan Gratis
Oleh : Redaksi
Sabtu | 31-05-2025 | 15:48 WIB
Prof-Dante2.jpg Honda-Batam
Wakil Menteri Kesehatan, Prof Dante Saksono Harbuwono, dalam forum Public Hearing bertajuk 'Negara Beri Bukti, Masyarakat Terima Hasil', Rabu (28/5/2025). (Kemenkes)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia terus memperkuat strategi pengendalian Tuberkulosis (TBC) dengan menggencarkan peran kader kesehatan dan memperluas jangkauan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Langkah ini menjadi bagian dari upaya sistematis menghadapi tantangan besar, mengingat Indonesia saat ini menduduki posisi kedua tertinggi di dunia dalam jumlah kasus TBC, setelah India.

Wakil Menteri Kesehatan, Prof Dante Saksono Harbuwono, menyampaikan Indonesia diperkirakan mencatat sekitar 1,09 juta kasus TBC baru setiap tahunnya. Meski demikian, hingga tahun ini, pemerintah telah berhasil mengidentifikasi sekitar 900 ribu kasus.

"Tantangan utama kita saat ini bukan hanya deteksi, tetapi memastikan pasien yang sudah teridentifikasi benar-benar menjalani pengobatan hingga tuntas," ujar Prof Dante dalam forum Public Hearing bertajuk 'Negara Beri Bukti, Masyarakat Terima Hasil', Rabu (28/5/2025), demikian dikutip laman Kemenkes.

Ia menambahkan, durasi pengobatan TBC yang semula memakan waktu enam hingga sembilan bulan kini dapat disingkat menjadi hanya enam bulan, berkat penyediaan obat yang lebih efisien oleh pemerintah.

Peran kader TBC menjadi sangat krusial dalam memastikan keberhasilan pengobatan pasien. "Kader bertugas mendeteksi kontak erat pasien di lingkungan sekitar, termasuk keluarga. Setelah itu, pasien akan langsung diarahkan untuk memulai pengobatan," jelas Prof Dante.

Upaya ini sejalan dengan target nasional menurunkan prevalensi TBC melalui deteksi dini dan edukasi pentingnya menyelesaikan pengobatan secara konsisten.

Menurut Prof Dante, pengendalian TBC tidak bisa dilakukan secara terpisah oleh negara saja. "Keterlibatan lintas sektor, khususnya masyarakat melalui kader TBC, menjadi bagian dari strategi utama kita," tegasnya.

Selain penguatan kader, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan pada 10 Februari 2025 juga menjadi senjata penting dalam mendeteksi penyakit lebih awal. Dalam kurun waktu kurang dari lima bulan, program ini telah menjangkau lebih dari 6,9 juta warga di berbagai wilayah.

Sebelum adanya program ini, hanya sekitar 39,8% masyarakat yang rutin memeriksakan kesehatannya. Sisanya, 60,2% belum pernah melakukan pemeriksaan sama sekali, yang membuka risiko keterlambatan diagnosis berbagai penyakit kronis seperti gagal ginjal, jantung, diabetes, dan kanker.

"Dengan pemeriksaan dini, anak-anak kita bisa tumbuh sehat secara fisik dan mental. Ini adalah investasi jangka panjang untuk Indonesia Emas 2045," tutur Prof Dante.

Program CKG juga menyasar kelompok rentan seperti bayi, balita, dan pelajar. Salah satu penerima manfaat program, Indri Meti, menyampaikan apresiasinya terhadap layanan ini.

"Lewat CKG, saya jadi tahu kondisi kesehatan saya, mulai dari tekanan darah, jantung, sampai kesehatan gigi. Terima kasih kepada pemerintah," katanya.

Sementara itu, Kepala Komunikasi Kepresidenan PCO, Hasan Hasbi, menjelaskan bahwa forum Public Hearing digelar sebagai wujud transparansi dan ruang dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat. "Kami memfasilitasi pertemuan langsung antara penerima manfaat dan pembuat kebijakan agar masukan dari lapangan bisa langsung ditindaklanjuti untuk penyempurnaan program," ujar Hasan.

Ia juga menegaskan forum ini penting untuk mengklarifikasi informasi di masyarakat dan memastikan program pemerintah dipahami serta dijalankan secara optimal.

Dengan sinergi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat, pemerintah optimistis upaya pemberantasan TBC dan promosi hidup sehat dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan menuju Indonesia yang lebih sehat.

Editor: Gokli